poligami
poligami

Mengobati Penyakit dengan Penyakit : HIV/AIDS tidak Sesederhana Pemenuhan Seks

Tingginya penyakit HIV/AIDS di wilayah Jawa Barat memang tengah menyita perhatian publik termasuk pemerintah untuk mencari solusi jalan yang terbaik dalam pencegahan penyebarannya. Salah satunya Wagub Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum mencoba memberikan solusi dengan mengusulkan poligami dipermudah untuk menekan angka penularan HIV di Jawa Barat (30/8).

“Daripada seolah-olah dia (suami) tidak suka begitu, tapi akhirnya kena (HIV/AIDS) ke istrinya sendiri, toh agama juga memberikan lampu hijau asal siap adil kenapa tidak? Makanya, dari pada ibu kena (HIV/AIDS) sementara ketahuan suami seperti itu mendingan diberikan keleluasaan untuk poligami,” pungkas Uu.

Pada kenyataannya, penularan HIV/AIDS bukan semata-mata hanya karena seks bebas, melainkan juga karena suntikan bekas pakai penderita HIV, seorang ibu yang terinfeksi dan menularkan ke bayinya, dan juga transfusi darah. Tentu statemen kontorvesial hanya ingin menyelesaikan masalah dengan masalah baru atau mengobati penyakit dengan penyakit.

Kenapa? Poligami tidak sesederhana yang dibayangkan. Banyak masalah yang juga akan timbul baik secara kultural, norma dan implementasi syariah yang benar. Pada kenyataannya, justru poligami dijadikan legitimasi pemenuhan seksual lelaki saja tidak mempunyai ruh yang sama sebagaimana diajarkan Nabi. Mereka berdalih mengikuti sunnah, tetapi tidak mengikuti semangat sunnahnya.

Secara syariat memang dibolehkan, tetapi di negara Indonesia masih menjadi kontroversial dan bahkan tabu. Kenapa menjadi persoalan tabu karena seorang muslim memilih jalan poligami bukan karena tujuan poligami ala Rasulullah. Jika meneladani Rasulullah seharusnya melakukan hal yang sama dengan Nabi, yakni berpoligami dan menikahi janda-janda tua dan miskin. Karena poligami bukanlah cara Allah memberi kemudahan dan kesenangan bagi umatnya, karena dalam poligami, suami diwajibkan untuk dapat ridha dari istri pertama, melaksanakan kewajiban lahir dan batin, serta berlaku adil. Jika tidak? Bukankah hanya akan menimbulkan penyakit lain?

Perlu dicatat bahwa poligami yang dilakukan Nabi Muhammad bukanlah bentuk upaya untuk kesenangan dirinya secara utuh dan pribadi, namun lebih kepada penyelamatan kepada janda-janda yang ditinggal mati oleh suaminya ketika pergi berjihad. Nabi Muhammad pertama kali menikah di usia 25 tahun dengan Khadijah binti Khuwailid. Khadijah pada waktu itu berusia 40 tahun. Sebelumnya Khadijah pernah menikah dua kali, namun suami pertama dan keduanya wafat. Adapun nama lain istri dari Rasulullah yang merupakan janda dan telah berumur, Saudah binti Zam’ah 55 tahun, Zainab binti Khuzaimah 30 tahun, Zainab binti Jahsy 35 tahun, dan Ummu Habibah binti Abu Sufyan 40 tahun.

Dari sini kita bisa lihat sebagian besar istri-istri Rasulullah merupakan seorang janda tua yang memang membutuhkan pertolongan, selain itu memang harus diakui memang terdapat beberapa istri nabi yang dinikahi di usia muda dengan tujuan untuk memperkuat jalinan hubungan kekeluargaan dalam upaya penyebaran dakwahnya.

Perkawinannya dengan Aisyah binti Abu Bakar r.a. Aisyah merupakan wanita paling cerdas di muka bumi ini, ia meriwayatkan hadits lebih dari 2000 hadits, sehingga ini hikmah di balik pernikahannya Aisyah dengan Rasulullah. Aisyah banyak meriwayatkan hadits tentang kehidupan rumah tangga Rasulullah serta ibadahnya Rasulullah. Sehingga ilmu dari Aisyah ini bermanfaat hingga saat ini.

Alasan melakukan poligami hanya untuk alasan menghindarkan dari perzinaan bisa dianggap sebuah pembodohan publik. Padahal banyak hal yang harus diketahui dan resiko yang harus diketahui dalam pelaksanaan poligami seperti apakah terdapat tujuan mulia di balik pelaksanaan pernikahan poligami? Selain itu tentang kesiapan mental pasangan yang akan dipoligami, dan kemapanan finansial untuk tanggungjawab bagi keduanya.

Selain itu, pelaku poligami rentan terhadap risiko sosial atau hukum sosial yang berlaku di masyarakat yang terkadang lebih tajam daripada pedang. Pernikahan poligami yang awam bagi masyarakat Indonesia karena pada dasarnya tidak ada seseorang yang mau dimadu atau merelakan pasangannya bersama orang lain. Mereka para pelaku poligami akan terus menjadi bahan pergunjingan yang tak berujung. Kehidupan rumah tangga sudah pasti akan terasa sangat tidak nyaman apabila banyak mata yang memandang dan menilai semua gerak gerik pernikahan.

Pemerintah sudah seharusnya lebih memilih cara edukasi tentang HIV/AIDS dan penanaman nilai agama. HIV hanya bisa menular lewat cairan tubuh, seperti darah, air susu ibu, juga cairan sperma dan vagina. Di sinilah pentingnya penerapan langkah pencegahannya. Perlunya menahan diri untuk tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Setelah menikah setia pada satu pasangan seksual, jika dirasa perlu, menggunakan kondom pada saat melakukan hubungan seksual yang dinilai berisiko.

Penanaman nilai agama juga dirasa penting karena HIV/AIDS sebagian besar disebabkan karena perilaku yang menyimpang dari ajaran agama dan nilai-nilai moral keagamaan. Penyebab utama masalah HIV/AIDS lebih disebabkan perilaku manusia, upaya pencegahan secara dini melalui jalur agama atau pendidikan agama merupakan langkah yang tepat, bukan memberikan keleluasaan pengumbaran seksual dengan dalih poligami.

 

Bagikan Artikel ini:

About Rufi Tauritsia

Check Also

mengemis online

Fenomena Mengemis Online, Bagaimana Menurut Islam?

Setiap manusia diberikan potensi kepada Allah untuk hidup mandiri. Kemandiriannya tersebut terbentuk dari akal pikiran …

depresi

Hati-hati dengan Sakit Jiwa, Benahi Hati dengan Berdzikir

Jangan sepelekan penyakit mental. Kesehatan mental juga sepenting Kesehatan fisik manusia. Jika gangguan mental terus …

escortescort