hindu radikal

India Baru dan Kebangkitan Kelompok Hindu Radikal

Sejak berkuasa pada Tahun 2014, Modi justru melahirkan kebijakan yang diskriminatif terhadap umat Islam dan membangkitan semangat kelompok Hindu Radikal.


India adalah negara bekas Kekaisaran Mughol yang meraih kemerdekaan dari Inggirs pada 15 Agustus 1947. Kemerdekaan India mengakhiri kolonialisme Inggris di negeri sungai gangga ini selama 200 tahun. Kemerdekaan pun dilakukan secara diplomatik dan damai.

Sejak awal hubungan antara umat Hindu-Muslim di India memang menjadi sangat pelik. Sejak kemerdekaan pun sebenarnya India pun terbelah antara India dan Pakistan. Pakistan merayakannya sebagai Hari Kemerdekaan pada 14 Agustus, sementara India 15 Agustus.

Mahatma Gandhi pemimpin kemerdekaan India sejak awal telah melakukan kampanye dan gerakan persatuan dan persaudaraan umat Hindu-Muslim di bawah negara demorkasi sekuler India. Negara yang tidak menonjolkan keagamaan tertentu, tetapi menjamin kebebasan beragama, walaupun mayoritas adalah umat Hindu.

Gandhi sebagai tokoh penting kemerdekaan yang memperjuangkan negara sekuler India dengan menekankan persatuan dan persaudaraan Hindu-muslim. Konsep ini diperjuangkan tidak hanya oleh Gandhi, tetapi juga pemimpin muslim India Abdul Ghaffar Khan. Baik Gandhi dan Ghaffar Khan adalah representasi umat Hindu yang taat dan muslim taat yang memperjuangkan persaudaraan dan anti penjajahan inggris dengan pendekatan nir-kekerasan.

Sejarah perlawanan India terhadap kolonialisme Inggris juga dilakukan oleh umat Hindu dan Islam misalnya pada tahun 1857. Hindu-muslim menjadi satu saudara dalam kebangsaan India dalam melawan penjajahan.

Jawaharlal Nehru adalah perdana Menteri pertama India dari tahun 1947-1964 sebagai pewaris politik Gandhi. Ia adalah anak muda yang memiliki karisma kuat dan memimpin India untuk terbebas dari Inggris melalui guru spiritual dan gerakannya, Mahatma Ghandi.

Namun, periode awal pemerintahan Nehru diwarnai dengan konflik dan kekerasan domestic anatra Hindu-Muslim. Kekerasan mewabah dari Punjab, Delhi, Bengal dan bagian negara lainnya. Mengajak pemimpin Pakistan Nehru mendorong perdamaian dan kerukunan. Nehru mengajak muslim India untuk menjaga dan mendorong umat Islam tetap di India dalam satu persaudaraan.

Baca Juga:  Menelusuri Makna Hijrah dalam Perspektif Al-Qur`an

Namun, upaya persatuan Hindu-muslim di India juga bukan tanpa rintangan. Gandhi sendiri juga mengakhiri hidupnya di tangan kelompok garis keras Hindu atau sayap kapan. Gerakan Hindu radikal di India memang menginginkan India sebagai negara agama Hindu. Sementara, India sejak awal negara sekuler demokratis yang menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan.

Babak Baru dengan Konflik Lama

Adalah Perdana Menteri baru yang memiliki pandangan yang radikal terpilih sejak tahun 2014. Narendra Modi sebagai Perdana Menteri baru tampil menggelorakan sebuah tatanan India baru. Namun, perspektif wajah baru India versi Modi justru membalikkan demokrasi dan toleransi yang sudah ada dengan arogansi mayoritas. Kebijakan Modi justru membangkitkan kehidupan lama India yang belum tuntas tentang konflik Hindu-Muslim.

Konflik Hindu-Muslim bukan hal baru dalam sejarah India. Konflik dan kekerasan atas nama agama dan klaim sejarah politik masa lalu kerap mewarnai negara ini. Peristiwa yang sempat mengagetkan kelompok Hindu garis keras menyerbu sebuah masjid di Ayodhya di utara India.

Bagi mereka masjid abad ke-16 itu melambangkan dominasi Islam atas tanah mereka. Kelompok nasionalis Hindu menilai pembangunan masjid oleh Dinasti Mogul telah menghancurkan kuil Hindu pada masa lalu. Akibat konflik ini, ratusan orang tewas dalam konflik yang kemudian meluas di seluruh penjuru India.

Tidak hanya itu, pada tahun 2002 kereta Sabarmati Express diserang oleh kelompok muslim dan menewaskan 59 orang peziarah hindu. Kelompok muslim membakar kereta itu. Namun, serangan itu menyebabkan kerusuhan yang terburuk dalam sejarah India yang menyebabkan 1000 orang mati yang kebanyakan kaum muslim.

Baik kelompok garis keras Islam dan Hindu radikal adalah akar dari konflik tanpa henti yang terjadi di negeri India. Namun, bukan berarti kerukunan dan persaudaraan Hindu-Muslim tidak terjalin. Banyak cerita penduduk beragama Hindu yang ikut membantu penduduk muslim dari kelompok Hindu Garis Keras.

Baca Juga:  Dua Konsep Dakwah Walisongo dalam Menyebarkan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin di Nusantara

Artinya, kelompok agama Hindu radikal dan Islam radikal di negeri India merupakan ancaman bagi keutuhan dan persaudaraan di India. Sementara kebijakan yang dimunculkan oleh Modi justru membakar kembali konflik lama antara Hindu-Muslim yang tidak pernah reda.

Puncaknya adalah meloloskan UU Kewarganegaraan yang sangat diskriminatif pada tahun 2019. Pengesahan Amandemen Undang-Undang Kewarganegaraan India (CAB) telah menjadi menjadi polemik dan memicu kerusuhan antara pemeluk Hindu-Muslim di New Delhi.

Sejak memimpin Modi justru semakin merepresentasikan kebangkitan kelompok sayap kanan Hindu di India. Modi telah melupakan garis lama negara sekuler demokratis yang diwariskan oleh Gandhi dan para pendiri India lainnya. Perpecahan sosial dan agama semakin meruncing. Sikap politik Modi untuk memanfaatkan sentimen Hindu dalam percaturan politik merupakan ancaman besar bagi hubungan harmonis Hindu-Muslim di India.

Pelajaran penting bagi negeri ini yang sudah terjalin kerukunan umat beragama bahwa ketika kelompok garis keras, radikal atau sebutan lainnya berkuasa dengan menonjolkan kebijakan terhadap agama tertentu dan meminggirkan penganut agama lain akan menjadikan konflik. Sementara konflik sosial akan berujung pada perpecahan suatu negara.

Bagikan Artikel

About redaksi

Avatar