hak allah
hak allah

Mengobati Sikap Ekstrem Beragama : Tunaikan Hak Allah dan Hak Manusia

Allah tidak menyukai hal yang berlebihan atau ekstrem termasuk dalam urusan agama. Beribadah adalah hal mulia, tetapi ibadah juga tidak bisa melupakan hal yang berbau muamalah. Keduanya harus ditunaikan secara seimbang. Itulah cara beragama agar tidak ekstrem.

Nabi juga mengajarkan umatnya agar tidak ekstrem dalam beragama. Ada hak lain yang harus dipenuhi termasuk hak tubuh sendiri. Tidak semuanya totalitas beribadah, tetapi mengabaikan hal lain yang menjadi tanggungjawabnya. Inilah kisah persaudaraan antara Salman alfarizi yang seorang Muhajirin Abu Darda seorang Anshar tentang cara mengobati cara beragama yang ekstrem.

Abu Darda dikenal sebagai orang yang sangat rajin dalam hal ibadah. Tentang ketekunan Abu Darda dalam beribadah tertuang dalam riwayat Imam al-Bukhari (Hadist no. 1867 dari riwayat Juhaifah RA) bahkan disebutkan bahwa ibadah Abu Darda’ masuk pada kategori ekstrem. Kita tahu bahwa pemahaman dan perilaku yang ekstrem tidak dianjurkan dalam Islam.

Salman banyak mendengar tentang cara beribadah Abu Darda dari banyak kalagan. Abu Darda merupakan seorang umat yang seolah tak membutuhkan hal yang berbau keduniawian. Dia banyak disibukkan untuk urusan akhiratnya. Salman mencoba untuk mengetahui kebenaran informasi yang ia dapatkan dengan mengunjungi kediaman Abu Darda.

Sesampainya di rumah Abu Darda, Salman merasa heran melihat penampilan istri Abu Darda yang terlihat kumuh, lusuh, dan tidak terurus. Bahkan raut mukanya terlihat sangat murung. Penampilan Ummu Darda dikarenakan Abu Darda yang selalu berpuasa setiap hari, shalat sepanjang malam, sampai keluarganya tidak pernah diperhatikan.

Jika Abu Darda selalu berpuasa setiap hari, bagaimana dia bisa mencukupi kebutuhan istrinya secara lahir dan batin, pikir Salman dalam hati. Tak berselang lama Abu Darda datang membawa makanan dan mempersilakan Salman untuk makan.

Baca Juga:  Siapakah Mukmin Ideal ?

Salman berniat membuat saudaranya membatalkan puasanya demi membantu istri Abu Darda supaya mendapatkan haknya. Salman pun berkata kepadanya, “Aku tidak akan makan kecuali kamu ikut makan,”. Tentu dalam Islam menghormati tamu adalah sebuah kewajiban dan ciri orang yang beriman.

Merasa tak enak dengan kunjungan saudaranya tersebut akhirnya Abu Darda memutuskan untuk membatalkan puasanya. Kejadian seperti itu terus berlangsung sehingga membuat Abu Darda tidak bisa berpuasa setiap hari.

Namun, bukan hanya pada siang hari. Ibadah Abu Darda juga sangat ekstem di malam hari. Karena itulah, suatu hari Salman memutuskan untuk datang ke kediaman Abu Darda di malam hari.

Mereka berdua hanyut dalam percakapan tentang banyak hal. Setelah waktu beristirahat, Salman hendak pamit untuk kembali ke rumahnya, namun belum sampai berpamitan, Abu Darda meminta ijin kepada Salman untuk melakukan ibadah shalat sunah. Heran dengan kelakuan Abu Darda yang sudah terlihat letih namun ia memilih untuk melakukan shalat sunah dari pada beristirahat. Salmanpun menegur Abu Darda untuk beranjak tidur karena ini adalah waktu untuk tidur.

Melihat kelakuan Abu Darda, Salman meminta ijin untuk menginap di rumahnya. Setelah mengijinkan Salman menginap di rumahnya, Abu Darda pun tidur. Tak berselang lama Abu Darda terbangun dan akan melakukan shalat lagi. Melihat hal itu, Salman langsung menegur kembali, “Tidurlah.” Abu Darda lalu tidur kembali.

Setelah waktu menujukkan sepertiga malam, Salman kemudian membangunkan Abu Darda, dan berkata “Nah, sekarang bangunlah,”. Ketika mereka selesai mengerjakan shalat malam, Salman pun menegur saudaranya sembari berkata, “Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atasmu yang harus kau tunaikan, dirimu punya hak atasmu yang harus kau tunaikan, dan keluargamu punya hak atasmu yang harus kautunaikan, maka tunaikanlah hak-hak tersebut kepada setiap pemiliknya,” kata Salman mengakhiri pembicaraan malam itu.

Baca Juga:  Benarkah Ada Tanda Cap Kenabian di Tubuh Nabi? Lalu Seperti Apa?

Apa yang disampaikan oleh Salman kepada saudaranya kemudian dibenarkan Nabi Muhammad setelah beberapa hari kemudian. Pembenaran apa yang dilakukan oleh Salman oleh Rasulullah merupakan salah satu sunnah yang berbentuk pengakuan yang bisa dijadikan dalil.

Pelajaran dari kisah tersebut bahwa Allah memang sangat menyukai seorang hamba yang taat beribadah kepadanya. Namun Allah juga tidak menyukai seorang hamba yang melupakan kewajiban duniawi yang wajib dikerjakan kepada sesama makhluknya. Ibadah yang melebihi batas merupakan tindakan yang tidak diperbolehkan dalam Islam. Karena apapun yang melebihi batasan akan membawa suatu keburukan.

 

Bagikan Artikel ini:

About Novi Nurul Ainy

Avatar of Novi Nurul Ainy

Check Also

islam formalitas

Hanya Islam Formalitas Belaka

Islam nampak meriah dalam berbagai kehidupan. Adzan di mana-mana dan masjid pun berteberan. Jilbab menjadi …