diagram kaum tanpa madzhab
diagram kaum tanpa madzhab

Pentingnya Menuntut Ilmu dengan Guru yang Memiliki Sanad yang Jelas

Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Menjadi pribadi yang berilmu menjadikan diri kita memiliki derajat yang lebih tinggi. Namun ilmu tanpa sanad, maka gurunya adalah syaitan. Kenapa?

Ilmu agama bukan sekedar coba-coba, tetapi menyangkut perilaku akhlak dunia dan akhirat. Salah mengamalkannya akan menghantarkan kepada kesesatan.

Jika ingin memiliki ilmu agama yang benar maka hendaklah menghadiri majlis taklim yang dibimbing oleh ustad atau ulama. Belajar agama tidak cukup sendiri dengan membaca buku atau menonton youtube.

Bisa dibayangkan untuk kepentingan berobat saja, kita membutuhkan resep dari dokter yang dipandang memiliki kecakapan medis. Dokter yang sudah dipercaya dan memiliki sertifikasi yang jelas. Begitu pun dengan persoalan agama. Semestinya seseorang juga harus peduli dengan asupan ilmu agama yang akan dikonsumsi dan dipraktekkan.

Ada maqolah yang menegaskan pentingnya belajar agama dengan guru :

مَنْ تَعَلَّمَ اْلعِلْمَ وَلَيْسَ لَهُ شَيْخٌ فَشَيْخُهُ شَيْطَانٌ

Artinya: “Barang siapa yang belajaar ilmu namun tidak berguru, maka gurunya adalah setan”

Pentingnya Berguru

Kenapa sangat penting seorang guru. Karena guru mempunyai kemampuan dan sanad keilmuan yang jelas. Sanad ilmu menunjukkan pentingnya otoritas dalam berilmu agama. Terlebih bagi muslim yang masih awam dan tidak memiliki kemampuan menggali serta meneliti suatu persoalan dalam ilmu agama, maka ia diwajibkan memiliki guru yang membimbingnya.

Imam Bukhari yang terkenal ahli hadits, jumlah gurunya sampai 1.080 ulama. Jadi dapat disimpulkan jika belajar agama tanpa guru sangat rawan gagal paham dalil agama, dan rawan dengan kesesatan. Jika sesorang ingin mengetahui makna yang  terkandung dalam al-Qur’an tanpa proses belajar dari bimbingan guru atau ulama niscaya ia akan menemui kesulitan dan merasa was-was dalam beragama.

Baca Juga:  Narasi Ampuh yang Menyebabkan Tindakan Radikal

Dalam kitab Al-Fawaaidul Makkiyyah, halaman 25 dijelaskan bahwa, jika manusia mendapat ilmu dari seorang guru dengan berhadap-hadapan, maka ia akan terjaga dari kesesatan. “Barang siapa yang mengambil ilmu dari seorang guru secara langsung bergahap-hadapan niscaya akan terjagalah dia dari kesesatan dan kekeliruan”

Media sosial seperti facebook, twitter, instagram dan bahkan ceramah melalui youtube hanyalah media untuk memperluas wawasan kita saja. Dan apabila kurang dimengerti atau dipahami, maka hendaknya kita perlu menanyakan langsung kepada guru atau ustad dari majlis taklim yang kita datangi. Jangan berperpegang dari media sosial untuk menghakimi perbuatan dan amalan.

Memilih ulama yang benar

Jika kita perhatikan  dalam kondisi saat ini, tentang mayoritas muslim dalam memilih ulama atau guru, maka kita akan dapati kenyataan yang sangat memprihatinkan. Karena, sebagian besar kaum Muslimin justru lebih berhati-hati dalam menyeleksi sumber rujukan dalam urusan dunianya. Seperti, ketika seseorang sedang sakit, maka ia akan sangat berhati-hati dalam mencari dokter yang spesialis dan berpengalaman.

Namun, untuk urusan agamanya mereka tidak terlalu memperhatikan dari mana sumber dan terkesan asal comot saja. Di antara mereka, ada yang memilih ulama hanya karena orang tersebut pandai melawak,  orang tersebut populer dan sering muncul di televisi atau di youtube. Bahkan ada juga yang hanya karena orang tersebut mantan artis terkenal. Hal ini tentunya jauh dari kriteria ilmu yang benar dan bermanfaat sebagaimana yang dijelaskan oleh para Ulama Salaf.

Abdullah bin Mas’ud berkata di hadapan para Tabi’in, “Sesungguhnya kalian (saat ini) berada di jaman yang banyak terdapat orang-orang yang (benar-benar) berilmu, tapi sedikit  yang pandai berkhutbah atau berceramah, dan akan datang setelah kalian nanti suatu jaman yang banyak orang yang pandai berceramah tapi sedikit orang yang (benar-benar) berilmu.”

Baca Juga:  Buntut Teror Bom Paskah, Kerusuhan Anti-Muslim di Sri Lanka Membesar

Ilmu yang benar dan bermanfaat tidak hanya berupa hafalan yang kuat, namun ilmu yang sesungguhnya hanya dimiliki oleh seorang ulama atau guru yang memiliki rasa takut kepada Allah dan mewariskan amal shalihnya. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Sesungguhnya yang takut kepada Allâh diantara para hamba-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu (mengenal Allâh).” [Fâthir/35:28].

Pentingnya berilmu dengan guru atau ulama yang sanad yang jelas akan mampu menjauhkan kita dari kesesatan. Ulama adalah pewaris para nabi. Setelah kenabian ditutup oleh Rasulullah, warisan keilmuan keagamaan berada dalam tanggungjawab ulama. menjaga tersambung ilmu agama dari Rasul hingga zaman ini penting menengok, mempelajari dan belajar langsung kepada ulama.

Umat islam dianjurkan untuk mencari guru atau ulama lebih dari satu. Bahkan Imam Bukhari yang terkenal ahli hadits, Beliau memiliki guru yang berjumlah sampai 1.080 ulama. Ulama atau ustad yang memiliki sanad yang jelas, merupakan pemegang tongkat estafet perjuangan agama Islam serta pewaris ilmu para nabi yang sudah bisa di pertanggungjawabkan materi yang di berikan untuk para muridnya.

Bagikan Artikel ini:

About Islam Kaffah

Check Also

duduk di kuburan

Saat Ziarah, Bolehkah Duduk di Kuburan?

Meskipun arus puritanisasi  mengklaim ziarah kubur adalah ritual bid’ah, tapi tidak banyak muslim nusantara yang …

shalat ghaib korban bencana

Shalat Ghaib untuk Korban Bencana

Pada tanggal 4 Desember 2021 telah terjadi peningkatan aktifitas vulkanik di gunung semeru. Hal itu …