merantau
merantau

Merantau dalam Pandangan Islam

Idul Fitri lekat tradisi mudik. Ya, mudik lebaran. Tak ada perantau yang tak ingin mudik, terlebih di momen sakral hari raya Idul Fitri. Mudik dari perantauan dengan segala suka dukanya merupakan perjalanan rindu dan romantis. Mudik adalah perjalanan syarat makna. Mudik bukan hanya ingin melepas rindu, lebih dari itu, ia memuat misi “birrul walidain”.

Tetapi kenapa harus merantau? Ada banyak jawaban pertanyaan ini. Bisa jadi karena untuk memperbaiki taraf ekonomi karena di negeri rantau lebih menjanjikan. Ada juga yang karena tugas negara sehingga harus meninggalkan kampung halaman. Dan, masih banyak lagi alasan mengapa seseorang merantau.

Tulisan ini tak hendak membahas alasan-alasan tersebut. Melainkan hanya akan melihat potret merantau dalam pandangan agama Islam.

Apakah ada anjuran merantau dalam Islam?

Dalam al Qur’an: “Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”. (al Mulk: 15)

Al Thabari dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah memerintahkan manusia untuk menelusuri penjuru bumi. Karenanya, Dia menjadikan bumi mudah ditelusuri.

Lebih jelas lagi, Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, ayat ini memerintahkan manusia untuk mendatangi segala sudut bumi untuk mencari rizki dengan usaha yang keras dan maksimal, apapun profesi dan aktivitasnya selama hal itu halal. Walaupun demikian, keputusan akhir tetap di tangan Allah.

Dari sini sudah jelas, bahwa merantau adalah anjuran agama. Baik untuk mencari ilmu, seperti para ulama dulu yang datang ke berbagai tempat nun jauh disana untuk belajar, mengambil sanad dan menambah pengalaman.

Ayat ini sebetulnya hendak memompa semangat supaya manusia tidak hanya berdiam diri di kampung halamannya. Apalagi kalau di tempat kelahirannya tidak ada aktivitas yang bermanfaat. Melalui ayat ini Allah memerintahkan untuk merantau, untuk mencari rizki yang lebih baik, menambah pengalaman sehingga mampu menilai kehidupan dari berbagai sisi, serta untuk menambah keimanan kepada Allah dengan melihat begitu kuasa dan besarnya kekuasaan-Nya.

Baca Juga:  10 Hari Kedua Bulan Ramadan; Jangan Lupa Istighfar untuk Keluarga yang telah Meninggal

Para perantau yang mudik lebaran sejatinya memiliki banyak manfaat. Disaat berada di perantauan ia telah menjalankan perintah al Qur’an. Begitu juga disaat mudik, ada niat mulia untuk bertemu dengan orang tua dan keluarga. Mudik membawa misi mulia untuk “birrul walidain”, untuk berbakti kepada kedua orang tua.

 

Bagikan Artikel ini:

About Nurfati Maulida

Avatar of Nurfati Maulida

Check Also

silaturrahmi non muslim

Silaturahmi Kepada Orang Tua dan Saudara Non Muslim, Bolehkah?

Meskipun hari raya Idul Fitri telah berlalu, namun sebagian masyarakat muslim tetap memanfaatkan momentum Syawal …

shalat saat adzan

Shalat Saat Adzan Dikumandangkan?

Tujuan azan adalah untuk memanggil umat shalat berjamaah, sekaligus penanda waktu shalat telah tiba. Seperti …