penyebab malas beribadah

Beribadah untuk Mengingat Jati Diri Manusia, Kenali 4 Penyebab Manusia Malas Beribadah

Manusia diciptakan oleh Allah bukan untuk sekedar main-main, bersenda gurau atau kegiatan yang lainnya yang tidak memiliki tujuan. Manusia merupakan bagian dari alam semesta yang diciptakan Allah untuk suatu tujuan yakni beribadah kepadanya. Allah menegaskan “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Al-Dzariyat: 56).

Menjadi seorang manusia hendaknya mengetahui tanggungjawab dengan beribadah kepadanya, sebab tujuan dari beribadah sendiri ialah mengabdi kepada Sang Pencipta. Penegasan bahwa penciptaan manusia untuk mengabdi agar mereka tidak melupakan eksistensi dirinya sebagai salah satu makhluk Allah. Lalu, kenapa Allah memberikan tugas untuk beribadah?

Penting sekali bahwa manusia diciptakan dengan diberikan amanah sebagai pemimpin dan pengganti atau wakil (khalifah) Allah di muka bumi. “Sesungguh- nya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Al-baqarah : 30). Eksistensi manusia hanya abdi dan wakilNya. Ketika manusia tidak beribadah berarti sudah merasa dirinya bukan wakil, tetapi seolah menjadi Tuhan.

Nah, dengan demikian bisa dipahami bahwa tujuan ibadah adalah mengingatkan manusia bahwa dirinya adalah memegang amanah. Allah selalu mengingatkan manusia dalam bentuk ibadah dengan mengabdi kepada Nya. Jika mereka sudah malas beribadah berarti manusia telah melupakan amanah dan menegaskan dirinya bukan mengabdi kepada Tuhan.

Namun dalam kesehariannya, manusia selalu dihantui dengan rasa malas beribadah. Kebanyakan manusia akan lebih memilih untuk mendahulukan kepentingannya ketimbang beribadah kepada Allah. Ketika hal itu terjadi mereka lupa amanah dan tanggungjawabnya sebagai hamba sekaligus sebagai khalifah.

Penyebab Manusia Malas Beribadah

Imam Al-Ghazali dalam kitab “Minhajul Abidin” menjelaskan tentang penghalang yang selalu menjadi kendala bagi manusia dalam menjalankan ibadah. Ada 4 penyebab manusia malas beribadah.

Baca Juga:  10 Keistimewaan Bersedekah

Pertama, urusan dunia.

Realita saat ini kebanyakan manusia lebih mementingkan urusan dunia dari pada akhirat. Ini adalah kendala utama yang seringkali membuat manusia lupa bahkan malas dalam menjalankan kewajiban, misalnya shalat. Banyak orang meninggalkan shalat subuh dengan dalih bangun kesiangan. Dan ketika shalat Dzuhur tiba, ia berargumen sedang kerepotan dalam bekerja.

Saat datang waktu ashar, ia sibuk persiapan pulang kerja. Ketika waktu shalat maghrib masuk, ia dalam perjalanan. Dan pada akhirnya shalat Isya ditinggalkan gara-gara ketiduran. Ini realita yang terjadi, manusia sibuk dengan pekerjaan sampai melupakan kewajiban.

Manusia tersilaukan dunia. Manusia lalai terhadap eksistensi dirinya sebagai hamba. Manusia merasa memiliki dunia.

Kedua, urusan dengan sesama manusia.

Dalam menjalani hidup ini, semua manusia pasti ingin menggapai kesuksesan. Manusia dianugerahi oleh Allah naluri yang menjadikannya gemar memperoleh manfaat dan menghindari mudharat. Kesuksesan hidup tidak hanya diukur oleh capaian duniawi semata, namun banyaknya seseorang yang mampu menghalalkan segala cara demi mencukupi kebutuhan keluarga baik istri maupun anak, bahkan rela meninggalkan urusan ibadah demi mengejar keinginan mereka.

Manusia mulai mengorbankan tanggungjawabnya. Manusia mulai hubungannya dengan Tuhan karena lebih menjaga hubungan dengan sesama manusia.

Ketiga, setan.

Setan dikenalkan kepada manusia sebagai makhluk yang berusaha dengan berbagai cara agar manusia tersesat jalannya, terutama agar jauh dari Tuhannya. Terlebih lagi dalam urusan ibadah. Ia sangat senang bila manusia menjadi penghuni neraka bersama dirinya.

Setan diciptakan untuk menguji keimanan manusia sebagai makhluk yang dibanggakan oleh Allah sebagai pemimpin. Setan tidak akan senang jika manusia sukses mengelola dunia sebagai pemimpin. Sejak awal penciptaan manusia, Setan tidak pernah tunduk untuk mengakui eksistensi manusia.

Baca Juga:  Inilah Tujuh Manfaat Shadaqah yang Patut Digalakkan Di Tengah Pandemi

Keempat, hawa nafsu.

Jika setan adalah hal di luar manusia, hawa nafsu adalah dimensi inheren dalam manusia itu sendiri. Manusia memiliki hawa nafsu untuk kepentingan yang baik. Jika tidak bisa mengontrolnya, manusia akan selalu dikontrol oleh nafsu. Bila manusia selalu menuruti hawa nafsunya niscaya ia akan menjadi orang yang merugi di dunia dan akhirat. Kecenderungan seseorang kepada hawa nafsu dan syahwatnya mengakibatkan lemahnya kemauan dalam diri untuk melakukan ibadah.

Manusia harusnya memahami bahwa ia merupakan hamba yang paling mulai di antara mahkluk lainnya karena dibekali oleh akal untuk berfikir. Namun, manusia perlu menyadari bahwa kelebihan dan kemuliaan tersebut tidak bersifat abadi, tergantung pada sikap dan perbuatan manusia dalam kesehariannya.

Beribadah adalah cara manusia mengenali dirinya dan mengenali siapa yang menciptakannya. Ibadha menjadi pengontrol manusia untuk tidak terlena menjadi lebih superior dari makhluk lainnya bahkan merasa lebih superior dari Tuhan.

Karena itulah pentingnya untuk manusia mewaspadai apa yang telah di jelaskan oleh Imam Al-Ghazali agar menjadi peringatan diri kita agar lebih waspada dan berhati-hati dalam menghadapinya. Rintangan tersebut akan bisa dihadapi dengan ilmu dan keyakinan sehingga ibadah kita akan semakin bermakna dan membawa pengaruh yang positif bagi diri kita dan sekitar.

Bagikan Artikel ini:

About Indah Fauziah

Avatar of Indah Fauziah

Check Also

shalat taubat

Rasulullah Saja Mengucapkan Kata Taubat Setiap Hari, Begini Cara Shalat Taubat

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222) …

penyakit hati

Hati-hati Menjaga Hati

Seringkali kita mendengar ucapan seorang saudara dan kerabat yang memberikan pesan yang berulang-ulang. “hati-hati di …