soekarno
soekarno

Muhammad dan Soekarno: Dua Sosok Mulia yang Tak Bisa Dibandingkan

Siapakah yang disebut nur fawqa nur (cahaya melebihi cahaya) itu? Dialah Nabi Muhammad. Itu berarti, sebelum lahirnya Nabi, ada gulita tak berpelita. Ya. Memang masyarakat jahiliyah saat itu, alami kekelaman yang tak berkesudahan. Wanita dinista. Anak anak ditelantarkan. Hukum menjadi mainan para Penguasa. Bangunan sosial porak poranda. Tatanan agama tidak berkiblat. Kacau balau kehidupan melanda masyarakat Jahiliyah.

Hingga saatnya tiba, Sang Pelita itu terbit membawa terang. Wanita mulai mendapatkan kemuliaannya. Anak-anak menemukan hak asuhnya. Hukum kembali menjadi payung keadilan dan kesejahteraan. Bangunan sosial tertata kembali. Tatanan agamapun pulih sebagaimana mestinya. Apa ia, manusia sempurna seperti Nabi Muhammad, memiliki kembaran atau patut dibandingkan?!

Rasulullah bukan hanya dikaruniai budi pekerti yang indah nan mulia, tetapi juga dianugerahi postur tubuh yang indah memukau. Al-Bukhari menggambarkan postur tubuh Rasulullah bahwa, postur tubuh Rasulullah tidak jangkung dan tidak pula pendek. Posturnya menemukan titik keserasiannya hingga tak jemu dipandang dan tak bosan diperhatikan.

Bagi yang melihatnya, pastilah terhipnotis dibuatnya. Dari posturnya, terpancar aura pikat yang luar biasa. Warna kulitnya tidak putih memucat, tidak pula hitam melegam apalagi merah mememar. Warna kulitnya betul-betul memantulkan cahaya warna surgawi. Sejuk dipandang, hingga menghantui emosi rindu bagi yang melihatnya.

Rambutnya tidak kriting meng-ikal, tidak pula lurus merumbai, terlihat seperti bergelombang halus menawan. Memanjang hingga melewati cuping telinga diatas bahu. Sungguh aku tak pernah melihat ciptaan Allah seindah Rasulullah. Kata al-Barra’ Ibn ‘Azib.

Telapak tangan dan kakinya tebal dan lembut, seakan tak pernah menyentuh barang apapun. Bahkan menurut Anas Ibn Malik, kelembutan suterapun tak mampu menandingi kelembutan tangan Rasulullah. Bulu dadanya lebat dan tipis. Wajahnya bulat memanjang, padat berisi, tak pernah terlihat benjolan tulang diwajahnya. Bola matanya lebar, bulat, hitam pekat. Tebal melengkung bulu alisnya, tampak terlihat dengan jelas. Ketika usia Beliau menua, Uban di kepala dan jenggotnya tak melebihi dua puluh helai rambut yang beruban. Shahih Bukhari No. 5900

Baca Juga:  Ceramah Gus Baha Hilang Dari Youtube Saat Bahas Peran Ulama, Sukarno dan PDI

Punyakah Soekarno apa yang dimiliki Rasulullah? Tidak kan! satupun Soekarno tak memilikinya. Masih pantaskah disejajarkan dengan Rasulullah? Sekali lagi, tidak! ini hanya sisi postur tubuhnya, belum lagi bila dibandingkan dengan budi pekertinya yang Maha Luhur, gaya Beliau berjalan, bagaimana Beliau memakai baju, celak dan cincin, cara Rasul makan dan minum, cara Beliau memuliakan istri-istrinya, bagaimana Beliau berbicara, istirahat, dan sebagainya, maka, akan semakin tertinggal jauh perpadanannya.

Rasulullah memang terlahir sebagai manusia, namun sifat-sifat manusiawinya nyaris tidak bisa ditemukan pada diri manusia lainya. Yang tampak, seluruhnya, adalah sifat-sifat uluhiyyah yang jarang ditampilkan oleh manusia pada umumnya. Kesabarannya, kerendahan hatinya, kepasrahan jiwanya, sangatlah sulit untuk dicontoh dan ditiru.

Maka, tidak begitu mengherankan bila sastrawan sekelas Syaikh Abdullah Muhammad al-Bushiri menggambarkan sosok Nabi Muhammad sebagai manusia luar biasa, manusia terbaik bukan saja ketika dibandingkan dengan manusia, bahkan saat dibandingkan dengan alam semestapun, Nabi Muhammad tetap yang terbaik dan terunggul, bahkan terdepan dari ciptaan yang pernah ada, terlebih lagi dari semua Para Rasul sekalipun.

Menurut al-Bushiri, kemuliaan Para Rasul terpancar indah dari cahaya kemuliaan Rasulullah, Muhammad. Nabi Muhammad ibarat cahaya matahari yang benderang, sementara Rasul yang lain, ibarat cahaya bintang gemintang yang temaram. Qashidah al-Burdah, 290.

Muhammad adalah satu satunya ciptaan yang membuat Penciptanya (Allah) terkagum kagum. Kekaguman Allah ini dilontarkan sendiri oleh Allah dalam Al-Qur’an:

وانك لعلى خلق عظيم

Sesungguhnya kamu (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang teramat Agung” QS: al-Qalam, 3.

Muhammad Ibn Yusuf al-shalihi al-Syami mengutip perkataan Imam Yaqut dalam Kitab Musytaraknya, mengatakan dengan budi pekerti ini Muhammad mampu membangun Kota Mekah-Madinah sebagai Kota peradaban baru. Di tangan Muhammad Mekah-Madinah disulap menjadi negara  baldah thayyibah wa rabbun ghafur, kota yang penuh kemakmuran, kedamaian, kesejahteraan, gemahripah lohjinawi.

Baca Juga:  17 Ramadhan Hari Kesaktian Al-Quran

Sebuah kota yang memiliki khas Sorga. Atau boleh dikata, Madinah adalah potongan sorga yang jatuh ke dunia. Sebuah prestasi yang belum pernah diraih oleh Negara manapun sebelumnya.  Subul al-Huda wa al-Rasyad fi Sirah Khair al-Ibad, 1/195 .

Sementara Soekarno tak mampu mengubah Indonesia menjadi kepingan surga di dunia. Beliau memang mampu mengubah Indonesia menjadi Negara merdeka dan berdaulat. Tetapi segala jasanya yang juga patut dikagumi tidak akan mampu menandingi kiprah dan keagungan Nabi.

Bukan isapan jempol belaka bila Nabi Muhammad diumpamakan sebagai matahari dan rembulan. Sebuah perumpamaan yang tidak pernah dinisbahkan kepada manusia manapun. Hingga matahri itupun redup dan hendak tenggelam di balik cakrawala, menuju benderang baru menemui Pemilik Jagad raya.

Hari Senin, 12 Rabi’ al-Awwal, tibalah Israil menjemput. Ali yang berada di samping pembaringan rasulullah saat beliau sakaratul maut, melihat Rasulullah menggerakkan bibirNya dua kali. Ali mendekatkan telingan dan mendengar suara lirih yang keluar dari lisanNya “ummati ummati” (umatku umatku). Sebelum akhirnya Rasulullah berpulang ke haribaan Allah untuk selamanya.

Ya. Selamanya. Betapa besar cinta Rasul kepada umatnya, hingga di akhir nafas terakhirnyapun Beliau masih memikirkan umatnya. Memikirkan kita, ya, kita. Masihkah kita sibuk sibuk mencari dalil untuk mencintai Rasul. Sementara Rasul tidak pernah meminta syarat untuk mencintai kita, apalagi hanya untuk bermaulid sebagai wujud cinta masih mencari dalilnya.

Sungguh terlalu !  Suasana indah ini sungguh jauh berbeda di saat Soekarno alami sakaratul maut. Didera penyakit ginjal yang akut. Beliau harus beberapa kali mengerang kesakitan. Hingga akhirnya Beliaupun terkulai lemas. Telunjuk yang mampu menusuk langit kini terebah lunglai tidak berdaya. Suara yang dulu sanggup menggetarkan Asia, kini tak terdengar lagi gaungnya.

Baca Juga:  Pedang dan Tongkat Rasulullah SAW Dipajang pada Pameran Artefak Baginda Nabi

Dibandingkan Rasul Muhammad, Sukarno Tidak ada apanya. Namun begitu, Nabi Muhammad dan Soekarno adalah dua sosok figur dengan kemuliaan yang tidak bisa disepadankan.

Afala Tatafakkarun

ABDUL WALID, Alumni Ma’had aly Pondok Pesantren salafiyah Syafiiyah Sukorejo.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

menteri agama menag yaqut cholil qoumas memberikan pesan khusus

Menag Sepakat IPNU Sebagai Benteng Penghalau Radikalisme di Sekolah

JAKARTA – Salah satu pintu masuknya radikalisme di dunia pendidikan yaitu melalui kegiatan ekstra kulikuler …

salman rushdie diserang

Salman Rushdie Ditikam Berkali-kali Hingga Terancam Nyawa, Media Iran Puji Penikamnya: Bravo

Jakarta – Salman Rushdie penulis novel ‘The Satanic Verses’ Ayat-ayat setan telah lama mendapatkan ancaman …