Jihad adalah upaya sungguh-sungguh yang menuntut totalitas. Seorang berjihad adalah mengerahkan upaya secara total baik dalam bentuk tenaga, pikiran, harta dan jiwa. Tidak perlu lagi kata total, karena jihad adalah totalitas.
Pada jumat 21 Februari, Massa Persaudaraan Alumni (PA) 212 untuk kesekian kalinya menghiasi jalanan di ibu kota. Kali ini mereka menggelar demonstrasi di sekitar Tugu Patung Kuda, Jakarta Pusat, dengan isu utama demo anti korupsi.
Secara subtansi demo ini memang cukup keren karena mulai isu-isu sosial keadilan mulai diteriakkan. Tidak seperti sebelumnya masih seputar penistaan agama dan dukungan calon di pilpres. Kali ini sangat berbeda.
Namun, tanpa mengecilkan subtansi demo ini ada sedikit yang menggelitik dari orasi sang orator yang menggebu-gebu di atas mobil komando. Sang orator meneriakkan siap jihad total apabila mendapat komando dari Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab.
“Siap berjihad saudara? Jihad secara konstitusional. Tetapi kalau Habib Rizieq Shihab mengatakan jihadfiisabilillah, jihad total, maka kita sami’na waato’na, akan mengikuti beliau,” Begitulah kira-kira sang orator dengan semangat membakar semangat massa.
Apa yang ingin disampaikan dari orasi tersebut seolah saat ini mereka sedang melakukan jihad konstitusional. Tetapi, muncul narasi jihad total diletakkan dengan kata “tetapi” jika Habib Rizieq Shihab mengatakan jihadfiisabilillah, jihad total”. Artinya, seolah jihad total berarti kelanjutan dari jihad konstitusional atau tidak konstitsuional?
Tanpa mengambil pusing dengan istilah baru jihad total tersebut, tetapi sesungguhnya jihad adalah menuntut totalitas. Seorang berjihad adalah mengerahkan upaya secara total baik dalam bentuk tenaga, pikiran, harta dan jiwa. Tidak perlu lagi kata total, karena jihad adalah totalitas.
Namun, jika yang dimaksudnya jihad total artinya melakukan seluruh bentuk jihad mulai dari tenaga, pikiran harta dan bahkan jiwa berarti adalah ajakan bentuk jihad secara menyeluruh. Lalu, bagaimana prakteknya yang ingin dilakukan?
Cara Berjihad secara Kaffah
Jihad sekali lagi tidak hanya bermakna perang. Apalagi disempitkan jihad total berarti perang total. Jihad adalah suatu kewajiban yang terus menerus hingga akhir hayat umat Islam. Jika jihad hanya dimaknai “perang” berarti jihad telah tidak ada ketika kondisi damai.
Secara bahasa, jihad bersumber dari kata Jahada yang berarti kemampuan, kesusahan. Kata Ijtihad berasal dari kata jahada yang artinya mengerahkan upaya apakah melalui tangan, lidah atau alat yang bisa membantu untuk mewujudkan upaya itu. Oleh karena itu seorang mujtahid adalah orang yang telah berusaha untuk mengeluarkan tenaganya untuk mendapatkan sesuatu.
Di sinilah penting melihat makna jihad secara kaffah atau menyeluruh. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Zaadul Ma’ad memberi empat tingkatan dalam jihad.
- Jihad melawan hawa nafsu
- Jihad melawan syetan
- Jihad melawan orang kafir dan munafik
- Jihad melawan kemungkaran dan orang dzalim.
Empat tingkatan ini memberikan pelajaran bagi kita bahwa sejatinya ladang jihad itu sangat luas. Karena itulah, umat Islam mempunyai kesempatan yang besar untuk menjadi mujahid dan pembela agama sesuai dengan kadar kemampuan, waktu dan tempat masing-masing.
Membela Islam harus melihat kemampuan diri dan kondisi. Sangat tidak tepat apabila umat Islam mengatakan membela Islam dengan perang di tengah kondisi damai dengan berdalih jihad. Itulah salah satu kesalahan dalam diri umat dengan semangat membela Islam, tetapi dengan pengetahuan yang dangkal.
Dalam prakteknya, umat Islam seringkali diperdaya dengan kalimat-kalimat membela Islam dalam konteks yang tidak tepat. Menggiring umat dalam kepentingan tertentu menjadi sangat rentan dilakukan apabila umat Islam tidak memiliki pengetahuan keagamaan yang cukup.
Umat Islam setiap hari terus -menerus melakukan jihad dengan kapasitas dan kondisi masing-masing. Jihad mencari ilmu, jihad mengamalkan ilmu, jihad berdakwah, jihad bekerja, jihad melawan hawa nafsu, jihad dengan harta, jihad dengan lisan untuk mengatakan kebenaran dan jihad dengan tangan melawan orang yang melawan terlebih dahulu terhadap Islam.
Namun, jihad dengan tangan dalam arti perang butuh instruksi pemimpin wilayah. Tidak sembarangan meneriakkan perang seperti yang salah ditafsirkan. Penting bagi umat saat ini jihad melawan ego dan kepentingan serta jihad melawan kebodohan.
Islam Kaffah Media Pembelajaran Islam Secara Kaffah