Kisah Shamsi Ali Memerangi Islamofobia Di Amerika

0
1502
shamsi ali islamofobia
sumber foto: republika

Shamsi Ali, Imam Besar Masjid New York, memberikan contoh baik dalam melawan islamofobia dengan meneladani akhlak Rasulullah.


Mungkin sosok Shamsi Ali tidak begitu familiar di kalangan umat Islam Indonesia. Terus terang penulis juga baru mengetahui informasi tentang Ulama Islam dan Imam besar masjid terkenal di New York City, Amerika Serikat asal Indonesia ini setelah mengikuti pengajian umum memperingati Isra’ dan Mi’raj di Kalimantan Barat  yang disampaikan oleh KH. Zuhri Zaini pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Probolinggo.

Shamsi Ali merupakan ulama Tafsir dan Ilmu Perbandingan Agama yang fasih berbicara bahasa Inggris, Arab dan Urdu sekaligus Imam Besar Masjid  Al Hikmah, Masjid terbesar di Amerika,  di  96th Street dan 3rd AV Manhattan, New York. Beliau menjadi salah satu orang yang paling berjasa dalam menyebarkan Islam damai pasca serangan teroris 11 September 2001. Shamsi juga seorang Direktur Jamaica Muslim Center di Queens.

Ada satu kisah menarik dari sosok Shamsi Ali. Kisah yang telah ia ceritakan pada Thalk Shaw di stasiun TV Kompas dan beredar di Youtube. Suatu hari, ketika ia sedang berada di Masjid tempat ia diangkat sebagai Imam besar, datang seorang non muslim menemuinya.

Tak dinyana, orang tersebut memaki-maki Nabi Muhammad dan mengatakan baginda Nabi sebagai sosok pembawa bencana. Sumpah serapah dan penghinaan kepada baginda Nabi begitu pedas terdengar di telinganya.

Sosok non-muslim ini mungkin juga tergambar bagi masyarakat Barat pada umumnya yang mengidap islamofobia. Mereka beranggapan bahwa Islam sebagai sumber bencana. Islam adalah sumber malapetaka dan terorisme. Kata-kata penghinaan terhadap Rasulullah keluar ringan dari mulut orang tersebut.

Walaupun penghinaan itu ditujukan kepada Rasulullah, sebagai seorang muslim tentu Shamsi sangat marah. Untungnya beliau masih bisa menahan diri. Dalam benaknya ia mengandaikan, apa yang akan dilakukan Rasulullah jika saat itu beliau yang ada di situ.

Otak dan pemhaman sempurna Shamsi Ali tentang sejarah Nabi membuat suatu kesimpulan, kalau saja Rasulullah dicaci demikian pasti tidak akan marah. Sebab itulah, ia membiarkan non muslim itu berbicara sekehendak kemauannya mencaci Islam dan Rasulullah.

Seminggu berlalu, Shamsi Ali mendatangi non-muslim tersebut. Sambil tersenyum ia meminta maaf atas kejadian minggu lalu. Kontan saja orang itu terkejut dan tidak menduga sama sekali. Tiba-tiba ia berubah drastis, yang awalnya sangat anti terhadap Islam kini malah sangat simpati.

Tentu saja, sebabnya tidak lain karena kehadiran Shamsi Ali yang meminta maaf, bahkan tak terkesan menyimpan dendam. Non muslim tersebut menemukan kenyataan baru, bahwa Islam tidak seperti yang dibayangkannya. Islam tidak seperti dalam narasi islamofobia.

Pada akhirnya iapun mulai tertarik mempelajari Islam. Hidayah turun dan ia memeluk Islam tanpa ada yang mengajaknya, tanpa paksaan dan atas kesadarannya sendiri. Demikianlah Syamsi Ali berhasil mempraktekkan Islam dengan akhlak yang terpuji sebagaimana Rasulullah mengajarkannya.

Bisa dibayangkan andai pada saat non muslim itu marah-marah dengan segudang amuk caci maki terhadap Islam dan Nabi Muhammad dibalas caci maki pula oleh Shamsi Ali. Maka tentu anggapannya tentang agama Islam semakin tidak karuan.

Melawan Islamofobia dengan Akhlak: Belajar dari Rasulullah

Kisah ini mengingatkan kita pada kisah Rasulullah saat dibenci oleh seorang Yahudi. Suatu ketika, orang-orang kafir Quraisy menyewa seorang Yahudi untuk menyakiti Nabi Muhammad. Si Yahudi menunggu Nabi lewat di jalan yang biasa beliau lewati menuju Ka`bah.

Pada saat Nabi lewat, ia memanggil Nabi. Pada saat beliau menoleh maka si Yahudi meludahi wajahnya. Penghinaan semacam ini tidak membuat Rasul marah. Sedikitpun beliau menunjukkan tanda-tanda akan marah.

Penghinaan itu berlanjut keesokan harinya. Peristiwa yang sama dan di tempat yang sama terulang lagi. Beliau diludahi seperti hari sebelumnya. Namun sikap Nabi juga tidak berubah, sama seperti hari pertama, beliau tidak marah. Peristiwa itu berulang di hari ke tiga, ke empat dan terus berulang selama beberapa hari.

Pada suatu hari Nabi heran karena pada hari itu beliau tidak mengalami kejadian seperti hari-hari sebelumnya. Orang Yahudi yang biasanya selalu meludahinya tidak ada. Beliaupun mencari informasi tentang keberadaannya. Berdasar informasi orang-orang sekitar, ternyata orang tersebut sedang sakit.

Bukan malah menyoraki atau dendam, Nabi bahkan bermaksud menjenguknya. Beliau pun memutar arah pulang ke rumah untuk mengambil makanan dan membeli buah-buahan. Setelah itu, Rasulullah mendatangi rumah orang Yahudi itu, mengetuk pintu. Begitu pintu terbuka, si Yahudi terkejut bukan kepalang menyaksikan siapa yang datang pertama kali menjenguknya.

Terenyuh hati si Yahudi saat itu. Bagaimana tidak? Sejak jatuh sakit, belum ada seorang pun datang menjenguk, termasuk Abu Jahal yang telah menyewanya untuk menyakiti Nabi. Sekalipun ia telah mengirim seseorang untuk memberi tahu keadaannya, Abu Jahal dan kawan-kawannya tetap tidak menampakkan batang hidungnya.

Saking terharunya Ia kemudian memeluk Rasulullah dan dari mulutnya lirih terdengar kata maaf atas perbuatannya selama ini. Hingga pada akhirnya ia memeluk Islam. Tanpa diminta dan tanpa diajak oleh Nabi.

Inilah sebuah kisah sama bagaimana kebencian terhadap Islam dan islamofobia bukan dilawan dengan kebencian yang sama apalagi dengan kekerasan. Terkadang islamofobia juga terdorong karena ketidaktahuannya tentang Islam.

Dua kisah di atas juga memberikan contoh bagaimana islamofobia dilawan dengan akhlakul karimah. Islamofobia yang diidap oleh sebagian dunia Barat harus dilawan dengan perangai muslim dengan mencontoh akhlakul karimah Nabi. Akhlakul karimah adalah bentuk dakwah mengenalkan Islam dengan sangat cerdas dan mampu menghapus islamofobia.