syariat adzan
syariat adzan

Mengenal Syari’at Adzan (1) : Ketika Bumi Dibentengi Adzan

Menakjubkan! dan ini nyata bagi umat muslim di seluruh dunia. Melihat pada peta dunia, kita Indonesia berada di bagian Timur dari bumi ini. Pulau-pulau besar di Indonesia adalah Jawa, Sumatera, Kalimantan atau Borneo, dan Sulawesi atau Selibes.

Bermula dengan kumandang adzan Subuh di Timur Indonesia di kepulauan selibis pada jam 05:30. Beribu surau dan masjid bersautan mengumandangkan adzan. Proses ini berlanjut beriringan hingga ke bagian barat Indonesia.

90 menit kemudian saat adzan di Sulawesi selesai, adzan mulai di Jakarta, kemudian Sumatera dan sebelum proses suara menyenangkan itu berakhir di Indonesia, adzan mulai berkumandang di Malaysia. Kemudian di Burma sekitar 1 jam setelah Jakarta mulai adzan, kemudian berlanjut ke Dakka, ibukota Bangladesh.

Setelah Bangladesh, berlanjut ke bagian barat India, dari Calcuta sampai ke Bombay dan seluruh bumi India bergema oleh suara adzan ini.

Srinagar dan Sialkot, sebuah kota di bagian utara Pakistan memiliki waktu adzan yang sama. Perbedaan waktu antara Sialkot, Quetta dan Karachi adalah 40 menit dan dalam periode waktu tersebut adzan Subuh terdengar di seluruh Pakistan.

Sebelum selesai di Pakistan, adzan mulai di Afganistan dan Muscat. Perbedaan waktu antara Muscat dan Baghdad adalah 1 jam. Adzan berkumandang di Hijaaz al Muqaddas yang terdapat dua kota suci Mekkah dan Madinah, kemudian Yaman, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak. Perbedaan waktu antara Bagdad dan Alexandria di Mesir adalah 1 jam.

Kemudian adzan berlanjut ke Syiria, Mesir, Somalia, dan Sudan. Perbedaan waktu antara barat dan timur Turki adalah satu setengah jam.

Alexandria dan Tripoli, ibukota Libia memiliki perbedaan waktu 1 jam. Proses panggilan adzan berlanjut ke seluruh Afrika. Sehingga gaung gema proklamasi Tauhid ini yang telah dimulai dari Indonesia hingga akhirnya mencapai Pantai Timur dari Samudera Atlantik memakan waktu 9 jam 30 menit.

Baca Juga:  Apa Sebenarnya Arti Jumat Mubarok itu?

Sebelum adzan Subuh mencapai Samudera Atlantik, adzan Zuhur telah dimulai di bagian timur Indonesia, dan sebelum sampai di Dacca Bangladesh, adzan Ashar telah dimulai.

Setelah mencapai Jakarta dalam waktu satu setengah jam kemudian waktu maghrib sampai di Sulawesi. Saat muadzin di Indonesia mengumandangkan adzan Subuh, muadzin di Afrika mengumandangkan adzan Isya.

Menelisik fenomena adzan ini secara purna, akan memastikan sebuah kesimpulan suatu fakta yang menakjubkan, yaitu tidak ada sedetikpun waktu terlewat di dunia ini tanpa suara adzan dari muadzin di muka Bumi ini. Bahkan saat Saudara membaca artikel ini sekarang, yakinlah bahwa sedikitnya ada ribuan orang yang sedang mengumandangkan dan mendengarkan adzan.

Adzan itu terus berkumandang di muka Bumi dan langit ini selama-lamanya dan tiada henti-bersahutan selama 24 jam dalam sehari selama seminggu penuh, selama sebulan, sepanjang tahun, sampai hari akhir nanti Insya Allah, Subhanallah.

Sejarah Adzan

Adzan berawal dari mimpi Abdullah Ibn Zaid. Saat itu, Tatkala Abdullah diperintah Rasul untuk membunyikan Naqus (lonceng, gong, beduk) agar Para Shahabat berkumpul untuk Shalat berJamaah, maka malam harinya, ia bermimpi didatangi seorang lelaki dengan naqus di tangannya.

Abdullah kemudian bertanya kepada lelaki itu. “ apakah kamu hendak menjual naqus yang ada di tanganmu?” “untuk apa kaun ingin membelinya”. Lelaki itu balik bertanya. “untuk memanggil orang orang guna shalat berjamaah”. Jawab Abdullah. “Maukah kamu aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik dari naqus ini?!” lelaki itu mencoba memberi penawaran. “Ya. Aku Mau”. Jawab Abdullah. Lelaki itu kemudian mendiktekan beberapa kalimat sebagai berikut:

“Allahu akbar 2x

Allahu akbar 2x

Asyhadu an la ilaha illallah.2x

Asyahadu anna muhammadar rasulullah 2x

Baca Juga:  Anarkisme bukan Ajaran Islam dan Budaya Muslim

Hayya ‘alash shalah 2x

Hayya ‘alal falah 2x

Ash shalatu khairum minan naum 2x (khusus adzan Subuh)

Allahu akbar 2x

Lailaha illallah.

Pagi harinya, aku segera menemui Rasulullah dan menceritakan soal mimpiku. Rasul lalu berucap: “insyaallah mimpimu benar” temuilah Bilal Ibn Rabah, ceritakan mimpimu. Dan kumandangkanlah kalimat kalimat itu bersamanya. Karena Bilal suaranya melengking.

Ternyata Umar Ibn al-Khaththab bermimpi dengan mimpi yang sama dengan mimpi Abdullah Ibn Zaid. Maka segera pula ia menemui rasulullah, dan menyampaikan soal mimpinya itu. “Segala puji bagi Allah”. Gumam rasul. (HR. Abu Daud: 426).

Bagikan Artikel ini:

About Abdul Walid

Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo

Check Also

hewan yang haram

Fikih Hewan (1): Ciri Hewan yang Haram Dimakan

Soal halal-haram begitu sentral dan krusial dalam pandangan kaum muslimin. Halal-haram merupakan batas antara yang …

tradisi manaqib

Tradisi Membaca Manaqib, Adakah Anjurannya ?

Salah satu amaliyah Nahdhiyyah yang gencar dibid’ahkan, bahkan disyirikkan adalah manaqiban. Tak sekedar memiliki aspek …