sirah nabi
nabi

Manfaat Majelis Maulid Nabi yang Jarang Dipahami

Nabi Muhammad hanyalah seorang manusia biasa yang dutus oleh Allah untuk membenarkan dan menyempurnakan agama-agama samawi yang terdahulu. Meskipun manusia biasa layaknya manusia lainnya, beliau mempunyai kelebihan dan keistimewaan. Dalam al-Quran, Allah berfirman, “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Ahzab: 40).

Beliau adalah orang terpilih sebagai penutup para Nabi. Sosok yang istimewa sebagai penutup risalah kenabian sejak dari Nabi Adam. Karena itulah, kelahirannya dianggap kejadian yang tidak biasa saja. Di dalam Al-Quran, Allah SAW menyatakan kedatangan sosok Nabi Muhammad sebagai karunia bagi hamba-hamba-Nya, kabar gembira, dan rahmat bagi seluruh alam. Karena itulah, alam pun menyambut dengan gembira akan kelahiran Nabi akhir zaman.

Kelahiran Nabi Muhammad jatuh pada 12 Rabiulawal tahun Gajah dan biasa disebut dengan Maulid Nabi. Pada tahun ini jatuh pada 8 Oktober 2022. Maulid nabi banyak dirayakan oleh umat muslim di seluruh dunia. Tentu saja, perayaan ini merupakan wujud syukur, kecintaan dan kerinduan umat muslim karena lahirnya seorang Nabi yang juga seorang utusan pembawa kebenaran.

Bentuk syukur karena dengan kehadirannya yang dipilih oleh Allah manusia saat ini mengenal Islam. Jika Islam adalah anugerah terbaik, keberadaan Nabi Muhammad adalah rahmat yang diberikan Tuhan kepada seluruh semesta. Tentu rasa syukur itu harus terus disampaikan.

Namun sayangnya, semakin dekat peringatan hari kelahiran Nabi, banyak golongan yang semakin bersuara tentang hukum bid’ah perayaan maulid. Alasannya, karena tidak ditemukannya satu dalil pun yang menunjukkan disyari’atkannya maulid Nabi setelah sempurnanya Islam.

Lantas mengapa ada larangan bagi muslim untuk merayakan kelahiran Rasulullah sebagai manusia yang memiliki manfaat dan sebagai manusia mulia yang secara spesial diutus oleh Allah untuk menyampaikan risalahnya. Kita saja terkadang merayakan kelahiran anak kita, kelahiran tokoh tertentu, bahkan kadang kelahiran sang raja. Kenapa merayakan syukur kelahiran Nabi menjadi persoalan? Karena tidak ada dalil?

Logikanya sebelum dijawab dengan dalil adalah rasa cinta dan syukur terhadap kelahiran Nabi sudah banyak dalilnya. Cinta terhadap Nabi adalah sarana syafaat juga banyak dalilnya. Sangat banyak dalil tentang itu. Bahkan Nabi sendiri selalu mengingat kelahirannya dengan puasa juga terdapat dalilnya. Lalu dalil apalagi? Apakah karena tidak ada eksplisit tentang cara dan bentuk perayaan maulid?

Persoalan cara dan bentuk adalah tergantung pada kondisi dan zaman. Menutup aurat saja sebagai kebaikan, tetapi cara menutup aurat juga tergantung kondisi dan zaman seseorang cara dan mode berpakaian. Begitu mencintai Nabi melalui memperingati kelahirannya adalah dengan banyak cara. Kenapa car aitu menjadi persoalan? Kenapa kita tidak fokus pada fungsinya?

Manfaat dan fungsi peringatan Maulid Nabi jika kita mampu meresapinya memiliki banyak nilai. Pertama, yakni sebagai pegingat kembali ahlak kenabian yang sudah seharusnya menjadi tolok ukur kita dalam berperilaku.

Di dalam Majelis Maulid, banyak sekali pembahasan-pembahasan mengenai keteladanan perilaku Rasulullah seperti akhlak jujur, amanah, dan cerdas. Jika seorang muslim memiliki mental seperti ini pastinya tidak akan banyak keburukan yang terjadi. Dalam perayaan itu ada pengajian dan pembelajaran sirah yang sudah lama tidak didengar umat Islam. Bukankah itu suatu majelis yang baik?

Allah menjadikan Nabi Muhammad sebagai teladan yang baik sekaligus sebagai syahid (pembawa berita gembira dan pemberi peringatan). “Sesungguhnya terdapat dalam diri Rasul teladan yang baik bagi yang mengharapkan (ridha) Allah dan ganjaran di hari kemudian dan dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab:2l).

Abbas Al-Aqqad, seorang pakar Muslim kontemporer menguraikan bahwa manusia dapat diklasifikasikan ke dalam empat tipe: seniman, pemikir, pekerja, dan yang tekun beribadah. Nabi Muhammad membuktikan mencapai puncak keempat macam manusia tersebut secara sempurna untuk diteladani.

Kedua, terlaksananya syiar Islam. “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.” (al-Hajj: 32). Maksud dari mengagungkan syiar-syiar Allah adalah memuliakannya, melaksanakannya, menyempurnakannya sesuai kemampuan hamba. Syi’ar merupakan tanda-tanda agama Allah yang nampak. Dengan mengagungkan syiar Allah merupakan bukti ketakwaan umat dalam hati.

Syiar merupakan hal yang sangat urgen dalam Islam dan dalam perayaan Maulid Nabi pastinya diisi dengan kegiatan tausiah Islam yang disampaikan oleh ulama. Agama Islam ini tidak akan bertahan apabila umatnya tidak mentradisikan  syiar-syiar agamanya, karena nilai dari agama akan banyak disampaikan sehingga umat muslim akan menjadi mengerti lebih jauh tentang agama.

Karena itu, jika dalam pelaksanaan Maulid Nabi ini mampu mendatangkan kebaikan bagi Islam, kenapa harus ada pelarangan di dalamnya? Bukankah Allah menyukai seorang hamba yang beriman dan senantiasa berakhlak baik?

Ketiga, terlaksananya majelis shalawat. Jangan pernah bilang cinta jika tidak pernah bershalawat kepada Nabi. Minimal majelis maulid adalah cara mentradisikan masyarakat untuk bershalawat. Jika majelis seperti itu dilarang bagaimana mentradisikan shalawat kepada manusia. Lalu, jika sudah ditemukan caranya bukankah itu nanti akan menjadi bid’ah baru lagi?

Karena itulah, persoalan Maulid sejatinya adalah ekspresi syukur dan cinta yang mampu mentradisikan umat Islam untuk selalu merasa rindu kepada Sang Baginda Nabi Muhammad Saw.

 

Bagikan Artikel ini:

About Novi Nurul Ainy

Avatar of Novi Nurul Ainy

Check Also

bekerja adalah bentuk jihad

Siklus Aktifitas Manusia itu Ibadah, Termasuk Bekerja adalah bentuk Jihad

Islam mendudukan manusia sebagai hamba yang diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Secara fitrah berarti manusia …

merasa paling suci

Merasa Paling Benar dan Suci adalah Sifat Iblis, Jahuilah!

“Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu …