islam timur tengah
islam timur tengah

Selalu Digambarkan Agama Kekerasan, Apa yang Hilang dalam Ajaran Islam?

Islam, media Barat cenderung mengabadikan stereotip bahwa Islam adalah agama kekerasan dan kaum perempuannya selalu tertindas. Ada banyak informasi yang salah tentang Islam. Misalnya saja Islam yang digambarkan dalam film-film Hollywood seperti American Sniper yang diperankan oleh Bradley Cooper mengubah tempat-tempat seperti Timur Tengah, khususnya Irak, menjadi zona perang yang penuh debu, tanpa budaya dan sejarah apapun. Ketakutan dan kecemasan dimanifestasikan dalam tindakan islamfobia seperti membakar masjid atau bahkan menyerang orang secara fisik.

Poin utama dari rasa ketakutan adalah ketidaktahuan. Sebuah jajak pendapat Desember 2015 menemukan bahwa 52 persen orang Amerika Serikat tidak memahami Islam. Dalam jajak pendapat yang sama, 36 persen juga mengatakan bahwa mereka ingin tahu lebih banyak tentang agama. Menariknya, mereka yang berusia di bawah 30 tahun 46 persen lebih mungkin memiliki pandangan yang baik tentang Islam.

Statistik tersebut menyoroti peluang bagi para tenaga pendidik, khususnya pendidikan keagamaan. Masalahnya adalah bahwa terkadang ajaran Islam hanya sebatas pada praktik keagamaan saja, atau hanya dogma semata. Sejatinya banyak hal yang terlewat dalam ajaran Islam, namun jarang sekali dibahas. Lantas apa saja ajaran Islam yang dirindukan saat ini?

Dalam buku-buku sejarah sekolah menengah, hanya sedikit disebutkan tentang sejarah Eropa, Asia dan Afrika yang saling terkait pada abad pertengahan dan Renaisans. Lebih sedikit lagi yang menyebutkan tentang berkembangnya seni, sastra, dan arsitektur selama ini.

Menurut Kishwar (2017), bahkan dalam buku teks sejarah dunia di sekolah menengah umum New York dijelaskan bahwa dunia Muslim muncul di bab ke-10, atau bab terakhir. Dalam memadatkan sejarah seribu tahun – dari abad ke-7 hingga abad ke-17 – ini hanya berfokus pada tentara Arab dan kebangkitan kerajaan Muslim modern awal.

Akibatnya, sempitnya pembahasan seperti itu kehilangan banyak pertukaran budaya. Misalnya, di Spanyol abad pertengahan, para penyair Troubadour meminjam keindahan lirik syair mereka dari bahasa Arab. Bahasa Arab adalah bahasa istana di Spanyol selatan sampai abad ke-15. Demikian pula, Kapel Palatine abad ke-12 di Sisilia dicat dan disepuh dengan gaya kekaisaran Fatimiyah, penguasa Mesir antara abad ke-10 dan ke-12.

Baca Juga:  Fikih Nusantara (18): Kitab Minhat al Qarib al Mujib Karya Tuan Tabal

Intinya adalah bahwa kisah Islam tidak dapat diceritakan tanpa pemahaman yang lebih dalam tentang sejarah budayanya: Bahkan untuk penguasa Muslim awal, kekaisaran Bizantium, kekaisaran Romawi, dan kekaisaran Sassania (kekaisaran Persia pra-Islam) yang memberikan model tumpang tindih seperti itu berlanjut selama berabad-abad, menghasilkan masyarakat heterodoks dan kosmopolitan.

Istilah “Timur Tengah”, yang diciptakan pada abad ke-19, gagal menggambarkan mosaik sosial dan budaya yang kompleks atau agama-agama yang telah ada di wilayah yang paling erat hubungannya dengan Islam – dan terus berlanjut hingga hari ini.

Bagaimana seni dapat menjelaskan hubungan penting. Lantas, apa yang harus dilakukan pendidik untuk meningkatkan literasi ini?

Menurut Kishwar (2017), gambaran yang lebih lengkap dapat dilukiskan jika identitas tidak semata-mata didefinisikan melalui agama. Artinya, pendidik bisa fokus pada pertukaran lintas budaya yang terjadi melintasi batas melalui penyair dan seniman, musisi dan arsitek. Baik di sekolah menengah dan universitas. Seni, musik dan sastra dapat menggambarkan hubungan penting antara Islam dan sejarah dunia lainnya.

Misalnya, kelas tentang Renaisans dapat menjelaskan bagaimana pelukis Italia abad ke-15 Gentile Bellini menjadi terkenal di istana Mehmet II, penakluk Istanbul. Mehmet II menugaskan Bellini untuk merancang potret kekaisaran yang dikirim ke penguasa di seluruh Eropa. Karya seninya menyajikan contoh indah dari pertukaran artistik yang terjadi antara kota-kota modern awal seperti Delhi, Istanbul, Venesia, dan Amsterdam.

Mungkin juga membantu siswa untuk mengetahui bahwa pelukis Belanda Rembrandt mengoleksi lukisan miniatur Mughal. Sutra dari kerajaan Safawi (dinasti Iran dari abad ke-16 hingga ke-18) sangat populer sehingga raja-raja Polandia menenun lambang mereka di Isfahan.

Pertukaran seni ini berlanjut hingga Abad Pencerahan, saat ide-ide seputar politik, filsafat, sains, dan komunikasi dengan cepat diorientasikan kembali di Eropa. Sebuah kelas tentang abad Pencerahan mungkin menyoroti fakta bahwa para penulis seperti Montesquieu beralih ke Timur Tengah untuk menyusun kritik terhadap institusi keagamaan mereka sendiri.

Baca Juga:  Sejarah NU, Gerakan Anti Aswaja dan Kemaslahatan Bangsa

Sebuah kelas puisi juga dapat menunjukkan hubungan antara tulisan-tulisan penulis Jerman Wolfgang von Goethe dan Islam, seperti yang dicontohkan dalam “West-Eastern Diwaan”, kumpulan puisinya. Lambang sastra dunia ini meniru gaya puisi Persia klasik, dan diilhami oleh tasawuf, tradisi mistik dalam Islam.

Sebagian besar siswa terbuka untuk melihat hubungan ini, bahkan jika itu mungkin memerlukan mengatasi prasangka mereka sendiri tentang Islam. Suatu saat Kishwar (2017) pernah mengajar kelasnya tentang arsitektur abad pertengahan, para siswa terkejut mengetahui bahwa dua universitas tertua yang terus berjalan di dunia berada di Afrika Utara, tepatnya di Fez, sebuah kota di Maroko, dan Kairo.

Namun menurutnya memang tidak mudah untuk mengurai politik kontemporer dari fakta sejarah, untuk mengajarkan secara lebih utuh budaya dan keragaman agama yang berusia hampir 2.000 tahun.

Kishwar menambahkan mungkin para pendidik dapat belajar dari pameran di Metropolitan Museum of Art di New York berjudul “Yerusalem 1000-1400: Every People Under Heaven.” Pertunjukan tersebut menggambarkan bagaimana agama-agama Ibrahim, yaitu Kristen, Yudaisme dan Islam, meminjam secara bebas satu sama lain dalam bidang seni, musik dan sastra. Yerusalem adalah rumah bagi beragam populasi dan seni memainkan peran penting dalam kehidupan agama dan politiknya.

Bagaimana dengan Indonesia?

Islam di Indonesia memiliki sejarah Panjang hingga menjadi mayoritas. Sejak abad ke- 12 atau 13, Islam tumbuh berkembang di Samudera Pasai, meluas ke Semenanjung Malaya dan Aceh, dan kemudian menyebar lebih luas ke seluruh Sumatera, Jawa, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, dan Nusa Tenggara. Berkembangnya Islam di Nusantara melibatkan banyak tokoh, unsur budaya dan sosial, hingga lembaga-lembaga yang akhirnya membentuk kekuasaan politik dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam yang telah kita kenal selama ini.

Baca Juga:  Islam dan Budaya Lokal: Meneladani Cara Rasul Mengarifi Tradisi

Penyebaran Islam di Nusantara tidak didominasi oleh pedang semata, tetapi melalui upaya ulama atau wali, sufi (faqir), para raja atau sultan, pemimpin tarekat, hingga seniwan dan budayawan. Kurun waktu yang lama, terjadi tranformasi sosial dan budaya dalam tubuh masyarakat Nusantara.

Pranata keagamaan berkembang beriringan dengan pranata sosial-budaya dan politik. Hampir semua keraton memiliki peran islamisasi yang luar biasa dengan aktor utama sultan dan ulama sebagai hakim, penasehat, atau mufti. Ordo sufi yakni tarekat seperti Qadiriyah, Naqsabandiyah, Tijaniyah, Awlawiyah, Khalwatiyah, Rifaiyah, Syattariyah, Syadziliyah, Rifa’iyyah, dan Idrisiyah juga berkembang pesat di Nusantara.

Selain itu, pada abad ke-17 hingga 19 jaringan ulama Nusantara berjalan dengan erat dengan pusat Islam terkemuka Mekah, Madinah, dan Kairo. Penulisan kitab oleh ulama Nusantara mencapai tingkat tertinggi di berbagai bidang keilmuan seperti fikih, tafsir, hadits, bahasa, astronomi, tasawuf, hingga ilmu pemerintahan.

Ciri-ciri Islam Jawa mungkin merepresentasikan pendekatan kultural yang lebih nyata daripada pendekatan kekuasaan atau struktural. Contoh yang paling banyak dikutip adalah peran kunci Wali Songo dalam Islamisasi Jawa. Menghadapi masyarakat Jawa dengan ketahanan budaya dan mistisisme.

Islamisasi Sumatera juga disebarkan melalui karya sastra yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Melayu. Bahkan sebagai pelopor sastra Melayu, Hamzah Fansuri memperkenalkan puisi ke dunia Melayu. Muridnya, Syamsudin Sumatrani menggunakan pantun sebagai media untuk menyampaikan pesan Islam kepada masyarakat Melayu. Isinya tentang ajaran tasawuf yang sulit tetapi terlokalisasi dengan baik dalam bahasa Melayu. Selain itu terdapat prosa, gurindam, hikayat dan lain sebagainya.

Kontribusi Muslim dalam seni, sastra, dan budaya tidak hanya mencerminkan keragaman Indonesia, tetapi keragaman Islam di negara ini. Muslim Indonesia terdiri dari permadani suku dan etnis, budaya dan bahasa yang kaya. Pengetahuan ini sangat berarti bagi generasi muda Muslim Indonesia membangun negeri penuh bangsa terhadap identitas keagamaannya.

Bagikan Artikel ini:

About Muhammad Hasan Izzurrahman

Avatar of Muhammad Hasan Izzurrahman

Check Also

gagasan perdamain dalam al-quran

Al-Quran dan Gagasan Perdamaian

Dalam perdebatan kontemporer mengenai akar Muslim radikalisme dan karakter agama Islam, dirasa penting untuk kembali …

perayaan idul adha

Idul Adha di Masa Pandemi : Sejarah dan Makna Perayaan

Idul Adha, atau dalam bahasa Arab (الأضحى) secara harfiah diterjemahkan sebagai hari raya qurban, sementara …