Ilmu dan Ulama Medis; Tradisi yang Hilang dalam Peradaban Islam

0
1033
ilmu medis islam

Islam pernah mengalami masa keemasan dengan peradaban yang ditopang oleh pengetahuan, salahnya ilmu medis atau kedokteran. Banyak muncul tokoh dan figur dalam bidang kedokteran yang juga seorang ulama. Menggeluti bidang medis bukan berarti tidak paham agama, tetapi justru sangat fasih dalam bidang keisalaman yang lain.

Berbeda dengan saat ini. Umat Islam kadang menafsirkan apapun gejala sakit hanya dari sudut keagamaan semata. Tanpa dasar riset ilmiah medis, lontaran dikeluarkan. Virus corona, misalnya, dianggap azab atau tentara Allah karena tidak mempunyai latarbelakang medis seperti ulama-ulama terdahulu yang detail menjelaskan tentang fenomena penyakit.

Sedikit-sedikit tafsir agama muncul hanya untuk menghakimi. Gejala alam seperti gempa, badai, tsunami, dan bencana virus hanya dilihat dari tafsir-tafsir agama yang tendensius. Seolah selalu memberikan komentar keagamaan, tetapi minim ilmu pengetahuan yang kompeten.

Islam dan Ilmu Medis

Jika serius membaca al Qur’an, hal pertama yang harus diambil sebagi ‘ibrah adalah membaca (iqra’). Bukan tanpa maksud ketika Allah menurunkan ayat pertama tersebut kepada Nabi. Iqra’ bukan hanya membaca huruf dan kalimat ala kadarnya, namun lebih pada pembacaan yang lingkupnya lebih luas.

Tanda-tanda kekuasaan Allah, sebagai sumber pengetahuan, bertebaran di alam semesta dan tersimpan dalam diri manusia. Karena itu, al-Qur’an ketika mentasbihkan dirinya sebagai sumber segala ilmu pengetahuan bukanlah pernyataan yang mengada-ada. Tergantung sejauh mana manusia yang dibekali akal mampu mengeksplor ilmu pengetahuan tersebut.

Rasulullah, sebenarnya telah memberikan isyarat tentang potensi yang dimiliki ummatnya untuk mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan dengan mengatakan bahwa “kamu sekalian lebih mengerti atas urusan dunia kamu sekalian.”

Spirit hadis Nabi memberikan peluang seluas-luasnya kepada umat Islam untuk melakukan riset dan penelitian ilmu pengetahuan. Termasuk ilmu kedokteran. Sehingga apabila terjadi suatu wabah, seperti Covid-19 saat ini, jawaban yang muncul bukan semata alasan dari sudut pandang agama yang sifatnya hanya moral belaka, melainkan ada upaya secara medis sebagai jawaban yang menguatkan konsep ikhtiar dari agama.

Sederet Tokoh Ulama Medis dalam Islam

Model seperti ini sebetulnya telah dilakukan oleh para pendahulu ummat Islam, sejak masa Nabi, sahabat dan puncaknya terjadi di masa keemasan Islam dengan munculnya beberapa tokoh muslim dalam bidang medis dan kedokteran. Para ulama masa itu, di samping memberikan jawaban dari sudut dalil agama, juga mencarikan jawaban atas persoalan medis yang muncul.  

Dalam sejarah peradaban Islam, ilmu medis atau kedokteran ada sejak masa Nabi, beliau sangat mengapresiasinya dan menganjurkan kepada para sahabat untuk mempelajarinya. Isyarat itu tampak ketika Nabi menyuruh kaum muslimin yang sakit untuk berobat kepada seorang dokter non Muslim, Haris bin Kaladah.

Isyarat Nabi itu ditangkap oleh sebagian umat Islam. Tercatatlah di kemudian hari beberapa pakar dan ahli kedokteran dari kalangan muslim. Bahkan sampai mewariskan keahliannya dengan menulis karya-karya di bidang kedokteran.

Ada Ali Al Tabari. Dia adalah dokter muslim yang menjadi dokter pribadi Khalifah al Mutawakkil yang menulis kitab Firdaus al Hikmah, kitab kedokteran berbahasa Arab pertama. Kitab kedokteran yang mengkolaborasikan tata pikir teori medis Yunani dan India.

Berikutnya tercatat nama Abu Bakar Muhammad bin Zakaria al Razi, menulis buku kedokteran sebanyak dua ratus buku. Selain sebagai dokter, ia juga ahli kimia dan filsafat. Karyanya yang paling terkenal adalah kitab al Mansuri setebal sepuluh jilid. Kitab ini lalu diterjemah dengan judul Liber Almansoris.

Karya beliau yang lain adalah Kitab al Judari wa al Hasbah yang mengulas secara detail penyakit Cacar dan Campak. Karya al Razi yang lain adalah Kitab al-hawi. Kitab ini berisi sistem medis yang disarikan dari pelbagai tradisi ilmu kedokteran yang meliputi Islam, Yunani, dan Hindu. Kitab ini kemudian diterjemahkan ke dalam banyak bahasa seperti Siryani, Yunani dan Latin. Dan menjadi rujukan utama ilmu kedokteran.

Begitu hebat dan mengagumkan. Bila diperbandingkan dengan masa kita saat ini, tentu perbedaannya terlampau jauh. Penyebabnya tentu bukan karena kalah cerdas atau daya tampung otak yang berbeda. Tak lain karena semangat yang dimiliki para pendahulu telah hilang dari umat Islam saat ini. Semangat itulah yang perlu dihadirkan ulang.

Seperti semangat yang ada pada diri Ibnu Sina, dokter sekaligus ulama dan  filsuf besar. Patut direnungkan kenapa Ibnu Sina sampai digelari Rajanya dokter (Medicorum Principal) oleh seabrek dokter-dokter di Eropa saat itu. Kalau tidak karena kehebatan dan kepiawaiannya dalam hal medis, tentu gelar itu tidak akan disematkan untuknya.

Bukti bahwa Ibnu Sina sebagai sosok dokter yang adiluhung adalah tulisannya yang begitu banyak membahas ilmu kedokteran. Karyanya yang sangat fenomenal berjudul al Qanun fi al Tibb yang menjabarkan prinsip-prinsip Kedokteran dan kitab al Syifa. Dua mahakarya yang mempengaruhi fakultas-fakultas kedokteran di Eropa sampai abad 17 M.

Salah satu riset yang dilakukan oleh Ibnu Sina adalah Evidence-Based Medicine. Dalam teori ini Ibn Sina mengembangkan rational causation –sebab-akibat yang rasional– dalam pengujian dan konfirmasi obat-obatan. Ibnu Sina menyatakan jika pengobatan itu masuk dalam kategori ilmu empiris.

Nama dokter muslim berikutnya adalah Abul Qasim al Zahrawi al Qurtubi. Terkenal di Eropa dengan nama Abulcasis. Dokter spesialis bedah dan dokter gigi. Dokter muslim berkebangsaan Spanyol ini menulis sebuah ensiklopedi berjudul al Tasrif li Man Arjaza ‘an al Ta’lif. Pada jilid terakhir dari ensiklopedi ini ia  menulis dengan jelas diagram dua ratus macam alat bedah.

Nama lain yang tak kalah hebatnya adalah Ibnu Rusyd atau Averoes dalam logat orang Barat. Seorang ulama fiqih sekaligus dokter. Ibnu Rusyd merupakan perintis ilmu jaringan tubuh (histologi). Dalam karyanya al Kulliyyat fi al Tibb (Kedokteran Umum) beliau menjelaskan fungsi retina. Dan menyatakan bahwa seseorang tidak akan terjangkit penyakit cacar dua kali. Teori yang terbukti kebenarannya hingga saat ini.

Sementara dokter dari kalangan muslimah, tercatat nama Ukhtu al Hufaid bin Zuhur. Bahkan anak perempuannya  adalah dokter wanita yang bekerja di Istana Khalifah al Mansur di Andalusia. Zainab adalah ahli penyakit mata dan ilmu bedah zaman Bani Umayyah. Tercatat pula nama Syahadatu Dinuriyah dan Binti Duhain al Luz Damsyiqiah di Suriah.

Muslim Jangan Buta Ilmu Medis

Dari catatan perjalanan ilmu pengetahuan Islam di atas, khususnya di bidang kedokteran, bila ditarik pada masa ini tentu ada sesuatu yang hilang. Umat Islam seakan kehilangan gairah mendalami pengetahuan tentang medis. Kalaupun toh ada, hanya segelintir dan kalah jauh dengan dokter-dokter non Islam.

Tidak seperti mereka yang telah tersebut di atas. Begitu hebat dan menjadi penghulu bahkan Raja Dirajanya para dokter. Sehingga ketika ada problem yang terkait masalah medis, seperti Covid-19 saat ini, tentu ada jawaban lain di samping argumentasi keagamaan yang bersifat moral belaka.

Ketika ada bencana penyakit yang membutuhkan pendekatan medis, para ulama tidak hanya menyitir fatwa-fatwa agama, apalagi hanya memberikan tuduhan azab dengan tafsir yang tidak konstruktif. Para ulama tidak hanya membanggakan ibadah-ibadah Islam seperti wudhu’, tetapi berperan dalam penelitian ilmiah bidang kedokteran dalam menjelaskan hal itu.