Dari sekian istri Rasul, kehadiran Maria al-Qibtiyah sempat membuat kegusaran para istri Nabi yang lain. Aisyah memang istri yang paling disayang dan sempat menimbulkan kecemburuan para Istri Nabi. Namun, Aisyah tidak pernah diperlakukan seperti Maria dikucilkan. Siapa itu Maria yang sempat membuat para istri Nabi cemburu?

Maria Qibtiyah merupakan salah satu istri Rasulullah. Ia putri dari Qibtiyah Simon, lahir dari seorang ibu Romawi di desa Hafan wilayah Ansnay Mesir. Orang tuanya adalah penganut agama Katolik.

Saat dewasa, Maria dipekerjakan untuk menjadi budak kepada Raja Muqauqis bersama saudarinya Shirin. Hingga pada akhirnya ia menjadi kado yang dikirimkan kepada Rasulullah melalui Hatib bin Abi Balta’ah.

Tahun keenam Hijrah Rasulullah mengirim utusannya membawa surat yang berisi ajakan bagi para penguasa untuk memeluk Islam. Salah satu utusan Rasulullah, Hateb ibn Abi Balteh, bertugas mengirimkan surat ajakan kepada Raja Muqauqis, penguasa Mesir, dan mengajaknya untuk memeluk Islam.

Muqauqis kemudian meminta Hateb untuk menceritakan tentang gaya hidup dan karakter Rasulullah. Hateb pun memenuhi permintaan sang Raja tersebut. Setelah mendengar cerita tentang Rasulullah, Muqauqis tetap memilih agama yang sekarang ia peluk, karena ia tetap mempercayai ketetapan agamanya bahwa nabi terakhir berasal dari Syam.

Kado Persembahan untuk Muhammad

Meski raja Muqauqis menyampaikan penolakannya, namun ia berjanji untuk menjaga rahasia yang telah didengar dan menjaga persahabatan dengan Islam. Selain itu raja Muqauqis juga menghadiahi dua budak perempuan bernama Maria dan saudarinya Shirin.

Madinah adalah tempat yang jauh dari tempat kelahiran Maria dan Syrin, membuat mereka semakin cemas dan tertekan. Untuk menenangkan mereka, Hateb menceritakan tentang keindahan Madinah. Selain itu iapun menceritakan beberapa hal menarik tentang Rasulullah.

Mendengar sifat dan akhlaq mulia Rasulullah dan kebaikan Islam, mereka merasa bahagia dan senang dengan Islam. Setelah merenungkan semua yang mereka dengarkan, merekapun mengambil keputusan untuk memeluk agama Islam. Mereka tiba Madinah bebarengan dengan Rasulullah yang tiba dari Hudaibiyah.

Rasulullah mendengar penolakan dari raja Muqauqis merasa sedih. Namun Rasulullah tak ingin memaksa meraka untuk memeluk Islam. Kemudian Rasulullah melihat Maria dan Shirin dua budak wanita yang dihadiahkan untuknya. Karena merasa ia tidak memerlukan budak, maka di merdekakanlah Maria lantas kemudian dinikahinya maria menjadi istri Rasulullah, dan Shirinpun diperistri oleh Hasan bin Sabit, yang merupakan penyair terkenal, cendekiawan serta salah satu sahabat Rasulullah.

Setelah memeluk Islam dan menjadi istri Rasulullah, Maria merupakan perempuan yang solehah. Secara fisik ia memiliki kulit yang putih, berparas cantik serta  berpengetahuan luas. Selain itu Maria juga mendapatkan gelar kehormatan Ummul Mu’minin.

Ketika Para Istri Cemburu

Karena banyaknya keistimewaan yang ada dalam diri Maria, membuat istri Rasulullah yang lain menjadi cemburu. Suatu hari istri Rasulullah yang lainnya Hafsah memergoki Rasulullah dan Maria sedang berduaan dalam sebuah ruangan. Hal ini membuatnya lama menunggu Rasulullah, lantas membuatnya bersedih hati.

Rasa cemburu inipun diungkapkan Hafsah kepada Rasulullah, dan seketika Rasulullahpun mengerti dengan apa yang dirasakan istrinya tersebut. Lantas Rasulullah memutuskan untuk mengharamkan Maria atas dirinya. Berita pengharaman Maria terhadap Nabi itu ternyata diceritakan Hafsah kepada Aisyah.

Atas berita ini, turun sebuah wahyu surat At-Tahrim ayat 1:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ ۖ تَبْتَغِي مَرْضَاتَ أَزْوَاجِكَ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: “Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Dalam ayat di atas juga memperlihatkan bahwa Allah mengampuni dosa pengharaman atas Maria oleh Rasulullah karena semata ingin menyenangkan hati Istrinya yang lain. Apa yang dilakukan Nabi adalah untuk menghindari konflik di antara Istri-istrinya. Rasulullah pun memutuskan untuk memindahkan Maria ke ke utara kota Madinah, ke daerah yang disebut Aliya.

Pada satu malam tahun delapan Hijrah, Maria mengetahui bahwa dirinya telah hamil. Dengan membawa berita gembira tersebut, Maria datang menemui Rasulullah. Beliau langsung berucap syukur dan merasakan kebahagiaan atas rahmat yang di berikan Allah kepada keluarganya.

Tepatnya pada bulan Dzulhijjah tahun 629 M, Maria melahirkan seorang putra bernama Ibrahim. Rasulullah mengaqiqahkan Ibrahim dengan menyembelih dua ekor domba, mencukur rambut Ibrahim, dan bersedekah kepada fakir miskin.

Ibrahim sangatlah disayangi oleh Rasulullah. Anas bin Malik mengatakan: “Ketika Ibrahim lahir, Jibril datang kepada nabi (SAW) dengan mengucapkan salam ‘Assalamu alaika yaa Aba Ibrahim’ (Salam sejahtera dari kami kepada Anda, wahai Ayah Ibrahim!).

Namun kegembiraan Rasulullah tak berangsur lama. Di usia ke delapan belas bulan Ibrahim jatuh sakit. Hingga pada suatu malam ketika Ibrahim mengalami sakratul maut, Nabi berkata “Kami tidak dapat menolongmu dari kehendak Allah, wahai Ibrahim.” Tanpa sadar air mata Nabi bercucuran. Tentu kabar ini adalah kabar duka yang mendalam untuk Nabi dan Maria.

Selang lima tahun dari kematian Ibrahim, tersiar kabar Wafatnya Rasulullah. Hilangnya arah dan tujuan hidup Maria, ia hanya seorang diri di kota itu tanpa ada siapapun yang ia miliki. Maria memutuskan untuk hidup menyendiri dan hanya ingin beribadah kepada Allah di sisa hidupnya.