Orang Lailatul Qadar

Kenapa Allah Memberikan Malam 1000 Bulan? Inilah Sejarah Lailatul Qadar

Turunnya ayat al Qur’an tidak lepas dari sebab-sebab tertentu. Karena al Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur dalam menjawab dan menanggapi suatu peristiwa. Hal ini yang kemudian dikenal dengan asbabunnuzul artinya sebab-sebab turunnya ayat al Qur’an. Begitu juga surat al Qadar yang menceritakan keutamaan Lailatul Qadar. Ada sebab tertentu yang melatarbelakangi surat ini turun.

Dalam riwayat Ibn Abbas ra, Rasulullah saw pernah bercerita kepada sahabat-sahabatnya tentang  seorang waliyullah dari Bani Israil. Namanya Sam’un al Ghazi. Dia memerangi orang-orang kafir selama seribu tahun dengan menggunakan senjata dari tulang dagu unta. Setiap kali menghempaskan senjatanya ini, tidak terhitung jumlah orang kafir yang mati. Memang ada keajaiban dari senjatanya ini, di antaranya manakala Sam’un al Ghazi haus, pada setiap gigi-giginya menjadi sumber air yang mengeluarkan air segar, sehingga ia dapat meminumnya dari sumber air ini. Dan manakala ia lapar, dari tulang dagu unta tersebut tumbuh daging segar yang bisa dimakan olehnya.

Suatu ketika, orang-orang kafir sudah merasa tidak mampu melawan Sam’un al Ghazi dengan segala karomah yang dimilikinya. Sehingga orang-orang kafir tersebut membuat taktik dengan bekerja sama dengan istri Sam’un al Ghazi yang kafir untuk membunuhnya dengan imbalan, istri Sam’un al Ghazi tersebut akan diberi imbalan harta yang sangat melimpah. Awalnya, istri Sam’un al Ghazi sudah meyakini dirinya tidak akan mampu membunuh Sam’un al Ghazi, namun dengan rayuan orang-orang kafir dan bantuannya, akhirnya istri ini mencoba melakukannya dengan mengikat tangan dan kaki Sam’un al Ghazi dengan rantai yang kuat ketika ia tidur. Tatkala Sam’un al Ghazi terbangun ia bertanya tentang siapa yang mengikatnya itu, istrinya menjawab dengan jujur kalau dia yang mengikatnya karena sekedar ingin mengujinya. Namun Sam’un al Ghazi dengan mudah memutuskan rantai itu tanpa alat apapun.

Baca Juga:  Keutamaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah

Perbuatan ini dilakukan berkali-kali oleh istrinya namun berakhir dengan kegagalan. Sampai pada akhirnya, Sam’un al Ghazi membuka rahasia tentang dirinya bahwa ia adalah salah satu waliyullah yang diberi keistimewaan kekuatan yang tidak bisa dikalahkan dengan apapun kecuali dengan rambutnya.

Suatu ketika, ketika Sam’un al Ghazi tidur, istrinya itu memotong rambutnya Sam’un al Ghazi yang panjang itu. Dalam kisah tersebut, Sam’un al Ghazi digambarkan sosok laki-laki gagah yang memiliki rambut panjang. Kemudian dengan rambut-rambunya itu, istrinya mengikat kaki dan tangan Sam’un al Ghazi. Dan Sam’un al Ghazi pun tidak berdaya dengan ikatan dari rambutnya ini. Pada akhirnya ia ditangkap oleh orang-orang kafir yang licik itu.

Di istana orang-orang kafir, Sam’un al Ghazi disiksa dengan siksaan yang sangat pedih. Kedua telinganya dipotong, kedua matanya dicongkel, kedua bibir dan lidahnya dipotong, begitu juga tangan dan kakinya. Hingga akhirnya, Allah swt menurunkan wahyu melalui Malaikat Jibril as, dan berkata: “Apa yang kamu inginkan kepada mereka orang-orang kafir”. Sam’un al Ghazi menjawab: “Berilah aku kekuatan sehingga aku mampu menggetarkan dan merobohkan istana ini”. Lalu Allah swt mengabulkan permintaannya, Sam’un al Ghazi diberi kekuatan yang luar biasa sehingga mampu merobohkan istana itu. Orang-orang kafir semuanya menjadi tertindih oleh reruntuhan bangunan istana, begitu juga istri Sam’un al Ghazi yang berkhianat kepadanya.

Setelah itu, Allah swt mengembalikan anggota-anggota tubuh Sam’un al Ghazi yang dipotong oleh orang-orang kafir itu. Dari kejadian ini, Sam’un al Ghazi melakukan ibadah kepada Allah swt selama seribu bulan, dengan memperbanyak shalat di waktu malamnya dan berpuasa di pagi harinya dan berperang melawan orang-orang kafir.

Baca Juga:  Ketika Harta Menjadi Ujian

Mendengar kisah ini, para sahabat sontak terkagum-kagum terhadap Sam’un al Ghazi dan mereka berharap dapat melakukan perbuatan yang sama dengannya. Lalu beberapa sahabat Nabi saw bertanya kepada Nabi saw: “Apakah engkau tau, berapa pahala yang ia peroleh?”, Nabi saw menjawab: “Saya tidak mengetahui”. Lalu Malaikat Jibril as menurunkan surat al Qadar ini, dan berkata: “Wahai Muhammad, aku berikan kepadamu serta umatmu Lailatul Qadar. Malam itu lebih baik dari beribadah seribu bulan”.

Kisah ini sangat sesuai dengan beberapa riwayat tentang asbabunnuzul dari surat al Qadar ini. Misal riwayat dari Mujahid ra yang berbunyi:

أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم ذَكَرَ رَجُلاً مِنْ بَنِى إِسْرَائِيلَ لَبِسَ السِّلاَحَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ أَلْفَ شَهْرٍ قَالَ فَعَجِبَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ :« فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ (إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُالْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ) ». الَّتِى لَبِسَ فِيهَا ذَلِكَ الرَّجُلُ السِّلاَحَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ أَلْفَ شَهْرٍ

Artinya: “Sesungguhnya Nabi saw bercerita tentang laki-laki dari Bani Isra’il yang menggunakan senjatanya di jalan Allah (berperang melawan orang kafir) selama seribu bulan. Mujahid ra berkata: “Lalu orang-orang muslim menjadi terkagum-kagum karena hal itu”, ia berkata: “lalu Allah azza wa jall menurunkan inna anzalna fi lailatil qadr… yang mana laki-laki itu menggunakan senjatanya di jalan Allah selama seribu bulan” (HR. al Baihaqi)

Menurut imam as suyuti, riwayat ini yang menjadi latar belakang turunnya surat al Qadar.

Adapun hikmah di balik sejarah ini yaitu Allah swt sangat memberlakukan umat Muhammad saw lebih istimewa dari pada umat sebelumnya. Dengan diberi Lailatul Qadar, umat Muhammad saw dapat mengimbangi amal perbuatan umat sebelumnya yang dilakukan sampai 83 tahun 4 bulan atau seribu bulan. Jika bayangkan dengan nalar sekarang, hal itu sepertinya hampir tidak mungkin dilakukan oleh umat saat ini. Jadi dengan diberikannya Lailatul Qadar patutlah kita sebagai umat Muhammad saw untuk bersyukur dengan tidak menyia-nyiakan malam yang mulya tersebut. Hal itu tentu dengan amal ibadah yang maksimal.

Baca Juga:  Inilah Cara Rasulullah Memuliakan Bulan Sya’ban

Wallahu a’lam

Bagikan Artikel

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember