mahram
mahram

Macam dan Kriteria Mahram dalam Islam

Sebagai umat muslim, kita tentunya telah banyak mendengar tentang istilah mahram. Mahram itu memiliki konsekuensi hukum salah satunya yang paling sering dibicarakan ketidakbolehan untuk dinikahi. Namun, macam mahram dan pembagiannya juga tidak simple dan sederhanan persoalan pertalian darah.

Mahram memiliki arti haram atau terlarang untuk dinikahi. Seorang wanita yang haram untuk dinikahi dan juga menyangkut boleh atau tidaknya melihat aurat dan hubungan baik langsung maupun tidak langsung atau bisa berkonsekuensi tidak batalnya wudhu seseorang karena bersentuhan dengan sesame mahram. Namun, tidak semua bersentuhan dengan mahram berarti tidak membatalkan wudhu’. Pembagian mahram tentu tidak sederhana.

Lantas siapakah wanita atau lelaki mahram itu? Mahram adalah orang yang haram untuk dinikahi dengan beberapa sebab. Adapun dua macam keharaman yakni hurmah mu’abbadah (haram selamanya) dan hurmah mu’aqqatah (haram dalam waktu tertentu).

Pertama, mahram yang bersifat abadi (Hurmah Mu’abbadah)

Para ulama membagi mahram abadi ini menjadi tiga kelompok. Mahram ini terjadi dengan sebab adanya hubungan kekerabatan, karena hubungan permantuan (mushaharah) dan susuan.

1. Mahram karena kekerabatan (nasab)

Dalam Al-Quran surat an-Nisa ayat 23 disebutkan bahwa, “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara perempuan seper susuan, ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya, (diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu), dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua permpuan bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dalam ayat tersebut di tuliskan bahwa mahram karena nasab, terdiri dari

Baca Juga:  Keutamaan dan Niat Puasa Tanggal 9 dan 10 Bulan Muharram

1.       Ibu kandung dan seterusnya ke atas seperti nenek, ibunya nenek.

2.       Anak wanita dan seterusnya ke bawah seperti anak perempuannya anak perempuan.

3.       Saudara kandung wanita.

4.       Ammat / Bibi (saudara wanita ayah).

5.       Khaalaat / Bibi (saudara wanita ibu).

6.       Banatul Akh / Anak wanita dari saudara laki-laki.

7.       Banatul Ukht / anak wanita dari saudara wanita

Ketentuan ini berlaku bagi seorang laki-laki, dan bagi seorang perempuan berlaku sebaliknya, yaitu haram bagi mereka menikahi ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki dan seterusnya.

2. Mahram karena hubungan permantuan (mushaharah).

Perempuan yang haram dinikahi karena disebabkan hubungan permantuan ada empat yaitu Ibu dari istri (mertua wanita), Anak wanita dari istri (anak tiri), Istri dari anak laki-laki (menantu peremuan), Istri dari ayah (ibu tiri).

3. Mahram karena hubungan sepersusuan.

Terakhir mahram yang haram dinikahi karena sebab sepersusuan ada tujuh jenis yaitu, ibu yang menyusui, saudara perempuan susuan, anak perempuan saudara laki-laki susuan, anak perempuan saudara perempuan susuan, bibi susuan (saudarah susuan ayah), saudara susuan ibu dan anak perempuan susuan (yang menyusu pada istri).

Kedua, mahram yang bersifat sementara (hurmah mu’aqqatah)

Selain mahram yang bersifat abadi (Hurmah Mu’abbadah), dalam Islam juga ada istilah mahram yang bersifat sementara, yang berarti seorang wanita yang tadinya haram dinikahi menjadi halal dikarenakan beberapa sebab. Mereka ialah :

1.       Saudara ipar. Tidak boleh dinikahi tapi juga tidak boleh khalwat atau melihat sebagian auratnya. Hal yang sama juga berlaku bagi bibi dari istri. Namun bila hubungan suami istri dengan saudara dari ipar itu sudah selesai atau dalam kata lain mereka bercerai baik karena cerai mati maupun cerai hidup maka, maka ipar yang tadinya haram dinikahi menjadi boleh dinikahi. Demikian juga dengan bibi dari mantan istri.

Baca Juga:  Mau Akad Nikah, Jangan Lupa Shalat Sunnah Dulu

2.       Istri yang telah ditalak tiga (baca perbedaan talak satu, dua dan tiga), untuk sementara haram dinikahi namun ia boleh kembali dinikahi apabila ia telah menikah dengan pria lain dan kemudian bercerai. Tentunya dengan menunggu masa iddahnya juga.

3.       Wanita budak tidak boleh dinikahi seorang pria yang mampu menikah dengan seorang wanita merdeka. Namun jika sang pria tidak mampu maka ia boleh menikahi wanita budak tersebut.

4.       Wanita penzina hukumnya haram dinikahi dalam artian ia terus melakukan zina namun jika ia sudah bertobat dan tidak melakukannya lagi, ia boleh dinikahi.

5.       Wanita yang telah dicerai suaminya dengan cara dilaknat atau dili’an haram untuk dinikahi kecuali mantan suaminya telah menarik kembali kata-katanya dan meminta maaf pada sang wanita ataupun sang wanita telah bertobat atas dasar celaannya itu.

6.       Wanita nonmuslim juga haram hukumnya untuk dinikahi namun jika wanita tersebut telah masuk islam atau menjadi mualaf  ia boleh dinikahi atau halal hukumnya bagi pria untuk menikahinya.

Persoalan mahram merupakan syariat yang diatur dalam Islam yang tentu saja mengandung hikmah. Kehormatan seseorang adalah pertimbangan utama di samping bahaya yang lain yang tersimpan dalam pelarangan pernikahan dengan mahram.

Bagikan Artikel ini:

About Eva Novavita

Avatar of Eva Novavita

Check Also

singgasana sulaiman

Cerita Nabi Sulaiman untuk Anak (3) : Kisah Raja Sulaiman dan Ratu Balqis

Setelah Nabi Daud wafat, kini Nabi Sulaiman meneruskan tahta kerajaan dan memimpin Bani Israil. Seperti …

singgasana sulaiman

Cerita Nabi Sulaiman untuk Anak (2) : Nabi Sulaiman dan Perempuan Korban Pemerkosaan

Sebelumnya sudah diceritakan tentang kecerdasan Nabi Sulaiman dalam memecahkan masalah. Kisah kehebatan Nabi sulaiman tak …