kadiv humas polri irjen dedi prasetyo
kadiv humas polri irjen dedi prasetyo

Jalankan Arahan Presiden, Polri Siapkan Pembinaan Cegah Anggota-Keluarga Undang Penceramah Radikal

Jakarta – Radikalisme telah menjadi ancaman yang serius bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, paham radikal yang tumbuh di Indonesia harus dileyapkan meski tidak mudah, namun kerja keras semua pihak akan dapat meminimalisir paham-paham radikal yang ingin merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Presiden Joko Widodo dalam Rapim bersama TNI-Polri mengingatkan bahwa demokrasi tidak dapat dijadikan alasan untuk mengundang semua penceramah tanpa tahu latar belakangnya, karena jika salah yang diundang maka akan menjadi bumerang. Tidak dapat dipungkiri bahwa penyebaran paham radikal juga dapat menyasar siapa saja termasuk aparat keamanan, oleh karena itulah presiden Jokowi menyatakan secara tegas agar TNI-Polri bersih dari paham radikal.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta anggota TNI-Polri atau keluarganya untuk tidak mengundang penceramah yang berpaham radikalisme. Atas arahan tersebut, Polri menyatakan akan melakukan pembinaan bagi para anggota beserta istrinya.

“Ya itu juga bagian yang ditindaklanjuti (membuat pembinaan terhadap anggota dan istri anggota Polri),” kata Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo saat dikonfirmasi, seperti dikutip dari laman detik.com Rabu (2/3/2022).

Dedi menyebut pembinaan itu dalam rangka mencegah penyebaran paham radikalisme di kalangan anggota Polri. Bagi anggota Polri yang kedapatan melanggar akan langsung ditindak tegas oleh Divisi Propam Polri.

“Karena ini untuk kebaikan bersama dan memitigasi sebaran paham-paham radikalisme. Apabila terbukti ada yang dilanggar maka Propam akan menindak tegas anggota-anggota,” ujar Dedi.

Sebelumnya, Jokowi mewanti-wanti istri anggota TNI-Polri agar tidak asal memanggil penceramah. Menurut Jokowi, kegiatan itu harus dikoordinasi oleh kesatuan masing-masing.

“Ini bukan hanya bapak-bapak atau ibu-ibu yang bekerja, tetapi yang di rumah juga sama. Hati-hati, ibu-ibu kita juga sama, kedisiplinannya harus sama. Nggak bisa, menurut saya, nggak bisa ibu-ibu itu memanggil misalnya, ngumpulin ibu-ibu yang lain, memanggil penceramah semaunya, atas nama demokrasi. Sekali lagi, di tentara, di polisi, nggak bisa seperti itu. Harus dikoordinir oleh kesatuan,” imbuh Jokowi.

Baca Juga:  Agama Pedoman Perdamaian dan Anti Kekerasan

Jokowi meminta hal-hal detail seperti itu diperhatikan oleh kesatuan di TNI-Polri. Jokowi tidak ingin ada anggota TNI-Polri atau keluarganya mengundang penceramah yang radikal.

“Kesatuan harus koordinir hal-hal kecil-kecil tadi yang saya sampaikan, makro dan mikro. Ini mikronya harus kita urus juga. Tahu-tahu mengundang penceramah radikal, nah kan nggak bisa begitu,” ujar Jokowi.

Pernyataan itu disampaikan Jokowi saat menyampaikan sambutan dalam rapim TNI-Polri, Selasa (1/3/2022). Jokowi kala itu berbicara tentang demokrasi dan kultur di TNI-Polri.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

raker penyelenggaraan ibadah haji

Menteri Agama Yaqut Cholil Quomas Minta Santri Semangat Menuntut Ilmu Dan Lawan Kebencian Terhadap Santri Dengan Prestasi

Jakarta – Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas meminta kepada para santri untuk terus menuntut ilmu secara sungguh-sungguh, …

Sarasehan Penguatan Moderasi Beragama BNPT dan UMY

Cegah Virus Radikal Terorisme di Sekolah, BNPT Perkuat Moderasi Beragama Guru SMA/SMK se-DIY

Yogyakarta – Generasi Z dan generasi milenial antara usia 14-39 tahun menjadi generasi yang paling …