siswa aniaya guru
siswa aniaya guru

Akhlak Siswa yang Hilang kepada Gurunya

Guru memiliki peran penting dalam kehidupan seseorang. Jasanya telah menghantar beberapa orang meraih mimpi dan cita-citanya. Guru memiliki jasa penting tidak hanya untuk meraih mimpi dan cita-cita, tetapi memberikan ilmu yang bermanfaat bagi peserta didiknya dalam menempa kehidupan.

Namun sayangnya, tidak sedikit profesi guru dipandang sebelah mata. Bahkan dewasa ini peserta didik sudah krisis akhlak dalam memuliakan gurunya. Beberapa hari lalu, kasus siswa yang menganiaya gurunya di kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada Rabu (21/9). Ialah ibu Theresia yang merupakan seorang ibu guru SMA Negeri 9 Lasiana Kupang, yang menjadi korban kekerasan siswanya. Ironisnya, kasus pemukulan tersebut terjadi saat jam pelajaran sedang berlangsung.

Kala itu ibu Theresia tengah memberikan evaluasi dari pelajaran minggu lalu. Evaluasi diadakan karena minggu lalu tidak semua siswa dapat mengikuti pelajaran dari Theresia, karena sebagian siswanya mengikuti kegiatan pembinaan Osis.

Dalam kegiatan evaluasi ada siswa yang ditunjuk untuk membaca, namun siswa tersebut ternyata tidak memperhatikan apa yang telah diucapkan oleh gurunya. Karena tidak memperhatikan, Theresia lantas kemudian menunjuk kepala muridnya tersebut, tanpa disadari, siswa itu membalas dengan kepalan tangan dan memukuli wajah Theresia, sehingga darah segar pun mengucur deras dari dalam hidungnya. Sedangkan mata bagian kanan membengkak dan kebiruan akibat tinju siswa tersebut.

Kejadian itu bukan yang pertama. Di Sampang pada tahun 2018, ada seorang siswa menganiaya guru kesenian hingga meninggal. Pada Oktober 2019, seorang siswa juga melakukan penikaman terhadap guru di salah satu SMK di Manado.

Berbagai kejadian itu memang sangat miris. Adab seorang murid kepada guru sudah mulai semakin mengkhawatirkan. Ini menjadi persoalan utama generasi saat ini karena menganggap guru hanya sebagai ikatan kontraktual yang tidak ada hubungannya dengan kemanfaatan ilmu.

Menjaga adab terhadap guru merupakan suatu yang mutlak dilakukan oleh seorang murid dalam proses pendidikan. Karena salah satu hal penting untuk meraih keberkahan ilmu dan memperoleh ilmu yang bermanfaat tergantung pada adabnya seorang murid tersebut kepada gurunya.

Karena itulah, ulama memberikan panduan pentingnya menjaga adab ketika berhadapan dengan guru. Panduan ini agar peserta didik memiliki norma dan etika dalam memuliakan seorang guru. Ilmu akan rusak apabila proses pendidikan dimulai tanpa adanya adab dan akhlak seorang murid kepada gurunya.

Dalam kitab Ta’lim Muta’alim karya Sheikh Az-Zarnuji, disebutkan ada beberapa akhlak yang harus dilaksanakan oleh seorang peserta didik : “Seorang murid tidak berjalan di depan gurunya; Tidak duduk di tempat gurunya; Tidak memulai bicara kecuali dengan izin gurunya; Tidak berbicara di hadapan guru; Berbicara ataupun bertanya tidak meninggikan suara; Tidak bertanya sesuatu bila guru sedang capek; Harus menjaga waktunya, jangan mengetuk pintunya, tapi menunggu sampai guru keluar; Seorang murid harus mendapat kerelaan hati gurunya, harus menjauhi hal-hal yang menyebabkan guru marah; Mematuhi perintahnya asal tidak bertentangan dengan agama; termasuk menghormati guru adalah dengan menghormati keluarganya putra-putrinya, istrinya, temannya,  dan sanak kerabatnya; Jangan menyakiti hati seorang guru karena ilmu yang dipelajarinya akan tidak berkah.”

Panduan seperti ini sepertinya hanya bisa kita lihat di pesantren. Rasanya akhlak seperti ini sudah pudar dan hilang di tengah kehidupan siswa saat ini. Padahal sejatinya ikatan guru dan murid di sekolah juga memiliki nilai yang sama. Besarnya jasa para guru yang telah memberikan ilmu yang mereka miliki harus dibalas dengan sikap menghormati dan memuliakan seorang murid kepada gurunya.

Sikap tersebut merupakan bentuk atau cara yang ditanamkan oleh guru untuk mendisiplinkan muridnya. Karena dalam kehidupannya di luar sana setelah mereka selesai menjadi seorang murid, mereka akan menghadapi kehidupan yang lebih keras dibandingkan hanya kedisiplinan yang ada di dalam kelas.

Seorang guru kerap menahan amarahnya, yang selalu merasakan perihnya menahan kesabaran. Sungguh tak pantas seorang murid melupakan kebaikan gurunya, dan  atau bahkan menganiaya terhadap guru yang telah membuatnya banyak mengerti akan suatu hal.

Bagikan Artikel ini:

About Sefti Lutfiana

Mahasiswa universitas negeri jember Fak. Hukum

Check Also

belajar membaca alquran pertolongan bagi mualaf bertujuan untuk menguatkan 210327203725 989 scaled

3 Ilmu yang Wajib Dipelajari dan Diajarkan

Manusia merupakan makhluk Tuhan yang diciptakan lebih sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya. Namun kesempurnaan manusia …

agama bisa menyembuhkan

Agama Bisa Menyembuhkan Penyakit?

Saya mendapatkan satu postingan yang sangat menarik tentang sebuah hasil riset. Sebuah riset menggunakan binatang …