Imam Fariduddin Attar, Dalam kitab Tadkirah al-Auliya, menyampaikan sebuah riwayat yang menceritakan perkataan Imam Sufyan al-Tsauri. Diriwayatkan, bahwa Sufyan al-Tsauri berkata: “Aku tidak meriwayatkan sebuah hadits dari Rasulullah kecuali aku mengamalkannya (terlebih dahulu).”  Pada saat yang lain, beliau berkata kepada para perawi hadits atau ulama ahli hadits, “Tunaikanlah zakat hadits.” Mereka bertanya, “Apa itu zakat hadits?” Sufyan al-Tsauri menjawab: “Zakatnya adalah kalian harus mengamalkan lima hadis dari setiap dua ratus hadis”.

Siapakah Sufyan al Tsauri yang menyatakan dirinya tidak akan meriwayatkan hadis Nabi sebelum mengamalkannya terlebih dulu? Pada masa hidupnya, bahkan setelah meninggal dunia, Imam Sufyan al-Tsauri merupakan ulama yang sangat alim dan taat beribadah. Para ulama kala itu sangat mengakui kepakaran dan kesalehannya. 

Hal yang paling mengejutkan, sekaligus menguatkan fakta bahwa beliau benar-benar mumpuni adalah  ketika Ibnu Uyainah membuat kategori ulama hebat di generasinya masing-masing. Dari kalangan sahabat Sayyidina Ibnu Abbas, Amir bin Syurahbil al-Sya’bi dari kalangan tabi’in, dan Sufyan al-Tsauri dari kalangan tabi’ al tabi’in. Ini artinya, Sufyan al Tsauri merupakan penghulu ulama generasi tabi’ al tabi’in.

Kepakarannya di bidang hadis, menurut banyak ulama, mengungguli ahli hadis yang lain. Sebab itulah, wajar kalau kemudian Sufyan al Tsauri mendapat gelar “Amirul Mukminin Fil Hadist”. Tidak hanya sampai di situ, kepakarannya soal hadist juga diakui oleh Imam Yahya bin Sa’id yang secara terang-terangan  mengatakan, “Saya tidak melihat seorang pun yang lebih terjaga hafalan hadits dan periwayatannya melebihi Sufyan al-Tsauri.

 Sementara Imam al Hafidz Abu Ahmad Abdullah bin ‘Adi al Jurjani, dalam kitab al Kamil fi Dlu’afai al  Rijal, megungkapakan,  di antara sekian banyak ulama di Hijaz, Yaman dan Syan tidak satupun yang dapat mengungguli Sufyan al Tsauri dalam ilmu hadis. Hal ini membuktikan, kepakaran Sufyan Tsauri  dalam bidang hadis tidak diragukan lagi.

Beliau adalah diibaratkan amir atau pemimpin para ulama ahli hadis. Akan tetapi status beliau yang hebat dalam soal hadis ini, tidak membuatnya pongah, bahkan lebih berhati-hati. Meskipun banyak sekali meriwayatkan hadis, ia tetap hati-hati dalam urusan fatwa. Ia tidak meriwayatkan satu hadist pun tanpa mengamalkannya terlebih dahulu. Karena baginya, hadist yang akan beliau riwayatkan tak lain merupakan amanah, sebuah mata rantai suci yang berasal dari Nabi Muhammad.

Baginya seorang  muhaddis bukan Cuma menghafal sekian ratus ribu hadis, tanpa merasakan kesuciannya, ia akan kehilangan maknanya. Karena itu, kita sering mendengar amalan para pengumpul hadis, seperti Imam al-Bukhari yang mandi dan melaksanakan shalat dua rakaat sebelum menulis satu hadis. Begitu juga mayoritas ulama salaf yang begitu hati-hati dalam menyampaikan fatwa, apa yang mereka sampaikan seluruhnya telah diamalkan sebelumnya.

Pelajaran berharga umat Islam saat ini mudah melemparkan hadist tetapi tidak pernah memahami tanggungjawabnya. Seolah hadist dilemparkan hanya untuk menghujat dan menghakimi orang lain. Lihatlah pribadi dan jati diri Sufyan al Tsauri dengan banyaknya hafalan hadist, tetapi ia sangat berhati-hati menyampaikan, sebelum mengamalkan.