salam
salam

Keimanan dan Perdamaian adalah Satu Paket

Islam adalah agama yang sangat mengedepankan dan menjunjung tinggi perdamaian dan harmoni. Dalam Islam, keimanan dan perdamaian adalah satu paket. Menjadi berislam dan beriman berarti menjadi sosok yang menjaga perdamaian.

Kata Islam yang berarti berserah diri kepada Allah berasal dari akar kata salam yang artinya perdamaian. Seluruh ajaran Islam juga diarahkan pada tujuan syariat dalam rangka membangun perdamaian dengan menjaga agama (hifdz ad-din), akal (hifdz al-aql), nyawa (hifdz an-nafs), harta (hifdz al-mal) dan keturunan (hifdz an-nasl).

Bukan hanya persoalan ubudiyah (hal peribadatan) yang menyangkut hubungan Tuhan dan manusia, Islam juga mengatur tata pola pergaulan antar sesama manusia (mu’amalah). Dalam banyak hal, etika pergaulan ini diletakkan sama sebagai suatu ibadah yang bernilai perintah. Karena perintah atau ajaran, etika ini berarti juga mengandung konsekuensi hukum berupa dosa dan pahala.

Bahkan kalau kita rajin memeriksa banyak dalil, etika pergaulan Islam seringkali disebutkan sebagai eksrpesi keimanan, bahkan penyempurna keimanan. Banyak sekali ditemukan, misalnya, tidak akan beriman atau tidak sempurna keimanan seseorang sebelum mencintai, menghormati dan lain sebagainya. Hal ini membuktikan bahwa Islam sangat concern atau memiliki perhatian besar terhadap perilaku sosial untuk menciptakan kerukunan dan perdamaian.

Dengan mempertimbankan hal tersebut, sebetulnya Islam merupakan agama yang tidak memisahkan hubungan erat antara ibadah dan sosial, antara keimanan dan perdamaian. Artinya, jika kita ingin dikatakan orang Islam yang beriman dan yang taat berarti bukan sekedar rajin beribadah dan rajin berdzikir, tetapi rajin membangun dan mengembangkan lingkungan sosial yang adil, aman dan damai.

Pilar Keimanan dan Perdamaian dalam Islam

Bagaimana mewujudkan keimanan dalam bentuk perdamaian itu? Ada banyak hal yang diberikan contoh dalam Islam untuk mengekspresikan keimanan dalam bentuk membangun benih perdamaian. keimanan dan perdamaian tidak bisa dipisahkan.

Ada beberapa kunci ajaran dalam Islam yang menunjukkan keimanan dan perdamaian sebagai satu paket.

Pilar Pertama: Saling mencintai

Aspek paling penting dalam membangun perdamaian dan kerukunan adalah perasaan saling mencintai dan mengasihi. Ketika seseorang memiliki cinta dan kasih sayang, tidak ada alasan baginya untuk melakukan kejahatan dan keburukan kepada orang yang dicintai.

Orang yang bilang cinta tidak akan mungkin menggunjing, memfitnah, mencelakai apalagi melukai orang yang dicintai. Artinya, perdamaian itu dimulai dari mencintai.

Nabi mengajarkan  ‘Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencitai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri,”( HR Bukhori). Sungguh indah kata-kata dan hikmah ini. Mencintai seseorang harus diekspresikan sebagaimana dia mencintai diri sendiri. Jika kamu tidak mau terluka jangan lukai saudaramu. Jika kamu tidak mau dibully, maka jangan bully saudaramu.

Inilah adab agung Islam yang diajarkan Nabi bagaimana saling mencintai. Jika satu pilar ini saja dipraktekkan tidak akan kita temukan kejahatan, keburukan dan kerusakan di sekitar kita. Jika semua orang sudah saling mencintai sebagaimana dia mencintai dirinya niscaya pergaulan sosial akan penuh cinta dan kasih sayang. Ingat, cinta adalah ekspresi keimanan seorang hamba.

Pilar Kedua : Saling menghormati

Dalam pergaulan sosial kadang kita bertemu dengan orang lain baik yang tidak dikenal maupun sudah dikenal, baik sama keyakinan dan identitas maupun yang berbeda. Dalam berinteraksi yang serba beragam apakah umat Islam harus menyendiri dan mengisolasi diri?

Umat Islam harus terbuka dalam pergaulan. Adab yang diajarkan oleh Nabi dalam interaksi seperti itu adalah saling menghormati dan memuliakan. Dengan sikap saling menghormati kita akan dijauhkan dari sikap merendahkan apalagi mendzalimi orang lain.

Kepada siapa kita harus menghormati? Nabi bersabda: Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya dia memuliakan tetangganya, “Barangsiapa yang beiman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya dia mengatakan hal yang baik, atau hendaknya dia diam. (HR Muslim).

Ada dua hal yang menjadi pelajaran dari hadist tersebut. Pertama, bahwak menghormati dan memuliakan adalah ekspresi keimanan. Sikap menghormati adalah sikap yang harus dimiliki oleh orang yang merasa beriman atau belajar beriman.

Kedua, objek penghormatan dicontohkan Nabi adalah tamu dan keluarga mengandung pengertian aktor di dalam pergaulan sosial. Tamu dan tetangga sangat beragam tidak hanya mereka yang sama keyakinan tetapi juga mereka yang berbeda keyakinan, agama, ras dan suku.

Intinya, jika kamu merasa diri sebagai orang beriman tidak akan lengkap keimanannya sebelum bisa menghormati tamu, tetangga, dan orang lain yang berbeda-beda dalam pergaulan. Bayangkan bagaimana jika adab agung ini dipraktekkan oleh umat Islam dalam pergaulan sehari-hari niscaya tidak akan ada permusuhan sesama tetangga dan dalam lingkungan yang lebih besar antara masyarakat dalam Negara karena perbedaan.

Ingatlah sekali lagi, kunci perdamaian kedua adalah menghormati. Ciri orang beriman adalah saling menghormati dan memuliakan siapapun mereka dan apapun agamanya.

Pilar Ketiga: Saling tolong-menolong

Prinsip berikutnya dalam pergaulan sosial adalah saling tolong-menolong dalam kebaikan, bukan dalam hal dosa dan keburukan. Allah berfirman dalam Qur’an : Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (QS: al-Mâidah:2).

Membantu yang lain yang lemah harus dilakukan dengan kapasitas masing-masing. Orang berilmu membantu orang lain dengan pengetahuannya, orang kaya membantu orang miskin dengan hartanya, pemimpin membantu rakyatnya dengan kekuasaannya.

Prinsip tolong-menolong yang diajarkan oleh Islam adalah dalam hal kebaikan, bukan keburukan. Jika kita ikhlas memberikan pertolongan dan kemudahan, jangan khawatir Allah akan membukakan jalan pertolongan dan kemudahan bagi kita. Inilah janji Allah kepada umat Islam yang selalu mengedepankan sikap saling tolong menolong.

Nabi Muhammad bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim).

Pilar Keempat: Saling berlomba dalam kebaikan

Dalam kehidupan kita tentu saja tidak hanya akan menemukan keselarasan dan persamaan. Perbedaaan adalah sunnatullah yang sengaja Allah ciptakan agar manusia saling mengenal satu sama lain. Dalam menghadapi perbedaan itulah, Islam mengajarkan ibadah sosial untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Allah Berfirman : Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Dimana  saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al Baqarah : 148)

Umat Islam tidak boleh larut dalam pertengkaran karena perbedaan. Jangan keunggulan orang lain menjadi dasar untuk berbuat iri, dengki dan hasut. Perbedaan adalah semangat bagi umat untuk selalu berlomba untuk meraih kebaikan. Apa kebaikan yang harus kita raih? Berlomba mencari ridho Allah, berlomba dalam ketaatan kepada Allah, dan berlomba untuk selalu memberikan manfaat kepada seluruh manusia.

Pilar Kelima: Persatuan dan Persaudaraan

Baik dalam perbedaan dan perlombaan di ruang pergualan akan menyisakan gesekan. Perbedaan dan keunggulan akan memisahkan manusia secara alamiah untuk selalu berkelompok. Namun, dalam perbedaan itulah, ibadah pergaulan dalam Islam menegaskan pentingnya persatuan dan persaudaraan.

Allah berfirman : “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kamu berfirqah-firqah (bergolong-golongan), dan ingatlah akan ni’mat Allah atas kamu tatkala kamu dahulu bermusuh-musuhan maka Allah jinakkan antara hati-hati kamu, maka dengan ni’mat itu kamu menjadi bersaudara, ….” (QS.Ali ‘Imran:103).

Ayat ini menegaskan juga pentingnya menjaga persatuan dan persaudaraan dengan menjauhkan permusuhan dan terpecah belah. Kerusakan manusia masa lalu karena mereka larut dalam fanatisme yang berlebihan terhadap kelompok. Ketika Allah sudah menjadi rasa persaudaraan dan berjamaah, mara umat Islam harus merawat persatuan tersebut.

Dalam konteks bernegara, Allah telah mentakdirkan Negara ini dengan kekayaan keragaman dalam berbagai aspek. Bangsa ini pun telah terikat dalam persaudaraan seiman dan sebangsa dan setanah air. Persatuan dan persaudaraan ini harus terus dijaga. Permusuhan dan kebencian antar sesama adalah perusak persatuan yang harus dihindari.

Dalam konteks menjaga persatuan dan persaudaraan inilah, umat Islam harus tetap teguh untuk memegang etika pergaulan yang bernilai ibadah tersebut. Dengan tetap saling mencintai, saling menghormati, saling tolong-menolong, saling berlomba-lomba dalam kebaikan akan mengukuhkan eratnya persaudaraan dan persatuan.

Wallahu a’lam

Bagikan Artikel ini:

About Syukron Katsir

Check Also

hanya mendapat haus dan lapar

Ini Untungnya di Rumah Saja untuk Kesempurnaan Puasa Ramadhan

Secara bahasa berpuasa (shiyam) berarti menahan (imsak). Perbuatan menahan diri terhadap melakukan aktifitas apapun disebut …

islam didzalimi

Islam Terdzalimi di Tengah Pandemi?

Negara manapun tengah menyesuaikan berbagai kebijakan untuk mengantisipasi wabah pandemi covid-19. Tidak hanya aktifitas sosial …