larangan mudik
larangan mudik

Larangan Mudik dalam Tinjuan Fikih: Kebijakan yang Didasarkan pada Mashlahah?

Pandemi covid-19 masih mengancam. Di India malahan terjadi gelombang kedua lonjakan yang sungguh mengkhawatirkan dan telah memakan banyak korban jiwa. Sampai diistilahkan dengan Tsunami Corona. Ini artinya kita semua harus tetap waspada, hati-hati, dan menahan diri untuk tidak melanggar protokol kesehatan.

Larangan Mudik adalah bagian dari upaya antisipasi terhadap penularan virus berbahaya ini. Bukankah kaidah fikih berbunyi “Menghindar dari mafsadat lebih dinomorsatukan dari pada mengambil maslahat”. Idul fitri memang memilih mashlahah yang menjalin silaturrahmi antar keluarga dan sanak famili. Tradisi yang khas nusantara melalui mudik ini mampu menjadi magnet yang merindukan sekaligus sarat nilai sosial dan spiritual.

Namun, tentu saja pertimbangan memperoleh manfaat harus memperhatikan pula mafsadat yang ditimbulkan. Jika ternyata dalam kondisi yang justru menghantarkan mafsadat ketika ingin meraih manfaat maka prioritas mencegah mafsadat lebih diutamakan daripada meraih kemashlahatan.

Puasa Ramadhan sebenarnya mengajarkan kita untuk menahan diri. Mengekang syahwat supaya tidak mengangkangi perintah Tuhan. Bila diterjemahkan lebih lanjut, intisari puasa Ramadhan juga upaya menahan diri untuk tidak melanggar norma-norma kehidupan yang baik, seperti larangan mudik. Sebab agama menekankan penjagaan terhadap jiwa. Menjerumuskan diri dalam petaka adalah larangan agama.

Dalam bahasa Arab, Ramadhan berarti panas, menyengat, dan membakar. Dari arti secara bahasa ini kita tahu bahwa puasa Ramadhan adalah diklat untuk menahan hawa nafsu lahir dan batin, membakar amarah, meredupkan kebencian, dan memusnahkan keinginan-keinginan yang dilarang oleh agama.

Diklat Ramadhan juga mengajarkan tentang kemanusiaan. Puasa Ramadhan adalah ibadah vertikal (Hablum minallah) sekaligus ibadah horizontal (Hablum minannas). Semakin seseorang bertakwa kepada Allah, semakin tinggi pula keimanannya dan otomatis rasa kemanusiaannya juga meningkat. Menjadi manusia penuh cinta, kasih sayang dan lembut.

Baca Juga:  Puasa, Corona dan Pelajaran dari Narasi Kiamat yang Meresahkan

Momentum puasa Ramadhan menjadi spirit untuk menahan diri untuk tidak mudik di masa Pandemi Corona yang masih terus berlangsung. Yang dikhawatirkan tidak lain penularan Virus Corona. Sebab bila kita tertular lalu balik ke kampung halaman, maka tentu masyarakat kampung yang awalnya aman dari Corona akan luluh lantak dan berubah menjadi petaka akibat virus yang kita bawa.

Kata Nabi kenikmatan besar bila ketika bangun di pagi hari kita dan keluarga dalam keadaan aman. Maka secara tak langsung larangan mudik lebaran kali ini merupakan upaya menjaga ketentraman keluarga kita supaya tidak tertular Virus Corona. Sebab, bukan tidak mungkin di tengah jubelan dan berdesakan disaat perjalanan mudik menjadi lantaran kita tertular dan menularkannya ketika tiba di tempat kelahiran.

Larangan mudik tidak lain untuk keselamatan kita bersama. Dengan demikian, kita harus positif thinking terhadap aturan pemerintah yang melarang mudik. Pemerintah pastinya telah mengkaji dampak buruknya, resiko terbesar yang akan dialami kehidupan bangsa Indonesia bila sampai virus Corona merajalela. Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur terancam. Kesimpulannya, kebijakan pemerintah tersebut untuk kemaslahatan rakyat seluruhnya. “Tasharruf al Imam ‘ala al Ra’iyyah Manuthun bi al Maslahat”, kebijakan pemerintah pasti didasarkan atas pertimbangan maslahat”.

Bagikan Artikel

About Ahmad Sada'i