Guru
Guru

Guru Dan Secawan Kopi : Kriteria dan Pentingnya Guru

Nasib guru tak ubahnya seperti nasib sebulir gula dalam secawan kopi. Maksudnya, secangkir wedang kopi bila terasa pahit dilidah, maka akan dibilang kurang gulanya. Begitu juga saat secangkir wedang kopi terlalu manis dikecap, maka, gulapun akan mendapat vonis, terlalu banyak gulanya. Tetapi bila secangkir wedang kopi itu terasa pas rasanya, maka, akan dikatakan kopinya begitu nikmat. Gulapun dilupakan perannya.

Guru juga begitu nasibnya, bila muridnya nakal, yang didamprat adalah gurunya. Bila muridnya cerdas berprestasi, anak siapa dulu, begitu orang tua mengklaimnya. Peran guru nyaris tak pernah dibaca. Begitu dunia guru. Maka, tidak heran bila ada pepatah jawa mengatakan bahwa guru itu ‘sepi ing pamrih lan rame ing gawe’ (banyak pekerjaannya sedikit imbalannya).

Lalu seperti apa keistimewaan seorang guru itu?. Eksistensi seorang guru memang tak perlu diragukan lagi. Apalagi dalam proses mempelajari sebuah ilmu pengetahuan. Posisi guru dalam hal ini mampu menjadi kompas kebenaran ilmu pengetahuan. Seorang guru adalah sosok orang hebat karena mampu meng-hebat-kan orang lain.

Abu Yazid al-Busthami mengatakan “barang siapa yang tidak memiliki guru dalam belajar ilmu pengetahuan, maka, sesungguhnya yang menjadi gurunya adalah Setan. Ilmu yang diperoleh bukan menunjukkan arah kebenaran, malah sebaliknya, mengantarkannya ke jalan kesesatan (Taj al-A’rasy, al-Zubaidi al-Hanafi, 1/164).

Mencari seorang guru yang layak, tak semudah membalikkan kedua tangan. Imam Nawawi mengutip dawuh dari Para ulama mengatakan bahwa ilmu itu hanya bisa didapat dari orang yang memiliki kecakapan di bidang ilmu pengetahuan. Dan orang itu mengaplikasikan pengetahuannya dalam keberagamaannya. Bukan hanya itu, orang itu juga begitu detail bisa membaca antara hak dan yang bathil (al-Majmu’, 1/36).

Baca Juga:  Puasa Sya’ban Bid’ah? Ini Alasan Rasulullah Berpuasa Sya’ban

Inilah beberapa kreteria yang pantas dijadikan guru. Kok ribet?! Karena seorang guru semacam ini yang mampu menunjuk arah yang benar tanpa dilandasi oleh kepentingan pribadi. Seorang guru yang bisa dijadikan cermin untuk berkaca, yang mampu menampilkan gambar orisinil. Karena kata Abdullah al-haddad mengutip sabda Rasulullah

المؤمن مرآة اخيه

“Seorang mukmin itu merupakan cermin bagi saudaranya” Tatsbit al-Fuad, 1/77

Maka, hanya seorang guru yang mumpuni sesuai dengan kreteria diatas yang mampu mencerminkan sikap dari muridnya. Guru sejati adalah Seseorang yang mampu berkata ‘benar’ bukan ia yang ‘membenarkan’ muridnya. Kata Habib Alawi Ibn Syihab, guru akan mampu menjadi hiasan di bumi selain hujan dan pemimpin yang adil (Kalam al-Habib Alwi Ibn Syihab, 1/422).

Kalimat Guru menurut dalam akronim Jawa adalah digugu lan ditiru atau orang yang dipercaya perkataannya dan diikuti tindakannya. Kata ‘guru’ memiliki sakralitas yang tinggi dan sungguh luar biasa, kenapa?  Karena tanpa jasa seorang guru kita semua tidak bisa membaca ataupun menulis.

Guru adalah sosok yang begitu mulia dan diagungkan. Maka menghormati guru adalah sesuatu yang mutlak dilakukan. Imam Nawawi setiap kali keluar rumah untuk belajar ilmu kepada gurunya selalu bershadaqah pada fakir miskin yang ia temui di sepanjang jalan menuju rumah gurunya. Dan Ia mohon kepada Allah agar ia tidak mengetahui aib gurunya. Tujuan Imam NAwawi agar ia tidak pernah berburuk sangka kepada Gurunya. Lawaqih al-Anwar al-Qudsiyyah, Al-Sya’rani, 155. SELAMAT HARI GURU

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Abdul Walid

Abdul Walid
Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo