hari guru
hari guru

Selamat Hari Guru Nasional : Kedudukan dan Sifat yang dimiliki Guru Menurut Ajaran Islam

Pada hari ini, tanggal 25 november 2022, diperingati sebagai hari guru nasional yang mana kita semua merayakan dan mengapresiasi guru-guru kita yang telah mengajarkan berbagai ilmu dan pengetahuan yang sangat bermanfaat untuk kita. Dalam Islam, sosok guru (agama) sangat strategis, di samping mengemban misi keilmuan agar peserta didik menguasai ilmu-ilmu agama, guru juga mengemban tugas suci, misi kenabian, yakni membimbing dan mengarahkan peserta didik menuju jalan Allah SWT. Dengan peran strategis tersebut, tentu tidak mudah menjadi guru agama.

Di samping itu, dalam melaksanakan tugasnya, guru agama akan dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan, baik tantangan internal (terkait dengan materi agama dan pribadi guru) maupun tantangan eksternal (terkait dengan perhatian orang tua, lingkungan yang tidak kondusif, serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang melahirkan efek negatif, di samping dampak positif). Tulisan ini akan mengelaborasi seputar kedudukan dan sifat-sifat guru dalam perspektif Islam, khususnya guru pengajar agama, serta tantangan yang dihadapinya.

Pengertian Guru

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, guru diartikan sebagai orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar. Definisi ini cakupan maknanya sangat luas, mengajar apa saja bisa disebut guru, sehingga ada sebutan guru ngaji, guru silat, guru olah raga, dan guru lainnya. Dalam dunia pendidikan, sebutan guru dikenal sebagai pendidik dalam jabatan. Pendidik jabatan yang dikenal banyak orang adalah guru, sehingga banyak pihak mengidentikkan pendidik dengan guru. Sebenarnya banyak spesialisasi pendidik baik dalam arti teoritisi maupun praktisi yang pendidik tapi bukan guru.

Dalam konteks pendidikan Islam, guru adalah semua pihak yang berusaha memperbaiki orang lain secara Islami. Mereka ini bisa orang tua (ayah-ibu), paman, kakak, tetangga, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan masyarakat luas. Khusus orang tua, Islam memberikan perhatian penting terhadap keduanya sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya, serta sebagai peletak fondasi yang kokoh bagi pendidikan anak-anaknya di masa depan.

Kedudukan Guru

Kedudukan guru dalam Islam sangat istimewa. Banyak dalil naqli yang menunjukkan hal tersebut. Misalnya Hadits yang diriwayatkan Abi Umamah berikut: “Sesungguhnya Allah, para malaikat, dan semua makhluk yang ada di langit dan di bumi, sampai semut yang ada di liangnya dan juga ikan besar, semuanya bersalawat kepada mu’allim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia (HR. Tirmidzi).”

Tingginya kedudukan guru dalam Islam, menurut Ahmad Tafsir, tak bisa dilepaskan dari pandangan bahwa semua ilmu pengetahuan bersumber pada Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat al-Baqarah ayat 32: “Mereka menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak ada pengetahuan bagi kami selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui (lagi) Maha Bijaksana.” Karena ilmu berasal dari Allah, maka guru pertama adalah Allah. Pandangan demikian melahirkan sikap pada orang Islam bahwa ilmu itu tidak terpisah dari Allah, ilmu tidak terpisah dari guru. Dengan demikian, kedudukan guru amat tinggi dalam Islam.

Alasan lain mengapa guru mendapat kedudukan mulia dalam Islam adalah terkait dengan kewajiban menuntut ilmu bagi setiap muslim. Proses menuntut ilmu berlangsung di bawah bimbingan guru. Tanpa guru, sulit rasanya peserta didik bisa memperoleh ilmu secara baik dan benar. Itulah sebabnya, kedudukan guru sangat istimewa dalam Islam. Bahkan dalam tradisi tasawuf/tarekat, dikenal ungkapan, “siapa yang belajar tanpa guru, maka gurunya adalah setan”.

Al-Ghazali menggambarkan kedudukan guru agama sebagai berikut, Makhluk di atas bumi yang paling utama adalah manusia, bagian manusia yang paling utama adalah hatinya. Seorang guru sibuk menyempurnakan, memperbaiki, membersihkan dan mengarahkannya agar dekat kepada Allah azza wajalla. Maka mengajarkan ilmu merupakan ibadah dan merupakan pemenuhan tugas dengan khalifah Allah. Bahkan merupakan tugas kekhalifahan Allah yang paling utama. Sebab Allah telah membukakan untuk hati seorang alim suatu pengetahuan, sifat-Nya yang paling istimewa.

Ia bagaikan gudang bagi benda-benda yang paling berharga. Kemudian ia diberi izin untuk memberikan kepada orang yang membutuhkan. Maka derajat mana yang lebih tinggi dari seorang hamba yang menjadi perantara antara Tuhan dengan makhluk-Nya daam mendekatkan mereka kepada Allah dan menggiring mereka menuju surga tempat peristirahatan abadi.

Sifat-Sifat Guru

Mengingat beratnya tugas dan tanggungjawab guru dalam Islam, tidak semua muslim bisa menjadi guru. Ada banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Beberapa ahli pendidikan Islam telah merumuskan syarat-syarat yang harus dipenuhi guru, terutama dari aspek kepribadian. Al-Gazâlî menyebut beberapa sifat yang harus dipenuhi guru, yaitu: kasih sayang dan lemah lembut, tidak mengharap upah, pujian, ucapan terima kasih atau balas jasa, jujur dan terpercaya bagi murid-muridnya, membimbing dengan kasih sayang, tidak dengan marah, luhur budi dan toleransi, tidak merendahkan ilmu lain di luar spesialisasinya, memperhatikan perbedaan individu, dan konsisten.

Sifat-sifat guru sebagaimana disebut di atas, sangat ideal, tapi masih bisa dilakukan asal ada kemauan keras dari para guru. Di era sekarang, ketika ukuran-ukuran moral kian terpinggirkan oleh pola hidup modern yang sekuler, sifat-sifat ideal tersebut semakin terasa untuk direaktualisasikan. Yang menarik dari beberapa pendapat di atas, al-Gazâlî mempersyaratkan agar guru tidak menerima gaji. Bagaimana jika hal ini dihubungkan dengan konteks sekarang?. Menurut al-Qabisi, kondisi guru perlu dibedakan antara periode awal Islam dengan masa sesudahnya. Di masa awal, tugas mengajarkan agama dilakukan secara sukarela ditopang semangat dakwah yang tinggi dan tanpa gaji.

Tapi, setelah Islam menyebar luas, semakin sulit mendapatkan orang yang mau mengajar umat Islam dan anak-anak mereka, karena pekerjaan mengajar memerlukan ketekunan dan harus meninggalkan kegiatan usaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk itu, kata al-Qabisi, umat Islam selayaknya memberikan gaji kepada orang lain yang mau membaktikan dirinya untuk mengajar anak-anak mereka secara rutin.

Tantangan Guru

Tantangan yang dihadapi guru, salahsatunya rendahnya perhatian orang tua di rumah terhadap pendidikan anak-anaknya. Ada kesan, jika anak telah belajar di sekolah/madrasah, tanggungjawab orang tua telah selesai, semuanya diserahkan ke lembaga/guru. Padahal sekolah/madrasah hanya membantu tugas dan tanggungjawab orang tua yang tidak mungkin mendidik secara teratur sebagaimana yang dilakukan sekolah/madrasah. Rendahnya perhatian orang tua ini mempersulit tugas guru dalam menyampaikan pesan-pesan pendidikan, karena apa yang diterima di sekolah/madrasah kadang-kadang berbeda dengan yang diterima/disaksikan di rumah.

Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa guru mewarisi misi kenabian sebagai penuntun menuju jalan Allah SWT. Karena itu, tidak heran jika guru mendapat kedudukan terhormat di masyarakat dan di sisi Allah. Tapi, kedudukan mulia tersebut tidak bisa diraih dengan mudah. Guru harus mampu menunjukkan diri sebagai sosok yang menguasai materi, mampu menyampaikan materi secara ikhlas dengan cara yang baik, dan yang paling penting, guru harus mampu menjadi model (uswah hasanah) bagi peserta didik dan masyarakat dalam mengamalkan ajaran Islam yang baik dan benar. Suatu tanggungjawab yang berat, tapi masih bisa dijalankan asal ada kemauan keras.

Bagikan Artikel ini:

About Ainun Helty

Alumni Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Syarif hidayatullah.

Check Also

bekerja adalah bentuk jihad

Tips Agar Pekerjaan Berkah, Halal, Dan Manfaat

Salah satu cara untuk meningkatkan ketakwaan dan rasa kehambaan kita kepada Allah adalah dengan saling …

menantu selingkuh

Viral Menantu Selingkuh Dengan Mertua, Bagaimana Pandangan Islam Mengenai Perselingkuhan?

Beberapa hari yang lalu viral di sosial media, menantu laki-laki selingkuh dengan ibu mempelai wanita. …

escortescort