terapi emosi
amarah

Marah Sumber Bencana, Ini Terapi Emosi Menurut Rasulullah

Pernahkah anda terjebak pada amarah yang memuncak? Diri menjadi sensitif dan pikiran hanya dipenuhi prasangka buruk. Sekeliling dilihat dengan aura negatif yang seolah dunia menjadi sempit. Marah adalah sumber bencana yang diakibatkan karena emosi negatif.

Sejatinya, emosi merupakan gejolak jiwa yang diekspresikan oleh manusia dalam tingkah laku. Munculnya emosi tidak selalu karena ekspresi rasa marah, namun juga karena ada perasaan senang dan juga takut akan sesuatu. Jelas semua manusia yang ada di bumi ini pastinya pernah merasakan luapan emosi seperti itu, karena emosi juga merupakan salah satu anugerah yang diberikan Allah kepada manusia. Emosi yang tidak bisa dikendalikan memunculkan amarah.

Setiap manusia pasti mengalami rasa marah, bahkan seorang Nabi sekalipun. Bahkan di antara kita pernah terjebak dalam amarah yang begitu memuncak karena faktor yang mendukungnya. Memang sifat marah merupakan tabiat yang tidak mungkin luput dari diri manusia, karena mereka memiliki nafsu yang cenderung ingin selalu dituruti dan enggan untuk diselisihi keinginannya. Namun, yang berbeda dari ekspresi setiap manusia ialah cara mengungkapkannya, tergantung persepsi, kondisi fisik, psikis, lingkungan dan kematangan emosional.

Tahukah kamu bahwa setan juga menggunakan emosi (marah) untuk menyeret manusia untuk mengikuti jalannya. Karena dengan rasa marah yang manusia miliki, ia bisa dengan mudah mencaci maki, mengucapkan kalimat buruk, bercerai, bahkan saling membunuh. Marah adalah luapan emosi yang sangat dibenci Allah dan Rasul-Nya.

Nabi Muhammad SAW secara tegas memberikan peringatan, “janganlah marah maka bagimu surga.” Jadi, memang manusia perlu berhati-hati dalam melampiaskan kemarahan karena akan mampu membakar diri dan juga orang lain. Manusia ketika marah akan bisa kehilangan kebijaksanaan dan kendali atas fikirannya. Saat marah jantung berdegup lebih kencang karena dipaksa kerja keras. Lambung juga bisa terkena dampaknya karena sensitif terhadap asam lambung yang berlebihan. Asupan oksigen ke kepala berkurang, bisa sulit tidur, stres sehingga melemahkan kekebalan tubuh.

Karena banyaknya dampak buruk yang bisa dirasakan karena efek dari rasa marah, manusia sudah seharusnya mampu melawan kemarahannya yang bersumber dari setan dan meredamnya karena Allah. Allah akan memuji umatnya yang mampu menahan amarahnya, Allah berfirman, “.. orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS Ali ‘Imran:134).

Selain itu juga terdapat hadist dari Muadz bin Anas Al-Juhani ra, Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki. (HR. Abu Daud dan Turmudzi).

Siapa manusia yang tidak bangga ketika dia dipanggil oleh Allah SWT di hadapan semua makhluk pada hari kiamat, untuk menerima balasan yang besar? Semua manusia dan jin menyaksikan orang ini, maju di hadapan mereka untuk menerima pahala yang besar dari Allah SWT. Pahala ini Allah SWT berikan kepada orang yang hanya sebatas menahan emosi dan tidak melampiaskan marahnya. Bisa kita bayangkan, betapa besar pahalanya, ketika yang dia lakukan tidak hanya menahan emosi, tapi juga memaafkan kesalahan orang tersebut dan bahkan membalasnya dengan kebaikan.

Terapi Emosi ala Rasulullah

Seorang mukmin yang terbiasa mengendalikan emosi amarah dalam semua keadaan, dia selalu dapat berkata dan bertindak dengan benar, karena ucapan dan perbuatannya tidak dipengaruhi oleh hawa nafsunya. Terjebak dalam amarah akan membuat diri kita kehilangan akal sehat, bahkan hati nurani. Karena itulah, kita harus belajar mengendalikan marah.

Sebagai sifat alami manusia yang wajar, marah bukan tidak bisa dikendalikan. Hanya butuh cara dan kebiasaan agar kitab bisa mengendalikannya. Amarah kapanpun akan muncul, karena itulah Rasulullah memberikan terapi emosi dalam mengendalikan amarah.

Pertama. Membaca ta’awudz.
Kita harus menyadari bahwa sumber kemarahan manusia adalah dari setan, sehingga godaannya bisa diredam dengan memohon perlindungan kepada Allah. Dari sahabat Sulaiman bin Surd radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, Suatu hari saya duduk bersama Rasulullah. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A’-uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua, diam dan kendalikan lisan
Ketika seseorang merasakan kemarahan, orang tersebut akan berbicara tanpa aturan. Sehingga bisa jadi dia bicara sesuatu yang mengundang murka Allah. Karena itulah, diam merupakan cara mujarab untuk menghindari timbulnya dosa yang lebih besar. Di saat kesadaran kita berkurang, di saat nurani kita tertutup nafsu, jaga lisan baik-baik, jangan sampai lidah mampu menjerumuskan manusia ke dasar neraka. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad)

Ketiga, segera berwudhu atau mandi.
Marah yang bersumber dari setan akan bisa kita redam jika kita melakukan wudhu atau mandi, setan terbuat dari api akan redam dan mati karena air. Dari Urwah As-Sa’di ra, yang mengatakan, “Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Meski wudhu diniatkan hanya untuk meredam emosi, namun hal ini bisa manusia lakukan sebagai terapi hanya dalam rangka meredam panasnya emosi dan marah. Dalam ilmu psikologi bahwa air yang dingin, bisa menurunkan darah bergejolak yang muncul ketika emosi. Sebagaimana ini bisa digunakan untuk menurunkan tensi darah tinggi. Karena itulah, di masa silam, terapi mandi digunakan untuk terapi psikologi.

 

Bagikan Artikel ini:

About Sefti Lutfiana

Mahasiswa universitas negeri jember Fak. Hukum

Check Also

Cheng Ho

Cheng Ho : Islamisasi Nusantara dari Perpaduan Islam dan China

Di Indonesia, sentimentasi anti China merupakan salah satu konstruksi sejarah paling kejam. Letupan besar dari …

dispensasi nikah

Dispensasi Nikah : antara Mencegah atau Mengafirmasi Pernikahan Dini?

Mengagetkan di Indramayu, terdapat ratusan anak di bawah umur kisaran usia 19 tahun mengajukan dispensasi …

escortescort