Emmanuel Macron
Emmanuel Macron

Pakar: Macron Tidak Anti-Islam Tapi Ingin Lindungi Muslim dari Pihak Berperilaku Radikal

Jakarta – Presiden Prancis Emmanuele Macron tengah dikecam dengan berbagai pernyataan yang dinilai mendiskreditkan Islam. Namun pernyataan Macron tersebut dinilai dosen Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI) Dr. Mahmud Syaltout bukan karena anti-Islam.

“Dalam pidato pada 2 Oktober lalu, Macron justru dalam rangka membela dan melindungi umat Islam dari pihak-pihak yang bersikap dan berperilaku radikal dengan mengatasnamakan Islam,” ujar Mahmud dikutip dari laman detikcom, Senin (2/11/2020).

Menurut Mahmud, politik Prancis itu cukup unik dengan spektrum ideologis mulai ekstrim kanan, tengah, dan kiri. Presiden Macron secara partai masuk ekstrim tengah. Dalam sejarah politik Prancis, baru sekarang ini partai tengah bisa menang Pemilihan Presiden (Pilpres). Sebagai ‘orang tengah’, Macron sebenarnya tidak anti-Islam.

Ia mengungkapkan, di Prancis banyak imam atau ulama yang mengkampanyekan semacam pembangkangan terhadap aturan negara, dan berupaya membangun komunitas eksklusif dengan merujuk nilai-nilai agama secara sempit.

“Wacana untuk membuat UU yang memerangi radikalisme itu sendiri datang dari usulan sejumlah pengurus masjid dan imam saat bertemu Macron pada 25 September,” kata Mahmud, doktor bidang Hukum, Manajemen, dan Hubungan Internasional lulusan Universitas Sorbonne, Prancis.

Di sisi lain, para imam moderat dan pengurus masjid raya di Paris menilai sejumlah aksi teror yang terjadi akibat dari tidak tegasnya aparat penegak hukum. Mereka mendesak Presiden dan Menteri Dalam Negeri Prancis untuk lebih sigap dan tegas terhadap kaum islamis (radikal).

Terkait majalah Charlie Hebdo, Mahmud Syaltout yang pernah 6 tahun tinggal di Paris menyebut sasaran satire tak cuma Islam, tapi agama-agama lain dan para tokoh publik. Masyarakat kebanyakan di sana sudah tak terlalu mempedulikan berbagai pemberitaan Charlie Hebdo karena dianggap kerap cuma berisi sensasi dan provokasi.

Baca Juga:  PSBB Dilonggarkan, DKI Hari Ini Buka Seluruh Masjid, Tapi...

“Ketika media ini pertama kali memuat kembali karikatur Nabi, sebetulnya tak ada reaksi dari publik. Reaksi baru muncul sekitar tiga pekan kemudian karena ada yang ‘menggoreng’nya,” kata dosen Politik Prancis di Universitas Indonesia itu.

Begitu pun dengan Samuel Paty, guru yang tengah mengajarkan soal Kebebasan Berekspresi di sekolah. Saat pelajaran disampaikan tak ada reaksi dari para siswa. Karena di awal Samuel Paty telah membebaskan para murid untuk bersikap: marah, keluar kelas, atau sekedar berpaling.

“Isu seolah Samuel Paty memprovokasi dan menghina Nabi itu juga olahan orang tua murid yang anaknya justru sebetulnya tak masuk sekolah saat si guru itu mengajar Kebebasan Berekspresi,” ujar Mahmud.

Celakanya lagi, video yang diunggah si orang tua itu kemudian diviralkan dan ditambahi narasi oleh seorang imam garis keras di masjid pinggiran Kota Paris.

“Itu yang memantik seorang remaja pengangguran, imigran dari Chechna, kemudian membunuh Samuel Paty,” papar Mahmud.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

dr Fauzia Gustarina Cempaka Timur S IP M Si

Celah Intoleransi Dalam Beragama Diincar Kelompok Radikal Untuk Sebarkan Virus Radikalisme

Jakarta – Kelompok radikal selalu berupaya memanfaatkan berbagai cara untuk menyebarkan virus radikalisme. Salah satunya …

RDP Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dengan Komisi VIII DPR RI

Dai Harus Miliki Strategi Metode Dakwah yang Menitikberatkan Wawasan Keberagamaan dan Kebangsaan

Jakarta – Sertifikasi penceramah atau dai dilakukan demi meningkatkan pemahaman moderasi beragama kepada kalangan dai …