qorun
qorun

Kisah Qarun: Simbol Oligarki Finansial dalam Al Qur’an

Terlalu sederhana, hanya menceritakan Qarun sebagai pengusaha tamak sampai lupa perintah zakat. Hampir tidak ada yang mengulas lebih mendalam, misalnya,  tentang latar belakang Qarun yang awalnya miskin sampai menjelma menjadi pengusaha paling kaya.

Juga, keterlibatannya dalam lingkaran kekuasaan kerajaan Fir’aun dan perseteruan politiknya dengan Nabi Musa.  Padahal, hal ini penting juga dipelajari dan diceritakan turun-temurun, dari generasi ke generasi sebagai ‘ibrah (pelajaran).

Siapa Qarun? Identitasnya diungkap oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Ia masih sepupu Nabi Musa. Ayah Qarun yang bernama Yashura bin Qahits adalah saudara kandung Imran bin Qahits, ayah Nabi Musa.

Dalam al Qur’an (Ghafir: 36-37), diceritakan Fir’aun memerintahkan Haman untuk membangun beberapa menara tinggi. Fir’aun berambisi mengintip Tuhan Musa melalui bangunan-bangunan pencakar langit tersebut. Ide gila yang akhirnya merugikan negara sampai bangkrut.

Ibnu Atsir dalam al Kamil fi al Tarikh menginformasikan proyek pembangunan menara pencakar langit berlangsung selama tujuh tahun. Lebih jauh, Ibnu Dhiya dalam Tarikh Makkah al Musyrifah wa al Masjid al Haram menyebut jumlah menara tinggi tersebut sebanyak 50.000 unit dan tingginya mencapai 5000 hasta.

Mega proyek ini tentu membutuhkan anggaran besar. Butuh bahan material yang tak terkira jumlahnya, upah pekerja, dll. 5000 hasta apabila dikonversi ke meter maka tinggi menara adalah 2.286 meter. Adakah bangunan setinggi itu saat ini?

Saat itu, berkat doa Nabi Musa Qarun menjadi orang kaya dengan usaha ternak kambingnya. Dan sekarang ia mendapat peluang baru untuk menambah pundi-pundi uangnya.

Haman, politisi predator dengan senang hati menjadi pelaksana tugas mega proyek karena banyak keuntungan yang akan diperoleh, tak peduli apakah negara akan bangkrut. Sedangkan Qarun, dengan kekuatan finansial berperan sebagai pemodal (kontraktor) pembangunan mega proyek tersebut.

Inilah yang mengantarkan Qarun menjadi pengusaha kaya raya. Diceritakan, kunci gudang harta kekayaannya harus diangkat oleh delapan laki-laki dewasa berbadan tegap. Bayangkan, itu hanya kunci tempat menyimpan harta dan aset Qarun.

Kolaborasi Haman dan Qarun menciptakan lingkaran oligarki politik dan oligarki finansial dalam pemerintahan kerajaan Fir’aun. Haman sebagai simbol oligarki politik dan Qarun menjadi simbol oligarki finansial.

Oligarki politik dan oligarki finansial malang melintang di kerajaan Fir’aun menyebabkan kerajaan Fir’aun menjadi lemah dan bangkrut. Meskipun Fir’aun sendiri menyumbang kontribusi juga terhadap kehancuran kerajaannya karena penentangan dan intimidasi terhadap Nabi Musa. Tetapi, meningkatnya oligarki politik dan oligarki finansial lebih dominan sebagai sebab lemahnya kekuasaan Fir’aun.

Qarun Versus Nabi Musa

Perseteruan dua sepupu dimulai ketika Nabi Musa mendapat wahyu dari Tuhan, memerintahkan Qarun untuk mengeluarkan zakat. Hal ini seperti diriwayatkan oleh Abu Laits dalam Hamisah Tafsir Yasin.

Qarun menolak perintah Nabi Musa. Lebih dari itu, Qarun memprovokasi Bani Israil untuk memusuhi Nabi Musa. Bahkan, Qarun melancarkan fitnah keji untuk meruntuhkan dominasi Nabi Musa terhadap Bani Israil.

Qarun membayar seorang seorang pelacur supaya mengaku telah berzina dengan Nabi Musa. Fitnah dan berita bohong (hoaks) mengguncang Nabi Musa. Namun usaha Qarun tidak berhasil karena Tuhan memberikan perlindungan kepada Nabi Musa. Pelacur yang telah dibayar oleh Qarun justru mengaku dihadapan Musa dan Bani Israil bahwa dirinya telah dibayar Qarun untuk melakukan kebohongan publik berupa fitnah dan berita hoaks tersebut.

Faktor lain perseteruan keduanya karena Qarun iri dan cemburu kepada Nabi Musa. Pasalnya, Bani Israil lebih condong kepada Musa dan Harun sebagai pemimpin. Qarun tidak mendapatkan simpati dari Bani Israil, padahal dirinya kaya.

Qarun kemudian berpihak kepada Fir’aun dan menjadi agen raja kejam itu untuk memecah belah Bani Israil (QS. Al Qashash: 3). Lebih dari itu, Qarun pernah menyerang Harun setelah dilimpahi kekuasaan oleh Musa (QS. Al A’raf: 150).

Dengan demikian, perseteruan antara Qarun dengan Nabi Musa dan Nabi Harun bukan karena alasan teologis, tetapi lebih karena motif uang, bisnis dan kekuasaan. Demi keuntungan, uang dan kekuasaan Qarun berpihak kepada Fir’aun karena lebih menguntungkan sekalipun harus menjual saudara-saudaranya sendiri.

Ambisi duniawi Qarun semakin menjadi-jadi, disamping melakukan monopoli perdagangan, Qarun juga sebagai donatur dan mensupport segala kebijakan Fir’aun, terlebih mega proyek “menara tinggi” yang membuatnya meraup keuntungan tidak terhingga.

Demikianlah kisah Qarun, seorang pebisnis kaya raya. Sayang, ketamakan terhadap harta duniawi membuatnya menjadi pribadi yang menghalalkan segala cara. Akibatnya, Qarun beserta kroni-kroninya mati mengenaskan di telan bumi, termasuk seluruh harta kekayaan Qarun.

Bagikan Artikel ini:

About Nurfati Maulida

Avatar of Nurfati Maulida

Check Also

sunat perempuan

Hukum Fikih tentang Sunat bagi Perempuan

Sunat atau khitan pada perempuan merupakan fenomena sosial yang bisa ditemukan diberbagai belahan dunia, termasuk …

mendidik anak

Supaya Sukses Mendidik Anak, Kenali Empat Model Anak dalam al Qur’an

Setiap orang tua menginginkan anak-anaknya bergembira, bukan murung atau menanggung sedih tak berujung. Mereka ingin …