Islam yang Hilang di Tengah Muslim

0
1359
islam yang hilang
sumber ilustrasi : independent.co.uk

Islam menjadi mayoritas di sebuah negara seperti di Indonesia. Bahkan dijadikan dasar seperti beberapa negara di Timur Tengah. Namun, kenapa Islam seolah hilang di tengah umat Islam. Nilai, etika dan prinsip Islam tidak ditemukan, tetapi justru muncul di negara non muslim.

Apakah semua persoalan ini adalah solusinya berujung pada butuhnya negara yang berdasarkan syariat Islam? Toh, di beberapa negara Islam perang berkecamuk, perang saudara terjadi, konflik tiada henti, dan problem kemanusiaan lainnya selalu mengitari. Sementara, di negara non-muslim, nilai dan etika Islam seperti kebersihan, kedisiplinan, kesetaraan dan penghargaan hak asasi begitu dijunjung tinggi.

Jangan ada sumbu pendek untuk selalu teriak saatnya Islam ditegakkan karena sudah janji Allah. Mari kita renungkan. Tidak perlu ada emosi dalam menilai secara obyektif kondisi “muslim” saat ini.

Saya secara sengaja ingin meletakkan tanda kutip pada muslim, untuk membedakan antara Islam dan muslim. Dalam kondisi dan taraf tertentu, muslim dan negara muslim tidak merepresentasikan Islam. Islam itu sebuah ajaran suci, mulia dan indah, sementara muslim adalah kumpulan yang mengekpresikan Islam dalam bentuk yang berbeda-beda. Kadang kompetensi dan kapasitas memahami Islam berbeda-beda.

Ketika Menteri Pertahanan Malaysia, Mohamad Sabu, berkunjung ke Indonesia dalam sebuah diskusi di Gedung PBNU (25/1/2020) dia mengatakan bahwa kadang umat Islam meneriakkan takbir, tetapi bom diledakkan. Kalimat suci dipekik kencang, tetapi untuk membunuh saudaranya.

Sabu menceritakan secara gamblang Islamadalah ajaran yang tinggi tetapi umatnya semakin tertinggal. Kemiskinan, peperangan, dan keterbelakangan hampir menyelimuti umat Islam di beberapa negara. Dia mencontohkan Afghanistan, rakyatnya buta huruf; di Libya, Irak rakyatnya peminta sedekah, Yaman banyak orang yang ngebom orang Islam sendiri. Di Somalia lembu pun tak bisa hidup karena menjadi negara termiskin, penduduknya orang Islam.  Bahkan di Pakistan bom seolah tiada henti, bahkan jamaah shalat jumat menjadi korban.

Baca Juga:  Jangan Mengaku Beriman, Jika Tidak Punya Cinta

Menjadi sangat ironi dan hampir tidak habis pikir. Tidak sedikit, walaupun cuma segelintir, di negara yang sudah aman menyebut pemerintahannya kafir. Ada kelompok yang berteriak Islam tetapi mengkafir-kafirkan negaranya.

Dalam Islam ditegaskan sesama muslim adalah bersaudara, tetapi kenyataannya malah saling bertikai dan berperang. Islam mementingkan kebersihan dalam Islam, tetapi banyak masyarakat muslim yang kumuh dan terbelakang. Justru nilai-nilai islami hadir di negara-negara yang bukan Islam. Mereka melaksanakan nilai Islam seperti disiplin, taat hukum, dan amanah. Islam hadir di tengah masyarakat non-muslim. Tetapi hilang di tengah muslim.

Internalisasi, Bukan Institusionalisasi

Sebenarnya tidak perlu terlalu panjang lebar dan sekali lagi memekikkan takbir untuk menjawab persoalan ini. Saya hanya ingin mengutip quote penting dari pemikir pembaharuan dalam Islam Syekh Muhammad Abduh yang inilah sebenarnya persoalan penting umat saat ini : “Al-Islamu mahjuubun bil muslimin”, Islam tertutup oleh umat Islam itu sendiri.

Kalimat tersebut buah refleksi panjang atas jawaban kondisi muslim saat itu dan tentu saat ini. Cahaya keindahan Islam tertutupi oleh perilaku buruk umat Islam. Ajaran lembut Islam tertutupi oleh perilaku kasar umat Islam. Ajaran perdamaian Islam terhijabi oleh perilaku perang antar umat Islam.

Kalimat Muhammad Abduh ini begitu amat tajam, menukik dan menampak umat Islam. Namun, sebenarnya kalimat ini juga tamparan bagi Abduh sendiri ketika ia mengenalkan Islam begitu Indah dan santun di Barat, tetapi ketika para muridnya memprotes kondisi Islam Timur Tengah yang berlainan dengan gambaran dan citra Islam yang diajarkan.

Atas gambaran tersebut lalu terkenallah suatu perkataan Syekh al-Azhar ini sebagai penggugah semangat berislam:  “dzahabtu ilaa bilaad al-ghorbi, roaitu al-Islam wa lam aro al-muslimiin. Wa dzahabtu ilaa bilaad al-‘arobi, roaitu al-muslimiin, wa lam aro al-Islam”. (aku pergi ke negara Barat, aku melihat Islam namun tidak melihat orang muslim. Dan aku pergi ke negara Arab, aku melihat orang muslim namun tidak melihat Islam).

Baca Juga:  10 Ajaran Tasawuf Menurut Imam Junaid

Refleksi yang mendalam dari seorang Syekh ini bukan suatu afirmasi tentang butuhnya institusi dalam menegakkan Islam di tengah masyarakat. Justru di Arab telah ada institusi dan perangkat hukum yang menegakkan Islam, tetapi kenapa Islam menjadi hilang?

Refleksi ini bukan afirmasi institusionalisasi Islam, tetapi justru internalisasi Islam. Islam menjadi nilai dan norma, bukan sekedar perangkat formal. Islam menjadi etos bukan menjadi lambang. Islam menjadi ruh yang hidup di tengah masyarakat yang seluruh masyarakat mempraktekkan nilai-nilai islami.

Tinggalkan Balasan