tasawuf rasulullah
tasawuf rasulullah

Menelisik Lebih Jauh Perjalanan Tasawuf Rasulullah

Bagi orang-orang yang mendalami ilmu Tasawuf atau yang lebih dikenal dengan kaum sufi, Nabi Muhammad saw. dinilai sebagai sosok mursyid (guru) tertinggi. Bagaimana tidak, Nabi Muhammad saw. sudah melalui perjalanan spiritual yang tidak dialami oleh nabi-nabi lainnya.

Nabi Muhammad saw. juga dijadikan sebagai suri tauladan (uswah hasanah) dalam perjalanan spiritual bagi mereka yang ingin menuju kepada yang Haq (Allah). Maka tidak heran jika setiap tindak tanduk dan akhlak beliau menjadi panutan bagi para pejalan ilmu spiritual.

Sebelum menjalani perjalanan tasawuf, sifat luhur dan keistimewaan spiritual sudah terlihat dari diri Nabi Muhammad saw. sebelum beliau diangkat menjadi nabi dan Rasul. Bahkan beliau terlahir dari keturunan terhormat Isma’il ibn Ibrahim yakni suku (bangsa) Quraisy.

Tidak hanya berhenti di situ saja, saat Nabi Muhammad lahir, tanda-tanda fisik kenabian pun sudah muncul diantaranya kedua pundaknya, wajah, serta bentuknya yang memancarkan sinar kejujuran dan kenabian.

Sebelum mengatakan peristiwa Isra’ Mi’raj yang dibenarkan oleh Abu Bakar As-Shidiq, kejujuran nabi Muhammad saw sudah terkenal semenjak ia menjadi seorang pedagang. Beliau tidak segan dan tidak takut rugi jika memberi tahu kondisi barang yang dijualnya terdapat cacat.

Adapun pengalaman sufistik yang selanjutnya adalah beliau bisa berbicara dengan benda-benda padat, doa-doanya selalu dikabulkan, membelah bulan, dan yang paling agung adalah memperoleh wahyu serta menjalani Isra’ Mi’raj untuk bertemu dan berdialog dengan Allah SWT.

Perjalanan spiritual dimulai saat Nabi Muhammad masih belia. Saat beliau berusia 4 tahun, Malaikat Jibril mendatangi Nabi yang sedang bermain bersama teman-temannya. Kemudian Malaikat membelah dada Nabi Muhammad lalu meletakkan hatinya ke dalam bejana emas.

Tidak lama, hati tersebut dibasuh Malaikat Jibril dengan air yang mulai yakni air zam-zam kemudian dikembalikan lagi ke dada Nabi muhammad. Peristiwa tersebut  terjadi sebanyak 4 kali yakni pada usia 10 tahun, sebelum menerima wahyu kenabian, dan terakhir sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj.

Sedangkan pada usia 40 tahun, Nabi Muhammad saw sering berkhlawat (menyendiri) di gua Hira. Hal tersebut bertujuan untuk menjauhi pergaulan masyarakat yang bisa menimbulkan berbagai penyakit hati seperti riya, sombong, ujub, hasud, dan lainnya.

Uzlah yang dilakukan Nabi Muhammad tersebut dilakukan menjelang beliau dinobatkan sebagai Rasul. Pelajaran yang bisa diambil dari perjalanan spiritual yang dilakukan Nabi tersebut antara lain bisa merasakan pengawasan Allah dan merenungkan setiap fenomena atau gejala alam semesta yang menjadi bukti dari keagungan Allah SWT.

Ketika uzlah beliau memasuki tahun ketiga, tepatnya di bulan Ramadhan, Allah menjadikan Muhammad sebagai Nabi. Malaikat Jibril turun dari langit mendatangi Nabi Muhammad dan membawa wahyu pertama.

Peristiwa tersebut terjadi pada hari Senin malam, 21 Ramadhan bertepatan dengan 10 Agustus 610 M. Pada saat itu, Nabi Muhammad tepat berusia 40 tahun, 6 bulan, 12 hari menurut kalender Hijriyah atau kurang lebih sekitar 39 tahun, 3 bulan, 20 hari Masehi.

Pada saat itu Malaikat Jibril mengatakan “Bacalah!”, namun Nabi menjawab jika ia tidak bisa membaca. Kemudian Malaikat Jibril memegang dan memeluk tubuh Nabi Muhammad sehingga beliau kehabisan tenaga. Setelah itu Malaikat Jibril melepaskannya dan kembali berkata “Bacalah!”

Nabi Muhammad mengatakan kembali jika ia tidak bisa membaca. Malaikat Jibril pun memegang Nabi dan merangkulnya hingga terasa sesak, kemudian melepaskannya lagi seraya berkata lagi “Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah”. (Al-‘Alaq: 1-3).

Nabi Muhammad yang dikenal dengan ummi atau tidak bisa membaca dan menulis dengan seizin Allah SWT mampu membaca itu. Pada saat itu lah, beliau diangkat sebagai sosok pembawa risalah agama Islam dan lewat lisan beliau menurunkan kitab suci Alquran sebagai pedoman umat muslim yang abadi hingga kini.

Sedangkan perjalanan sufistik Nabi Muhammad saw yang paling agung adalah beliau melakukan perjalanan suci dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa di Palestina, hingga naik ke Sidratul Muntaha di langit ke tujuh dalam satu malam.

Di tengah-tengah orang yang menganggap Nabi Muhammad gila karena mustahil melakukan perjalanan tersebut dalam waktu satu malam, Abu Bakar membenarkan persitiwa yang dialami oleh Nabi tersebut. Sehingga Abu Bakar mendapatkan gelar Ash-Sidiq.

Pada peristiwa tersebut dipercaya jika Nabi Muhammad saw. berdialog langsung dengan Allah SWT. yang mana peristiwa tersebut merupakan puncak perjalanan dalam ilmu spiritual tertinggi. Itulah perjalanan spiritual tau sufistik Nabi Muhammad saw. Wallahu a’lam bish-shawab.

Bagikan Artikel ini:

About Intan Ratna Sari

Avatar of Intan Ratna Sari

Check Also

cemburu dalam islam

Melihat Kecemburuan Aisyah, Bolehkah Cemburu dalam Islam ?

Perasaan cemburu merupakan ‘bumbu’ dalam rumah tangga agar hubungan suami istri lebih harmonis. Justru jika …

imam sibawaih

Mengenal Imam Sibawaih, Ulama yang Masuk Surga karena Kefasihan Ilmu Nahwu

Bagi yang mempelajari ilmu bahasa Arab, pasti sudah tidak asing dengan nama Abu Bisyr Amr …