pasukan badar
pasukan badar

Alasan Abu Bakar Tidak Mengangkat Pahlawan Badar Menjadi Pejabat

Demokrasi membuka ruang kebebasan kepada siapa saja untuk meraih jabatan politik tertentu. Dari Kepala Desa, Bupati, Wali Kota, Gubernur sampai Presiden dipilih langsung oleh rakyat. Sistem demokrasi adalah “pesta rakyat” dan menjadi ajang kontestasi meraih kekuasaan.

Setiap calon penguasa dalam sistem pemilihan langsung ini melazimkan untuk memiliki sekelompok pendukung untuk suksesi. Biasanya disebut tim sukses. Bila calon yang diusung berhasil melenggang meraih tampuk kekuasaan, tim sukses inilah orang yang dipandang paling berjasa. Dan, dari sinilah kemudian muncul istilah bagi-bagi kue jabatan. Tak peduli apakah yang diangkat sebagai pejabat pada posisi tertentu berkualitas, memiliki kualifikasi dan kapabilitas atau tidak.

Apapun alasannya, proyek politik telah menggejala dan menjadi fenomena tak terbantahkan. Walaupun tidak semuanya penguasa mengedepankan sikap kolusi dan nepotisme, tapi sebagian besarnya seperti itu.

Hal ini berbeda dengan apa yang terjadi pada masa Khalifah Abu Bakar, demikian pula tiga khalifah berikutnya. Kekuasaan bagi mereka bukan sesuatu yang wah, mewah dan prestasi, melainkan lebih sebagai amanah yang harus dijalankan dengan baik dan jujur. Karena itu, pengisian jabatan pada posisi tertentu tidak didasarkan pada prinsip “siapa yang berjasa” tapi pada prinsip “siapa yang bisa”.

Hal ini seperti yang termaktub dalam kitab Siar al Salaf al Shalihin karya Syaikh Ismail bin Muhammad al Asbahani. Suatu ketika, Abu Bakar ditanya kenapa tidak mempekerjakan atau mengangkat seorang pun dari pahlawan perang badar sebagai pejabat? Abu Bakar menjawab, “Saya paham sekali posisi mereka, jasa dan perjuangan mereka, sebab saya salah satu dari pahlawan badar. Tetapi, saya tidak ingin mengotori kemuliaan mereka dengan urusan duniawi”.

Beginilah situasi politik pada saat itu. Tidak asal mengangkat mereka yang memiliki jasa besar sebagai pejabat. Kekuasaan saat itu, tak lebih sebagai sarana untuk perjuangan agama, bukan untuk kemewahan dunia. Padahal, siapapun memaklumi jasa besar pahlawan perang badar. Perang pertama dalam sejarah Islam yang sangat menentukan jalannya dakwah Nabi kedepannya.

Baca Juga:  Abu Dzar al Ghifari: Pemimpin Oposisi yang Tegas, Tapi Santun

Akan tetapi Abu Bakar justru mengambil langkah politik dengan tidak mengangkat pahlawan badar sebagai pejabat. Tidak ingin mengotori para kesatria badar dengan urusan duniawi. Abu Bakar khawatir bila mereka ditarik ke dalam pusaran kekuasaan akan membuat terlena dan tergerus oleh indahnya bujuk rayu kesenangan duniawi.

Hebatnya, tidak satupun pahlawan Badar yang menggugat kenapa dirinya tidak diangkat sebagai pejabat. Hal ini tidak lain karena para kesatria perang Badar berjuang setulus hati. Sedikitpun tidak terbersit pamrih selain mengharap ridlo Allah dan tegaknya ajaran Islam di bumi.

Kenyataan ini berbeda jauh dengan kondisi saat era sekarang. Bagaimana orang berebut kekuasaan sebagai pamrih perjuangannya. Lebih naif lagi, seorang rela membayar hanya demi untuk menjadi ASN dan jabatan-jabatan remeh yang lain.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

doa sebelum dan sesudah Wudhu

Wudhu di Kamar Mandi Plus WC; Bolehkah Membaca Doa Sebelum dan Sesudah Wudhu?

Menjadi kelaziman, saat ini kamar mandi didesain lengkap dengan sarana untuk buang hajat. Kamar mandi …

balita muntah

Balita Muntah Terkena Pakaian, Apakah Najis?

Muntah (qai’) adalah keluarnya makanan secara paksa dari perut melalui tenggorokan. Pada umumnya keluar dari …