umar bin khattab
umar bin khattab

Keteladanan Khalifah Umar Saat Dikritik Perempuan Tua

Banyak yang mengatakan bahwa ketika seseorang mau menjadi pemimpin, maka harus mau pula dikritik. Memang pemimpin itu tempatnya kritikan. Sebagus apapun seorang pemimpin mengelola pemerintahannya, pasti ada saja yang mengkritiknya. Khulafa ar-Rasyidin kedua yakni Umar bin Khatab pun pernah menuai kritikan.

Kritikan seperti sunatullah, siapapun pemimpinnya pasti akan mengalami kritikan. Siapa yang tak kenal khalifah Umar, pemimpin yang arif dan bijaksana. Beliau pun pernah mengalami kritikan, yang membuat dirinya hanya terdiam tanpa kata. Kisah sekilas saat khalifah Umar dikritik ini bisa menjadi teladan bagi kita semua yang hakikatnya sebagai pemimpin untuk diri masing-masing.

Dalam masa kepemimpinannya yang 10 tahun itu, memang khalifah Umar membuka kran demokrasi selebar-lebarnya. Artinya beliau selalu menerima keluh kesah, saran dan masukan dari siapapun. Semasa menjabat sebagai khalifah, Umar memang tak pernah ‘menunggu bola’. Beliau selalu ‘menjemput bola’. Maksudnya khalifah Umar tak mau ‘disowani’. Melainkan apa yang dibutuhkan dan menjadi masalah masyarakat, beliau ingin tahu sendiri.

Salah satu cara beliau mengetahui permasalahan masyarakatnya yakni dengan cara turun ke lapangan, atau sekarang lebih popular disebut ‘blusukan’. Ya, Umar selalu sendiri, tanpa pengawalan. Beliau lakukan hal tersebut di pagi, siang, sore maupun malam. Tak jarang beliau menyimpan identitasnya, untuk mengetahui kondisi dan tanggapan sesungguhnya masyarakat atas kepemimpinannya.

Pada suatu ketika, khalifah Umar diberhentikan oleh seorang perempuan Khaulah binti Tsa’labah. Ya, beruntung, khalifah Umar karena termasuk orang yang bersahaja, beliau pun menuruti kemauan Khaulah. Ketika sudah dihadapan khalifah, perempuan tersebut lantas tak pikir Panjang, langsung berbicara dengan nada kritik. Kritikan yang bermakna nasihat dan peringatan itu sebagai berikut :

يا عمر ، كنتَ تدعَى عُميرا ثم صرتَ عمر ، ثم قيل لك أميرُ المؤمنين ، فاتق الله يا عمر ، فإنه مَن أيقن بالموت خاف الفوتَ ، و من أيقن بالحساب خاف العذاب .

Baca Juga:  Meneladani Keseharian Rasulullah (1) : Nabi dengan Tetangga Non Muslim

“Wahai Umar, engkau dulu dipanggil Umair (Umar kecil), kemudian berubah menjadi Umar, lalu sekarang engkau dipanggil dengan julukan “amirul mukminin“. (Pesan saya) : takutlah engkau, wahai Umar kepada Allah, karena barangsiapa meyakini adanya kematian, ia pasti khawatir akan hilangnya kesempatan, dan siapa saja orang yang mempercayai adanya hisab, ia pasti takut menghadapi adzab.”

            Peristiwa diamnya khalifah Umar didepan perempuan tua yang sedang mengkritiknya tersebut menuai banyak perhatian masyarakat sekitar. Bahkan peristiwa tersebut menjadi tontonan publik. Karena mereka keheranan atas fenomena janggal dan menarik tersebut. Oleh karenanya, ada seseorang yang dengan berani bertanya kepada khalifahnya perihal tersebut. Dalam percakapan itu, khalifah khalifah hanya bisa berdiam dan memohon ampunan mereka kepada Allha.

Seseorang bertanya: “kenapa anda hanya diam ketika perempuan tersebut mengkritik anda.”  

Khalifah Umar menjawab : “Sesungguhnya perempuan itu memohon agar saya berhenti di tempat ini dari awal siang sampai akhir siang, pasti saya tidak akan beranjak kecuali untuk shalat. Tahukah kalian, siapakah perempuan tua itu?”

Seseorang lalu mejawab : kami tidak tahu.

Khalifah Umar menjelaskan, Dia adalah Khaulah binti Tsa’labah, seorang perempuan yang perkataannya didengar oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dari atas langit yang tujuh. Apa pantas Umar tidak mau mendengarkan ucapan perempuan itu, sementara Allah Ta’ala mau mendengarkannya.

Kisah tentang Khaulah binti Tsa’labah secara singkat difirmankan oleh Allah sbb :

قد سمع الله قول التي تجادلك في زوجها و تشتكي إلى الله ، و الله يسمع تحاوركما ، إن الله سميع بصير

(المجادلة : ١)

”Tentu Allah mendengar perkataan perempuan yang mengajukan permasalahan kepadamu (nabi Muhammad SAW) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal-jawab kamu berdua. Sesungguhnya, Allah Maha mendengar lagi Maha melihat”.

            Kisah ini sesungguhnya bisa menjadi teladan kita semua agar selalu menghormati orang yang lebih tua. Bagaimanapun orang yang lebih tua dari kita itu memiliki pengalaman yang lebih banyak dari kita di dunia. Jadi sesungguhnya, kita memerlukan nasihat dan masukan dari orang yang lebih tua. Supaya kita berjalan sesuai orientasi.

Bagikan Artikel ini:

About M. Alfiyan Dzulfikar

Avatar of M. Alfiyan Dzulfikar

Check Also

doa penutup

Inilah Doa atau Bacaan Penutup Acara yang Sering Dibaca Para Sahabat Rasulullah

  وَالْعَصْرِ إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. …

lelah

Jangan Khawatir, 7 Lelah Inilah yang Disukai Allah

Pasti kita sudah familiar dengan kalimat “biar lelah asal lillah” atau “semoga lelah ini membawa …