nabi musa tidak mau berobat
nabi musa tidak mau berobat

Mencegah Covid-19 Cukup dengan Tawakal? Simak Kisah Nabi Musa yang Enggan Berobat

Ketika mengalami sakit atau mencegah sakit, apa yang harus dilakukan? Memilih tidak melakukan apa-apa dengan i’tikad tawakal? Simak kisah Nabi Musa yang enggan berobat meskipun dalam kondisi sakit.

Nabi Musa adalah seorang nabi dan salah satu dari lima Nabi yang berjuluk ulul azmi. Gelar ini diberikan karena kelima nabi tersebut, Nabi Muhammad, Ibrahim, Nuh, Isa dan Musa memiliki ketabahan luar biasa di atas rata-rata nabi yang lain. Faktor ini yang menyebabkan mereka kemudian diistimewakan oleh Allah. Terpilih diantara yang terpilih.

Tentu saja, sebagai rasul terkasih, mereka yang bergelar ulul ‘azmi selalu diayomi oleh rahmat Allah, kasih sayang-Nya selalu mengalir kepada mereka. Apapun yang diminta pasti akan dikabulkan oleh Allah. Termasuk untuk sembuh dari penyakit. Tak perlu ikhtiar, cukup tawakkal.

Tapi, walaupun demikian, para nabi ulul ‘azmi tidak kemudian menjadi manja, begitu juga nabi-nabi yang lain, mereka semua tidak seenak perutnya meminta penyelesaian semua problem kehidupan secara spontanitas kepada Allah. Justeru mereka lebih taat mengikuti alur sunnatullah. Termasuk ketika sakit mereka berusaha dengan ikhtiar dulu, berobat ke dokter, baru tawakkal.

Bahkan Nabi Musa pernah tak digubris oleh Allah gara-gara ia enggan minum obat di saat sakit dan langsung ingin Allah yang menyembuhkan. Alhasil, karena sifat Nabi Musa yang sok tawakkal itu makin memperparah penyakit yang dideritanya.

Kisah tentang Nabi Musa yang enggan minum obat ini dimuat oleh Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumuddin (4/278).

Dikisahkan, saat itu Nabi Musa sedang sakit. Petunjuk dari dokter menyarankan supaya ia minum obat. Tetapi Nabi Musa enggan minum obat resep dokter tersebut dan berharap Allah langsung yang menyembuhkan penyakitnya tanpa perantara obat. Nabi Musa tetap ngotot. Saran dari orang-orang yang pernah mengalami penyakit seperti dirinya yang sembuh setelah minum obat tersebut tidak didengarkan.

Baca Juga:  Lama dan Asyiknya Shalat Rasulullah : Kisah Hudzaifah Shalat Malam Bersama Nabi

Allah kemudian menegur sikap Nabi Musa yang enggan berobat, “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tidak akan menyembuhkan sakitmu sampai engkau berobat mengikuti petunjuk mereka”.

Setelah itu Nabi Musa berobat ke dokter dan meminum resep obat untuk mengobati penyakitnya. Ia pun sembuh. Setelah mengalami peristiwa ini hati Nabi Musa diliputi keraguan.

Allah kemudian menjawab keraguan Nabi Musa. “Apakah kamu akan membatalkan hikmah-Ku dengan tawakkalmu? Aku telah menitipkan beragam manfaat yang terdapat dalam perkebunan (tumbuhan, buah, biji-bijian, dan akar yang berfungsi sebagai obat)”.

Apa yang bisa kita tarik dari kisah Nabi Musa yang enggan berobat ini?

Kisah ini, bila kita tarik dalam konteks Vaksinasi sekarang memberikan pelajaran sangat berharga. Bahwa Allah akan menyembuhkan dan memberi solusi problem kehidupan setelah terlebih dahulu ada usaha dari manusia. Telah menjadi hukum alam bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya, dan obat itu akan diketahui setelah manusia berusaha mencarinya.

Maka, tidak keren, bahkan lucu, ketika ada sebagian ustad dan kiai juga sebagian umat Islam yang berkata bahwa mati itu pasti, tidak akan maju dan tidak pula mundur. Maka menghadapi Corona cukup tawakkal tidak perlu susah-susah untuk divaksinasi. Ucapan sok tawakkal seperti ini banyak kita jumpai diceramah-ceramah dan di dunia digital. Tak pelak, lahir sosok muslim yang merasa gak perlu ikhtiar cukup tawakkal.

Entah dari mana nalar berpikir seperti ini? Yakin, setingkat ustad apalagi kiai pasti telah mengerti. Kalaupun pura-pura tidak mengerti dan mendengungkan suara sumbang dan kontroversial soal vaksinasi Covid-19, maka tentu ada udang dibalik batu. Kepentingan pribadi, kepentingan politik, dan kepentingan duniawi yang lain yang untuk kepentingan itu semua harus menggadaikan perintah Allah supaya melakukan ikhtiar baru kemudia tawakkal, pasrah sepenuhnya kepada Allah.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

mahasiswi taliban

Haruskah Memisahkan Laki-laki dan Perempuan dalam Majelis Ilmu?

Taliban, penguasa baru Afghanistan melalui Menteri Pendidikan Tinggi Abdul Baqi Haqqani mengeluarkan dekrit, mahasiswi dapat …

bulan shafar

Menepis Anggapan Bulan Shafar sebagai Bulan Sial

Masyarakat Arab pra Islam atau masyarakat jahiliah mengenal istilah tasyaum. Suatu anggapan bahwa bulan Shafar …