Zohran Mamdani 1

Mushaf Ottoman di Balik Sumpah Zohran Mamdani, Jejak Panjang Islam di New York

New York — Pelantikan Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York City mencatatkan sejarah baru, bukan hanya dalam lanskap politik Amerika Serikat, tetapi juga dalam perjalanan panjang Islam di Negeri Paman Sam. Dalam prosesi pengucapan sumpah jabatan, Mamdani meletakkan tangannya di atas dua mushaf Alquran—salah satunya adalah mushaf kuno berusia lebih dari dua abad.

Mushaf tersebut merupakan koleksi langka Perpustakaan Umum New York yang diperkirakan berasal dari akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19, pada masa Kekhalifahan Ottoman. Alquran berukuran kecil itu kini disimpan di Schomburg Center for Research in Black Culture, pusat arsip terkemuka yang mendokumentasikan kontribusi global komunitas keturunan Afrika.

Kurator Studi Timur Tengah dan Islam Perpustakaan Umum New York, Hiba Abid, menyebut mushaf tersebut sebagai simbol jejak panjang Islam dalam sejarah Amerika, khususnya di New York yang multikultural.

“Ini Alquran kecil, tetapi menyatukan iman, identitas, dan sejarah kota ini,” ujar Abid, dikutip Associated Press.

Menurut laporan Al Jazeera, pihak perpustakaan memuji keputusan Mamdani menggunakan mushaf Schomburg karena keterkaitannya dengan salah satu cendekiawan paling inovatif dalam sejarah intelektual New York, serta karena karakter mushaf yang sederhana dan fungsional.

Berbeda dengan manuskrip Alquran mewah yang sering diasosiasikan dengan bangsawan, mushaf Ottoman tersebut tampil bersahaja. Jilidnya berwarna merah tua dengan ornamen floral minimalis, sementara teksnya ditulis menggunakan tinta hitam dan merah.

Abid menilai kesederhanaan itu justru menjadi kekuatan utama mushaf tersebut. “Naskah ini dibuat untuk dibaca sehari-hari oleh umat, bukan untuk seremoni. Nilainya terletak pada keterjangkauan, bukan kemewahan,” katanya.

Karena tidak bertanggal dan tanpa nama penyalin, para ahli menelusuri asal-usul mushaf melalui gaya penjilidan dan kaligrafinya. Mereka memperkirakan mushaf itu berasal dari wilayah Syam pada era Ottoman, meliputi Suriah, Lebanon, Palestina, Yordania, dan kawasan sekitarnya.

Mushaf tersebut sebelumnya dimiliki Arturo Schomburg, sejarawan dan intelektual kulit hitam asal Puerto Riko. Meski bukan Muslim, Schomburg dikenal memiliki ketertarikan mendalam terhadap hubungan historis Islam dengan diaspora Afrika. Pada 1926, ia menjual lebih dari 4.000 buku dan artefak kepada Perpustakaan Umum New York—koleksi yang kemudian menjadi fondasi berdirinya Schomburg Center.

Abid menilai perjalanan mushaf Ottoman itu hingga ke New York mencerminkan latar belakang Mamdani sendiri yang berlapis: lahir di Uganda, berdarah Asia Selatan, besar di New York, dan menikah dengan Rama Duwaji, perempuan keturunan Suriah-Amerika.

Selain mushaf Ottoman dari koleksi Schomburg, Mamdani juga menggunakan Alquran milik kakeknya dalam prosesi sumpah jabatan lanjutan di Balai Kota pada 1 Januari 2026, sebagaimana dilaporkan The New York Times. Simbol tersebut menegaskan kesinambungan iman lintas generasi sekaligus kehadiran Muslim dalam ruang sipil Amerika.

Usai pelantikan, mushaf Ottoman tersebut dijadwalkan dipamerkan untuk publik di Perpustakaan Umum New York, bertepatan dengan peringatan 100 tahun Yayasan Schomburg. Abid berharap perhatian publik terhadap momen ini mendorong pemahaman yang lebih luas tentang sejarah Islam di New York—dari kontribusi budaya awal hingga pengalaman Islamofobia pasca-serangan 11 September.

“Naskah ini awalnya ditujukan untuk pembaca awam. Kini ia berada di perpustakaan umum, tempat siapa pun dapat menemukannya,” kata Abid.

Bagi umat Islam, momen ini bukan sekadar seremoni politik, melainkan penegasan bahwa Alquran telah lama hadir dan hidup dalam sejarah Amerika. Sebuah mushaf kecil dari masa Ottoman kini menjadi saksi babak baru peradaban Islam di jantung Kota New York.

Sejarah mencatat, Islam telah hadir di Amerika Utara selama ratusan tahun, sejak orang-orang Afrika yang diperbudak membawa agama mereka ke benua tersebut. Pada abad ke-18, terjemahan Alquran bahkan menjadi bacaan populer di kalangan Protestan Inggris dan koloni Amerika. Salah satu pembacanya adalah Thomas Jefferson, presiden ketiga Amerika Serikat.

Menurut laporan History (2019), Alquran pribadi Jefferson kembali menjadi sorotan ketika Rashida Tlaib—salah satu perempuan Muslim pertama di Kongres—berencana menggunakannya saat pelantikan. Sebelumnya, anggota Kongres Muslim pertama, Keith Ellison, juga menggunakan Alquran berusia ratusan tahun dalam prosesi sumpah jabatan pada 2007.

Profesor sejarah Universitas Texas di Austin, Denise A. Spellberg, menilai popularitas Alquran di kalangan Protestan abad ke-18 berakar pada rasa ingin tahu sekaligus kebutuhan memahami dunia Muslim yang kala itu sering berinteraksi dengan Barat.

“Alquran dipandang sebagai kitab hukum dan kunci memahami umat Islam, baik di Kekaisaran Ottoman maupun Afrika Utara,” ujarnya.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Check Also

radikalisme di era digital copy

Lingkungan Digital Jadi Ruang Baru Infiltrasi Paham Radikal

Jakarta – Upaya  serius sangat penting untuk menekan paparan radikalisme di ruang digital. Merujuk data …

Ulama perempuan

Ulama Perempuan Dinilai Strategis Perkuat Islam Moderat dan Tangkal Radikalisme

Yogyakarta — Ulama perempuan dinilai memiliki peran strategis dalam menghadang penyebaran paham radikal sekaligus memperkuat …