sirah sahabat
sirah sahabat

Belajar dari Kisah Tsa’labah yang Binasa Karena Enggan Membayar Zakat

Tsa’labah bin Khatib. Namanya begitu terkenal dalam sejarah Islam. Hanya saja, namanya tercatat sebagai seorang yang memiliki akhlak buruk. Seperti Qarun, Tsa’labah menolak berzakat. Ia mengingkari janjinya terhadap Rasulullah Saw. Akhirnya, Tsa’labah binasa karena enggan membayar zakat. Bagaimana kisahnya?

Tsa’labah adalah seorang yang miskin, awalnya. Saking miskinnya, ia hanya memiliki selembar baju. Konon, ketika selesai jamaah, ia langsung pulang karena harus bergantian pakaian dengan istrinya. Lama-kelamaan, ia tidak tahan dengan ujian kemiskinan tersebut. Ia memberanikan diri menghadap Rasulullah Saw. Lalu meminta Rasulullah Saw., mendoakannya agar menjadi orang kaya.

Mendengar permintaan Tsa’labah, Rasulullah Saw., menjawab, “Tsa’labah, tidakkah kamu ingin meniru keadaanku? Padahal apabila aku mau, bukit-bukit pun dapat disuruh berjalan bersamaku.”

Tsa’labah semakin menggila. Ia justru mendesak Rasulullah Saw., agar mendoakannya. Ia berjanji menggunakan kekayaan tersebut untuk berjuang di jalan Allah Swt. Rasulullah Saw., luluh. Dengan sepenuh hati, Rasulullah Saw., menengadahkan tangannya ke langit seraya berdoa, “Ya Allah, limpahkanlah rezeki-mu kepada Tsa’labah.”

Usai berdoa, Rasulullah Saw., memberi Tsa’labah kambing betina yang sedang bunting. Rasulullah Saw., meminta Tsa’labah merawatnya dengan baik-baik. Dengan hati berbunga-bunga, Tsa’labah menerimanya dan yakin akan menjadi orang kaya.

Jalaludin Rahmat dalam Qur’anic Wisdom menceritakan bahwa hari berganti hari, bulan berganti bulan, Tsa’labah yang dulunya miskin berubah menjadi orang kaya terpandang. Ia memiliki kambing yang berjumlah ribuan. Pada setiap lembah dan bukit, terdapat kambing milik Tsa’labah.

Perkembangan kambing Tsa’labah bagaikan air bah yang sulit dibendung. Kandang-kandang milik Tsa’labah selalu tidak muat menampung kambing-kambingnya. Ia pun selalu membangun kandang baru. Meskipun akhirnya, dalam waktu singkat kandang-kandang tersebut sudah penuh sesak oleh kambing-kambing.

Baca Juga:  Ketika Nabi Mengajarkan Sahabat agar Tidak Menjadi “Sumbu Pendek”

Keadaan itu, membuat Tsa’labah semakin sibuk. Ia yang dulu aktif shalat lima waktu berjamaah, akhirnya hanya datang ke masjid pada waktu dzuhur dan asar saja. Dan ketika kambingnya bertambah semakin banyak, ia pun lupa. Ia sama sekali tidak pernah datang ke masjid untuk berjamaah. Jangankan shalat berjamaah, shalat sendiri pun akhirnya tidak pernah.

Harta membuat Tsa’labah lupa. Ia juga tidak mau membayar zakat, infak dan juga sedekah. Ia beranggapan bahwa zakat hanya akan membuat hartanya berkurang. Padahal, harta tersebut hasil jerih payahnya. Bukan hasil kerja orang lain.

Rasulullah Saw., berulang kali mengutus seseorang untuk mengambil zakat dari Tsa’labah. Tapi, berulang kali juga Tsa’labah enggan membayarnya. Akhirnya, Rasulullah Saw., membiarkannya.

Sampai suatu ketika turunlah ayat 55-57 dari Surat at-Taubah. Isinya menyindir orang-orang yang awalnya berjanji akan menyedekahkan hartanya jika diberikan kekayaan. Tetapi, ketika kekayaan itu dimiliki, ia berpaling dan mengingkari janjinya.

Tsa’labah yang tahu perihal ayat tersebut dari kerabatnya, dengan tergopoh-gopoh menghadap Rasulullah Saw. Ia meminta Rasulullah Saw., menerima zakatnya. Akan tetapi, ganti Rasulullah Saw., yang menolaknya. 

Rasulullah bersabda, “ini adalah balasan amal perbuatanmu. Aku telah memerintahkannya kepadamu, tetapi kamu tidak menaatinya.” Hingga wafat, Rasulullah Saw., menolak zakat Tsa’labah.

Ketika Abu Bakar menjadi khalifah, Tsa’labah datang kepadanya. Ia hendak membayar zakat. Abu Bakar berkata, “Rasulullah Saw., tidak mau menerima zakat darimu. Lalu bagaimana aku menerimanya darimu?” Dan Abu Bakar wafat tanpa mau menerima zakat dari Tsa’labah.

Saat Umar bin Khathab menjadi khalifah menggantikan Abu Bakar, Tsa’labah juga datang kepadanya. Ia berniat membayar zakat. Umar bin Khathab berkata, “Rasulullah Saw., tidak mau menerimanya. Demikian juga Abu Bakar, bagaimana aku dapat menerimanya.” Dan Umar pun wafat tanpa mau menerimanya.

Baca Juga:  Bulan Muharram : Sejarah Persatuan, Perpecahan dan Tragedi Politik dalam Islam

Demikian juga Usman bin Affan yang didatangi oleh Tsa’labah setelah menjadi khalifah. Usman juga menolaknya seraya berkata, “Rasulullah Saw., tidak mau menerimanya, Abu Bakar dan Umar juga tidak menerimanya. Mana mungkin aku menerimanya.”

Akhirnya, Tsa’labah wafat di masa Usman. Ia binasa karena enggan membayar zakat.

Pelajaran yang bisa dipetik dari kisah Tsa’labah tersebut ada dua. Pertama, jika miskin bersabarlah. Kedua, jika kaya bersyukurlah. Semoga jika diberikan kekayaan oleh Allah Swt., kita senantiasa bersyukur dengan cara berbagi kepada sesama, membayar zakat, infaq dan juga sedekah. Semoga bermanfaat.

Bagikan Artikel ini:

About Nur Rokhim

Avatar of Nur Rokhim
Mahasiswa Pasca Sarjana Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Kalijaga. Aktif di Majalah Bangkit PWNU DIY

Check Also

musa dan firaun

Kisah Nabi Musa dan Firaun: Adab Mengkritik Seorang Penguasa yang Sangat Dzalim

Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya …

makkah

Ketika Masjidil Haram Ditutup karena Wabah Melanda

Presiden Jokowi telah menetapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat mulai tanggal 3-20 Juli mendatang. …