istri khalifah
istri khalifah

Dialah Istri Khalifah, Putri Khalifah, dan Saudari Para Khalifah

Menjadi  putri seorang khalifah, memiliki saudara para khalifah, dan dipersunting oleh seorang laki-laki sholih yang juga menjadi khalifah  adalah sebuah anugerah terindah, dan juga impian mayoritas wanita. Selain memiliki eksistensi, prestise, dan status sosial yang luar biasa, ia pasti mendapatkan fasilitas yang tak terhingga.

Ketika dunia berbicara tentang wanita, berapa banyak sosok wanita yang haus akan kehormatan, gila akan gelimang materi dunia, memanfaatkan jabatan dan kekuasaan ayah, suami bahkan saudara sebagai ajang menumpuk materi dengan menghalalkan segala cara. begitulah potret sebagian wanita dewasa ini yang banyak kita temui di republik negeri tercinta.

Meski begitu, tetap ada wanita yang berbeda, sejarah pernah mencatat kezuhudan seorang wanita akan gemerlap dunia, melihat dunia dengan apa adanya padahal ia memiliki segalanya.

Dialah Fatimah binti Abdul Malik.  Wanita bersahaja yang nyaris sempurna. Dia cantik, cerdas, keturunan terpandang, kaya raya, serta taat beribadah. wanita mulia, baik agama, akhlak, maupun status sosialnya, akan tetapi tidak terpengaruh dengan materi dan kekuasaan sejenak.

Sejak kecil Fatimah memang hidup dengan gelimang harta dunia, juga dengan status sosial yang tinggi. Di kelilingi oleh para khalifah, tapi itu tak menjadikannya sombong dan angkuh.

Ketika beranjak dewasa, Fatimah di persunting oleh seorang laki-laki sholih, ahli fiqih, terkenal dengan sifat wara’ nya. Dan ia juga sangat  terpandang, ia adalah anak dari pamannya Abdul Aziz bin Marwan. yaitu Umar bin Abdul Aziz bin Marwan, sekaligus cicit Umar bin Khatab.

Setelah menikah, Fatimah telah memiliki harta dan perhiasan yang melimpah pemberian dari ayahnya yang ia siapkan untuk kebutuhan keluarga nya.

Kezuhudan seorang Ibu negara

Pada tahun 717 M Umar bin Abdul Aziz di baiat sebagai seorang Khalifah. Menurut riwayat, kebijakan-kebijakan Umar selalu berpihak kepada masyarakat, dan berhasil memulihkan keadaan negara seperti masa empat khalifah Khulafaur Rasyidin.

Setelah dibaiat, Kekayaan keluarga ini menjadi ‘masalah’. Dia menyadari sebagai khalifah memiliki beban yang sangat berat, terutama godaan harta. sebelum memegang amanah, dia mengajak Fatimah mengurangi beban hidupnya dengan cara menyerahkan semua harta, berikut perhiasan yang dimiliki Fatimah ke Baitul Mal.

Umar bin Abdul Aziz memberi pilihan kepada Fatimah, “ wahai Fatimah, istriku, Bukankah engkau telah tahu apa yang menimpaku? Beban yang teramat berat dipikulkan ke pundakku, menjadi seorang pemimpin untuk umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tugas ini sungguh menyita waktuku hingga hakku terhadapmu akan terabaikan.”

Pada kondisi ini kita dapat bercermin kepada Fatimah, bagaimana Islam mendidik seorang Wanita sehingga diangkat derajatnya oleh Allah. Di sinilah terlihat bahwa sosok Fatimah adalah perempuan yang berhias diri dengan akal sehat dan keimanan yang kuat. Ia memilih untuk bersama suami, setia mendampingi, dan turut memikul tanggung jawab.

Lembar sejarah mencatat, sosok Fatimah binti Abdul Malik adalah perempuan salihah yang hebat dengan jiwa ikhlas dan sabar. Pendukung pertama gerakan perubahan yang dilakukan suaminya, yakni gerakan kesederhanaan para pemimpin dalam kehidupan.

Fatimah juga menunjukkan sebagai istri yang berbakti. Demi keridaan sang suami tercinta, ia rela meninggalkan kemewahan hidup yang selama ini dinikmatinya. Semua dilakukan dengan penuh kesadaran, keikhlasan atas pondasi keimanan yang kuat dengan semata mengharapkan keridaan dan surga Allah.

Tanda keridaan pertama yang dilakukan oleh Fatimah adalah berpindah dari istana ke rumah yang sempit yang dibangun dari tanah liat. Di rumahnya yang baru, Fatimah hidup dengan penuh kesederhanaan, menjahit sendiri pakaian yang dikenakan, memasak makanan yang disantap, semuanya serba sederhana tanpa ada kemewahan, semua sama dengan rakyat biasa. Bahkan, Fatimah pun membantu suaminya memperbaiki rumah jika diperlukan. Padahal status mereka adalah kepala negara dan ibu negara.

Siapa yang tak jatuh hati setelah mendengar kemulian Fatimah binti Abdul Malik. Pertanyaannya, apakah kita berhenti setelah mendengar kisah nya, tanpa bercermin pada akhlaknya yang seharusnya menjadi panutan bagi setiap wanita? 

Bagikan Artikel ini:

About Diah Nuruddiniah

Alumni STIBA Ar-Raayah Sukabumi, Mahasiswi PTIQ Program Master Pendidikan Islam

Check Also

tidak takut corona

Ketika Wabah Tak Kunjung Punah, Inilah pelajaran dan Hikmah yang Harus Diambil

Beginilah seorang muslim menyikapi wabah yang tak kunjung punah, yang kerap membuat penduduk bumi panik …

corona mahkluk allah

Corona adalah Makhluk Allah, Bagaimana Muslim Menyikapinya

Pada dasarnya virus corona adalah salah salah satu makhluk Allah yang diciptakan pasti dengan hikmah …

escortescort