tidak mampu membayar zakat
zakat

Solusi Bagi Mereka yang Tidak Mampu Membayar Zakat

Mampu menjadi kata kunci dalam kewajiban zakat. Dalam literatur fikih dijelaskan yang dimaksud mampu adalah memiliki kelebihan bahan makanan pokok untuk dirinya dan orang yang wajib dinafkahi pada malam hari raya dan pada hari raya.

Mafhum mukhalafah (hukum kebalikannya) dari definisi ini orang yang tidak memiliki kelebihan makanan pokok pada malam hari raya dan pada saat hari raya tidak wajib zakat.

Ibnu Hajar al Haitami dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj menjelaskan, ulama sepakat bahwa orang yang tidak mampu mengeluarkan zakat pada waktu wajibnya mengeluarkan zakat tidak wajib zakat, sekalipun setelah itu ia mampu.

Sampai di sini cukup jelas, bahwa orang yang tidak memiliki kelebihan makanan pada saat malam hari raya dan pada hari raya tidak wajib mengeluarkan zakat.

Bagaimana kalau mampu membayar hanya separuh?

Syaikh Khatib Syarbini dalam kitabnya Mughnil Muhtaj mengklasifikasi beberapa pendapat tentang hal ini.

Pendapat pertama, menurut pendapat yang paling shahih (qaul ashah), bagi yang mampu membayar separuh sha’, ia wajib membayar zakat dengan separuh sha’ tersebut.

Pendapat kedua mengatakan tidak wajib. Pendapat ini dianalogikan (qiyas) pada kasus orang yang hanya mampu memerdekakan separuh budak untuk membayar kaffarat. Walaupun sebenarnya qiyas seperti ini kurang tepat karena dalam kaffarat ada pilihan lain.

Apakah wajib qadha’ zakat bagi yang tidak wajib zakat?

Al Adzim ‘Abadi dalam ‘Aun al Ma’bud Syarah Sunan Abi Daud mengutip pendapat Ibnu Ruslan mengatakan, ulama sepakat haram hukumnya mengakhirkan membayar zakat melewati batas waktu yang telah ditentukan, sebagaimana haram menunaikan shalat lewat waktu.

Dalam kasus seperti ini, seperti dikatakan oleh Abu Ishaq al Syirazi dalam kitabnya Al Tanbih fi Fiqhis Syafi’i, orang yang tidak membayar zakat sampai batas yang telah ditentukan hukumnya berdosa dan wajib segera qadha’. Pendapat senada disampaikan oleh Ibnu Hajar al Haitami dalam kitabnya Tuhfatul Muhtaj.

Baca Juga:  Cerai: Syariat Yang Tak Direstui (Bagian 2)

Imam Ramli dalam kitabnya Nihayatul Muhtaj juga sepakat dengan pendapat ini. Imam Zarkasyi dan al Adzra’i memberi catatan, kewajiban qadha’ tersebut sifatnya segera secara mutlak, baik kelalaian membayar zakat karena ada udzur syar’i maupun tidak.

Dengan demikian yang wajib qadha’ adalah mereka yang mampu tetapi lalai membayar zakat sampai batas waktu yang telah ditentukan. Hukumnya haram kalau disengaja, akan tetapi kalau kelalaian tersebut karena udzur syar’i maka tidak haram dan tidak berdosa. Sementara bagi yang tidak mampu tidak wajib qadha’ zakat.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

Allah mengabulkan doa

Cara Allah Mengabulkan Doa Hambanya

Apakah semua doa hamba kepada Rabbnya akan dikabulkan? Kita harus yakin bahwa doa yang kita …

puasa syawal

Istri Puasa Sunnah Syawal, Tetapi Suami Tidak Mengizinkan?

Sebagaimana maklum diketahui, puasa Ramadhan ditambah puasa sunnah enam hari bulan Syawal pahalanya sama seperti …