Mengenal Ilmuwan Muslim yang Merubah Peradaban Dunia

0
1141
ilmuwan muslim
sumber foto: sindonews

Tidak bisa ditampik bahwa Islam pernah mengalami masa kejayaan di berbagai bidang. Masa itu dikenal dengan masa keemasan (Islamic Golde Age). Pada saat itu, Islam muncul sebagai peradaban pemegang obor estafet kedua dari perkembangan ilmu pengetahuan umat manusia setelah dimulai sejak era klasik Yunani, Romawi, Persia, India. 

Salah satu pendorong era keemasan Islam itu adalah pengaruh dua orang khalifah besar, Harun al Rasyid dan anaknya, al Makmun. Keduanya mempunyai cita-cita dan keinginan kuat untuk membangun peradaban Islam yang menjunjung tinggi perkembangan sains, logika, rasionalitas, serta menjaga kemajuan ilmu pengetahuan.

Zaman kejayaan itu dibuktikan dengan hadirnya beberapa ilmuwan yang mendunia kala itu. Dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki masing-masing, peradaban Islam menjelma sebagai kiblat ilmu pengetahuan. Tidak hanya bagi umat Islam, tapi juga para pemerhati ilmu pengetahuan secara umum.

Sumbangan besar para ilmuan tersebut menorehkan tinta emas dalam sejarah peradaban dunia. Mereka merupakan penyumbang terbesar untuk ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Lalu, siapakah para ilmuan sekaligus tokoh-tokoh pada era itu? Serta ilmu pengetahuan dan budaya apa saja yang berkembang pesat pada masa itu?

Ibnu Sina

Memiliki nama lengkap Abu Ali al Husain Ibn Abdallah Ibn Al Hasan Ibn Ali Ibn Sina. Lebih masyhur dengan sebutan Ibnu Sina dan dalam logat orang eropa dipanggil Avicenna. Berkebangsaan Uzbekistan. Jenius dan benar-benar mendalami hampir semua ilmu pengetahuan, filsafat, kedokteran, astronomi.

Ibnu Sina atau Avicenna ini memiliki karya luar biasa bidang kedokteran. Bukunya yang berjudul “Al Qanun fi al Tibb” atau “The Canon of Medicine” dalam terjemah Inggrisnya” menjadi referensi wajib atau rujukan utama para mahasiswa kedokteran di penjuru Eropa sampe abad ke-18, atau kurang lebih 700 tahun ke depan terhitung sejak buku itu ditulis dan diterbitkan. Fenomenal dan Monumental. Luar biasa.

Bagaimana karya Ibnu Sina itu tidak dikatakan sangat spektakuler, karena pada zaman itu, dunia medis masih sangat miskin pengetahuan. Kebanyakan tabib hanya meraba-raba berdasarkan pengalaman tanpa didasari eksperimen serta pengetahuan yang sahih tentang bagaimana sistem tubuh manusia bekerja.

Ibnu Sina, saat itu mengumpulkan seluruh pengetahuan ilmu faal, anatomi, intervensi medis dari jaman klasik Yunani, Romawi, Persia dan India sejak jaman Hippokrates dan Galen, sekaligus digabung dengan riset dan eksperimen medis yang ia lakukan. Jadilah sebuah maha karya spektakuler tersebut. Karena buku itu pula Ibnu Sina atau Avicenna kemudian disebut sebagai “Bapak Pengobatan Modern”.

Ibnu Sina, pada masanya, dikenal sebagai orang yang memiliki pikiran sangat logis dan rasional. Jauh melampaui manusia-manusia pada zamannya. Tradisi intelektualnya berkembang karena pengaruh ajaran Aristoteles dan Plato. Sebagaimana jamak diketahui, keduanya merupakan perintis tonggak pertama konsep filsafat logika serta budaya untuk selalu mempertanyakan segala sesuatu sampai ke akar-akarnya, mendalam dan konfrehensif. Berpijak pada pola pikir yang demikian, ia tidak cuma mengembangkan banyak ilmu pengetahuan, tapi juga mengkritik banyak perkembangan ilmu yang keliru dan masih bercampur dengan hal-hal mistis dan supranatural.

Baca Juga:  Syeikh Ihsan Muhammad Dahlan Al Jampesi Kediri: Sosok Al Ghazali Kecil Dari Kediri

Selain kitab al Qanun fi al Tibb, Ibnu Sina juga menulis kitab “al Shifa” atau lebih dikenal dengan The Book of Healing. Sebuah karya dalam bidang Metodologi Penelitian. Dalam kitab ini, ia meletakkan dasar-dasar dan aturan dalam menjalankan metode eksperimen dalam mencari kebenaran dalam ilmu pengetahuan. Dikemudian hari, metode saintifiknya tersebut disempurnakan oleh Galileo yang terkenal dengan Bapak Sains Modern.

Sedangkan dalam bidang astronomi, Ibnu Sina menulis kitab “Ar Risalah fi Ibtal Ahkam al Nujum” membantah klaim-klaim para astrolog yang menyatakan bahwa pergerakan benda langit memiliki efek terhadap nasib manusia. Menurutnya asumsi ini di luar penalaran dan sesuatu yang mengada-ada. Tidak rasional.  

Dalam bidang Kimia, Ibnu Sina membantah klaim para pakar kimia (alchemist) yang menyatakan bahwa ada zat yang bisa mengubah timbal menjadi emas yang waktu itu dikenal dengan istilah “The Philosopher’s Stone”. Sementara, untuk ilmu Geologi, dalam kitabnya, al Shifa, ia juga membuat hipotesis bahwa awal terbentuknya gunung adalah proses pergerakan permukaan bumi seperti gempa bumi dan pergerakan sungai.

Sedangkan sumbangannya dalam ilmu Fisika, dalam bidang mekanika, Avicenna mengelaborasikan teori “motion” atau gerakan. Sedangkan dalam bidang fisika optic, ia sempat menyatakan bahwa cahaya memiliki kecepatan. Teori ini yang kemudian disempurnakan oleh Ole Cristensen Romer, Maxwell dan Einstein.

Adapun dalam psikologi, Ibnu Sina atau Avicenna juga menyatakan bahwa “jiwa” itu sebetulnya hanya merupakan bentuk persepsi fisiologis kesadaran manusia, dan bukan merupakan hal yang supernatural. Filosofi mengenai kejiwaan ini mempengaruhi banyak filsuf Barat jaman Renaissance, terutama Rene Descartes. 

Al Kindi

Meskipun kemasyhurannya tidak melampaui Ibnu Sina, namun al Kindi masuk jajaran seorang ilmuwan muslim terbesar sepanjang masa. Nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Ya’qub Ibn Ishaq Al Sabbah al Kindi.

Awalnya, Al Kindi dipercaya oleh Khalifah Al Ma’mun sebagai ketua tim proyek penerjemah naskah-naskah filsafat kuno dari Yunani dan Romawi di Bait al Hikmah. Pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan sekaligus perpustakaan pertama dalam peradaban Islam. Inilah yang menjadi sebab penguasaannya yang luar biasa terhadap ilmu pengetahuan.

Proyek penerjemahan tersebut menuntutnya untuk banyak membaca. Berbagai literatur ilmu pengetahuan dari berbagai sumber paling awal peradaban filsafat klasik. Sehingga wajar kalau kemudian ia menguasai berbagai ilmu pengetahuan.

Al Kindi, dengan proyek penerjemahannya memberikan sumbangan besar terhadap kemajuan peradaban Islam. Faedah lain dari kerja kerasnya adalah generasi saat itu dan generasi berikutnya bisa kenal yang namanya Avicenna, Al Farabi, dan Al Ghazali, dan lain-lain.

Baca Juga:  Cerita dari Blora untuk Mbah Moen

Proyek penerjemahan yang dikerjakannya secara otomatis membentuknya menjadi seorang penulis. Karena proyek ini pula, para ilmuan yang lain berhutang besar terhadap buah karya terjemahan dari naskah-naskah kuno hasil jerih payah Al Kindi.

Kerja besar yang juga dicapai oleh oleh al Kindi adalah tulisannya yang sangat banyak. Lebih dari 260 buku berhasil ia tulis sebagai sintesa hasil pemikirannya sendiri. Buku-buku yang dia tulis terdiri dari berbagai disipilin ilmu. Mulai dari filsafat, matematika, kedokteran, fisika, astronomi, kimia, sampai teori tentang musik dia tekuni sampai tuntas.

Beberapa pemikirannya memberikan kontribusi berharga dalam ilmu pengetahuan. Sebagai misal, dalam bidang optik, ia menyebutkan bahwa agar mata bisa melihat benda, perlu perantara yang bisa mengarahkan benda tersebut ke mata kita, yakni, udara. Dalam bidang kimia, al Kindi bisa dikatakan sebagai orang pertama yang menyuling alkohol dan memproduksi alkohol pabrikan dalam jumlah banyak.

Selain itu, dia juga menentang para ahli kimia yang menyebutkan bahwa unsur bisa berubah-ubah. Al Kindi juga orang pertama dalam bidang matematika yang mengadaptasi angka India jadi sistem bilangan Hindu-Arab. Yaitu angka 9-0 yang kita pakai sampai saat ini.

Al Khayyam

Seorang ahli matematika, astronom, dan pujangga yang hebat. Ilmuwan asal Persia ini lahir di Nishapur-Iran, menimba ilmu matematika di Samarkand, lalu bekerja sebagai astronom di kota Bukhara. Samarkand dan Bukhara, saat ini terletak di Uzbekistan. Dialah Abu al Fath Umar Ibn Ibrahim Al Khayyam.

Dalam bidang matematika, sumbangan terbesar Khayyam adalah Segi Empat yang terkenal dengan “Khayyam Saccheri”. Teori ini ia temukan saat dirinya lagi pusing mencari cara untuk menerangkan ke masyarakat matematika soal postulat-postulatnya Euclid.

Selain itu, dia juga dikenal sebagai orang yang pertama kali secara lengkap menjabarkan konsep “Segitiga Pascal”. Sehingga saat ini banyak ahli matematika yang menyebutkan penjabaran binomial ini sebagai “Segitiga Khayyam Pascal”.

Sedangkan dalam dunia astronomi, ia bisa membuktikan bahwa Bumi berputar pada sumbunya. Selain itu, dia juga salah satu anggota tim perumus kalender Iran yang dikenal sebagai Jalali Calender. Dan dalam bidang sastra,al Khayyam banyak menulis karya berupa buku puisi, yang paling terkenal adalah “Rubaiyat of Omar Khayyam. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di dunia.

Al Khwarizmi

Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa Al Khawarizmi adalah ilmuan yang juga paling mendunia namanya. Ilmuwan asal Khwarezm, Uzbekistan, ini berasal dari keluarga dengan latar belakang penganut agama Zoroastrianisme (Majusi). Namanya sering disebut tanpa sadar, terutama ketika belajar Algoritma. Algoritma merupakan istilah yang diambil dari nama Khawarizmi. 

Baca Juga:  Tujuh Fuqaha Madinah: Penyambung Sanad Keilmuan Nabi ke Imam Madzhab

Kontribusi terbesarnya ketika mengembangkan pendekatan khusus untuk memecahkan persamaan linear dan kuadrat, yang kita kenal dengan nama “Aljabar”. Konsep aljabar ditulisnya dalam Kitab Al Mukhtasar fi Hisāb al Jabr wa al Muqabalah atau “Rangkuman untuk Kalkulasi dengan Melengkapkan dan Menyeimbangkan”.

Selain itu, beliau adalah ilmuan yang berhasil memetakan pergerakan matahari, bulan, dan kelima planet yang dia tulis. Seperti tercantum dalam kitabnya, Zij al-Sindhind (Perhitungan Astronomi Pakistan dan India).

Al Khwarizmi juga ditugaskan oleh Khalifah Al Ma’mun untuk membuat peta dunia, sekaligus mengukur keliling bumi melalui proyeksi terhadap gerakan matahari dan pendekatan matematis. Proyek ini menghasilkan salah satu kitab terbesarnya  yaitu kitab, Surat al-Ardh (Citra Permukaan Bumi), yang lebih terkenal di Barat, dan di dunia saat ini, dengan judul “Geography”.

 Nasir al Din al Tusi

Ilmuwan yang satu ini memang tidak begitu terkenal dibandingkan ilmuan lainnya. Seorang ilmuwan asal Persia abad ke 13. Merupakan ilmuwan generasi akhir di dunia Islam era ke emasan. Tepatnya setelah Baghdad diluluhlantakkan oleh bangsa Mongol dibawah kepemimpinan Hulagi Khan.

Invasi militer Khulagu Khan menyebabkan terjadinya pergeseran kekuasaan. Al Tusi kala itu  mengabdikan  dirinya kepada Khan. Ia merupakan ilmuan yang menguasai banyak disiplin keilmuan, sama seperti ilmuwan yang lain sebelumnya.

Ia menguasai matematika, astronomi, fisika, kimia, biologi, serta sastra. Satu hal yang istimewa dari al Tusi adalah teorinya tentang mekanisme “Seleksi Alami yang membentuk keanekaragaman hayati di dunia”. Teori ini ia kemukakan 750 tahun sebelum Charles Darwin dan Alfred Wallace, mengungkap rahasia Seleksi Alami.

Al Tusi menyebutkan bahwa organisme-organisme yang lebih cepat untuk bermutasi dan berubah bentuk atau memiliki perubahan fungsi organ akan lebih bervariasi dibandingkan individu lainnya. Badan organisme tersebut berubah karena faktor internal dan eksternal. Teori ini merupakan titik awal pemikiran manusia tentang asal mula spesies terbentuk. Al Tusi mengungkapkan teori ini dalam kitab Akhlaq-i- Nasri.

Selain itu, Tusi berhasil menulis beberap kitab, Tajrid-al-‘Aqaid, sebuah kajian tentang Ilmu Kalam; serta Al-Tadhkirah fi’ilm al-hay’ah, sebuah memoir tentang ilmu astronomi. Kitab tentang astronomi yang ditulis Nasiruddin itu banyak mendapat komentar dari para pakar astronomi. Komentar-komentar itu dibukukan dalam sebuah buku berjudul Sharh al-Tadhkirah (Sebuah Komentar atas Al-Tadhkirah) yang ditulis Abd al-Ali ibn Muhammad ibn al-Husayn al-Birjandi dan Nazzam Nishapuri.

Selain mencetuskan gagasan tentang seleksi alami, Tusi juga merupakan orang yang berjasa dalam memberikan jalan untuk munculnya era Renaissance di Eropa. Karena dialah yang menyelamatkan 400,000 buku ketika Bait al Hikmah dihancurkan oleh Mongol. Ia membawa kabur naskah-naskah tersebut ke Observatorium Maraghed, Azerbaijan. Di tempat itu, ia melanjutkan risetnya tentang pergerakan Bumi yang akhirnya menjadi inspirasi bagi Nicolaus Copernicus tiga abad berselang sebagai orang pertama yang membuktikan bahwa bumi mengelilingi matahari, bukan sebaliknya.

 Abu al Walid Muhammad Ibn Rushd

Ibnu Rushd atau Averros adalah seorang ilmuan multi disiplin. Lahir di daerah Andalusia, Spanyol. Cakupan bidang yang dia pelajari sangat luas dari mulai logika, filsafat, psikologi, geografi, matematika, sampai kedokteran. Dikenal sebagai ilmuwan Muslim terakhir yang dengan gigih memperjuangkan nilai-nilai logika dan metode sains dalam kebudayaan Islam di tengah gerakan dari lawan pemikirannya yaitu Imam Ghazali yang mengkritik bahwa pencampuran ajaran filsafat Yunani dari zaman Aristoteles hingga Avicenna dan Al Farabi itu sesat dan tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Gara-gara pembelaannya terhadap filsafat Yunani dan metode sains, dirinya dikucilkan dari komunitas Islam dan dianggap sesat oleh tiga agama sekaligus, Islam, Kristen, dan Yahudi.

Sampai akhir hayatnya, Ibn Rushd tetap setia sama pandangannya bahwa ilmu pengetahuan, filsafat, dan agama bisa berjalan beriringan. Ironisnya, Ibn Rushd dikenang sebagai pejuang terakhir, walupun sangat disayangkan karena ia gagal melakukan perlawanan terakhir para ilmuwan Islam untuk mengedepankan logika dan pendekatan metode saintifk.

Tinggalkan Balasan