Munculnya Akar Radikalisme Dipengaruhi Pemahaman Agama Yang Dangkal

0
34

Surabaya Pemahaman agama yang dangkal merupakan pemicu munculnya akar radikalisme dan terorisme berbasis agama Hal itulah yang membuat seseorang atau kelompok masyarakat mudah dijejali dengan propaganda negatif dengan menggunakan dalil agama yang keliru sehingga mereka menjadi radikal Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama PBNU KH Ahmad Ishomuddin menilai akar munculnya radikalisme dipengaruhi oleh pemahaman ilmu agama yang dangkal Utamanya tentang maksud diturunkannya agama yang sesungguhnya untuk membawa manusia kepada kebaikan dan menghindarkan dari keburukan Selain pengetahuan agama yang rendah radikalisme juga dipengaruhi oleh wawasan yang kurang luas dalam hal kehidupan berbangsa dan bernegara khususnya berkaitan dengan kebhinnekaan di Indonesia Mereka tidak memiliki ilmu agama yang mendalam akhlak yang mulia lebih mengedepankan hawa nafsu daripada ilmu kata Ahmad Ishomuddin saat menjadi narasumber diskusi kajian titik temu dengan tema Menggali Akar Radikalisme dan Intoleransi di Indonesia yang digelar Nurcholish Madjid Society NCMS bersama Lembaga Pendidikan Lembaga Pendidikan LP Ma arif Nahdlatul Ulama NU di Surabaya Kamis 25 10 2018 Beberapa faktor lainnya yang juga jadi pemicu lanjut Ishommudin adalah perasaan tertindas kalah dalam persaingan di bidang ekonomi politik dan tidak menemukan jalan keluar sehingga segala sesuatu mau diselesaikan dengan jalan kekerasan dan pengingkaran terhadap perbedaan perbedaan Padahal itu bukan merupakan jalan keluar untuk mencapai suatu titik temu tetapi justru menimbulkan kegaduhan menimbulkan korban bahkan terhadap orang orang yang berbeda tuturnya Hal yang sama diungkapkan Rektor Universitas Islam Negeri UIN Sunan Ampel Surabaya Prof Masdar Hilmy Menurutnya munculnya fenomena radikalisme berbasis agama tidak hanya dipengaruhi oleh faktor tunggal melainkan ada faktor lain yang berperan membentuk seseorang atau masyarakat menjadi radikal Menurutnya fenomena radikalisme agama harus diakui muncul dalam ayat ayat di dalam kitab suci Al Quran yang diterapkan tanpa adanya pertimbangan relevansi konteks yang menyertainya Kita harus rendah hati mengatakan bahwa memang di dalam teks suci kita ini ada banyak ayat ayat yang menyuruh kita ini untuk berperang dan membunuh Persoalannya apakah ayat ayat itu harus kita terapkan apa adanya tanpa mempertimbangkan relevansi urai Masdar Ketua Dewan Pembina Nurcholish Madjid Society NCMS Omi Komaria Madjid turut menambahkan radikalisme dan intoleransi sebenarnya bisa diatasi dengan mengajak semua elemen bangsa untuk bersikap rendah hati dalam beragama Menurut Omi berbagai keanekaragaman yang dimiliki Indonesia merupakan anugerah Tuhan yang harus diterima dan disyukuri sebagai bentuk pengakuan dan kepatuhan manusia pada kehendak Tuhan Kebhinnekaan itu secara positif harus di terima sebagai anugerah dari Tuhan Karena anugerah dari Tuhan kita jangan mengingkari dan apalagi melawan Kalau mengingkari atau melawan berarti mengingkari atau melawan kehendak Tuhan Maka dari itu kita secara aktif mewujudkan itu memelihara pemberian Tuhan itu kata Omi

Tinggalkan Balasan