bani israel
bani israel

Musa dan Bani Israil : Kisah Umat yang Selalu Mengingkari Nikmat

Selepas dari kejaran raja Firaun yang ditenggelamkan di laut merah, Bani Israil memulai sejarah baru tanpa penindasan. Namun, sebagian dari mereka masih tidak mempercayai kematian raja Firaun. Allah pun memberi perintah kepada laut untuk mengangkat jasad Firaun ke daratan dan mendamparkannya bersamaan dengan baju besi yang sudah familiar oleh kaum Bani Israil.

Setelah itu benar yakin, merekapun merasa lega karena terlepas dari perbudakan dan penindasan bangsa Mesir dan bisa memulai hidup baru dengan tenang di bawah kepemimpinan Nabi Musa. Namun, sejarah hidup baru yang dimulai ini juga penuh dengan dinamika yang menunjukkan karakter bani Israil sebagai umat yang selalu membangkang.

Setelah berhasil menyeberangi laut merah, Bani Israilpun meneruskan perjalanan meninggalkan daerah pantai dan menuju negeri yang telah dijanjikan. Tentunya bukanlah perjalanan yang mudah. Mereka harus melewati gurun pasir nan luas, namun Allah memberikan rahmat kepada kaum Nabi Musa.

Allah memberikan mukjizat kepada Nabi Musa yakni jika Nabi Musa memukulkan tongkatnya ke batu, maka mengalirlah 12 mata air. Jumlah 12 mata air tersebut sesuai dengan jumlah kabilah kaum Nabi Musa. Dalam perjalanan mereka diikuti awan yang membuat mereka tidak merasakan teriknya panas gurun pasir tersebut. Mereka tak pernah merasakan kesulitan untuk makan dan minum, karena Allah menjaminnya.

Namun, sifat membangkang yang justru menjangkiti Bani Israil. Mereka tak pernah bersyukur atas rahmat yang di berikan Allah. Allah pun berfirman, “Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu manna dan salwa. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Surah al-Baqarah: 57).

Manna dan salwa, merupakan anugerah Allah untuk memenuhi kebutuhan pangan Bani Israil. Manna merupakan makanan yang rasanya manis layaknya madu. Salwa merupakan sejenis burung puyuh yang dagingnya empuk dan terasa gurih. Salwa biasanya terbang tinggi, namun Allah memerintahkan mereka untuk terbang rendah. Dengan begitu, akan memudahkan Bani Israil untuk menangkapnya.

Namun tabiat dari Bani Israil adalah pembangkang, maka tetap saja mereka merasa kurang atas apa yang dianugrahkan atas mereka. Mereka mulai memprotes makanan yang mereka makan, mereka merasa bosan memakan manna dan salwa. Maka, Bani Israil memutuskan untuk pergi ke kota untuk mencari kacang-kacangan dan sayuran.

Dari dulu memang kacang adas merupakan makanan favorit dari Bani Israil, namun kandungan dari kacang adas justru menyebabkan banyak penyakit. Kacang adas banyak mengandung zat yang membahayakan saraf, kurang baik untuk pencernaan, berbahaya bagi sistem ekskresi, dan juga mengentalkan darah. Itulah kebodohan dari Bani Israil yang justru merindukan makanan yang banyak mudharat bagi tubuh mereka. 

Tak berhenti di situ saja kebodohan dari Bani Israil. Di tengah perjalanan mereka menemukan umat yang sedang sibuk menyembah berhala. Melihat hal tersebut, sebagian dari kaum Bani Israil langsung mengajukan permintaan kepada Nabi Musa untuk membuatkan mereka berhala yang sama untuk disembah.

Dalam surat al-A’raf ayat 138-139, Allah berfirman, “Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: “Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah Tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa Tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)”. Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang seIalu mereka kerjakan.”

Kebodohan Bani Israil memang merupakan kebodohan yang melebihi kebodohan seseorang sampai tidak mengenal Tuhannya dan Penciptanya, selain itu mereka juga berkeinginan untuk menyamakan Allah dengan berhala, padahal berhala itu tidak berkuasa memberi manfaat dan menghindarkan mereka dari bahaya, serta tidak berkuasa menghidupkan, mematikan dan membangkitkan. Perbuatan para penyembah berhala yang batil itu nantinya akan musnah dan sia-sia belaka.

Melihat permintaan Bani Israil membuat Nabi Musa merasa kecewa, mereka baru saja di selamatkan Allah oleh kekejian bangsa Mesir, namun setelah selamat, merekapun tetap enggan bersujud hanya kepada Allah. Mungkin dahulu Nabi Musa lebih memfokuskan untuk membebaskan Bani Israil dari kekejaman Fir’aun. Sehingga, waktunya tersita untuk menghadapi Fir’aun sehingga tidak banyak waktu untuk menanamkan aqidah yang kuat kepada kaumnya. Sehingga kaumnya mudah tergoda untuk menyimpang dari aqidah yang benar.

Bagikan Artikel ini:
Baca Juga:  Salahuddin al-Ayyubi, Perang Salib dan Maulid Nabi

About Imam Santoso

Avatar of Imam Santoso

Check Also

bulan muharram

Bulan Muharram : Sejarah Persatuan, Perpecahan dan Tragedi Politik dalam Islam

Bulan Muharram merupakan bulan pertama dalam kalender hijriyah yang memiliki sejarah penuh makna. Banyak kejadian …

Haji

Tidak Bisa Haji dapat Pahala Haji : Ulama Besar Pun Kaget dengan Amalan Tukang Sol Sepatu Ini

Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al Marwazi yang merupakan ulama terkenal di Makkah pada …