al Quran dan pancasila

Al-Qur’an dan Pancasila memiliki Spesifikasi yang berbeda. Salah satu spesifikasinya Al-Qur’an yang tidak dipunyai oleh Pancasila adalah, bahwa Al-Qur’an itu adalah syifa’ (penyembuh) bagi bukan hanya penyakit dhahir saja, namun ia juga penyembuh bagi bathin yang terdera penyakit.


Membandingkan Al-Qur’an dengan Pancasila, sama persisnya membandingkan Ir. Soekarno, Presiden RI pertama dengan Bapak Kasdin Ketua RT 01 RW 03 Desa Mustahil Kecamatan Siasia Kabupaten tak beradab. Artinya perbandingan yang tidak akan pernah menemukan persamaan yang sepadan. Atau bahkan, perbandingan itu akan dinilai berlelucon saja. Karena al-Qur’an dan Pancasila adalah dua entitas berbeda yang tidak bisa disejajarkan pada satu garis vertikal dan horizontal.

Al-Qur’an tidak serta merta turun dari langit dengan satu bentuk jilidan siap edar. Namun ia berproses secara gradual berdasar atas pluralitas pengalaman hidup. Berpijak di atas historisitas budaya universal. Maka, tak heran bila Al-Qur’an membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan prosesnya. Tetapi, bukan berarti Al-Qur’an produk budaya, namun ia lebih berperan sebagai balance dari nilai nilai kultural tersebut. Kurang lebih, menjadi wasit penjaga garis dari normalitas budaya.

Sementara Pancasila proses kodifikasinya didasarkan atas sejarah perjuangan dan pengalaman hidup Bangsa Indonesia, yang saat itu bernama Nusantara. Jadi, al-Qur’an itu universum sementara Pancasila bersifat parsial. Pancasila adalah produk Budaya Lokal Nusantara, sementara al-Qur’an bukanlah produk budaya, malah, memproduk Budaya, bukan hanya budaya local tetapi hingga budaya universal.

Al-Quran itu wahyu ilahi yang tidak melibatkan sebuah konsensus apapun. Kebenarannya absolut. Sementara Pancasila adalah adalah hasil dari sebuah kesepakatan bersama. Perjanjian luhur Bangsa Indonesia, begitu Bung Karno menyebutnya. Kebenarannya sangat relatif dan nisbi.

Al-Qur’an dan Pancasila memiliki Spesifikasi yang berbeda. Salah satu spesifikasinya Al-Qur’an yang tidak dipunyai oleh Pancasila adalah, bahwa Al-Qur’an itu adalah syifa’ (penyembuh) bagi bukan hanya penyakit dhahir saja, namun ia juga penyembuh bagi bathin yang terdera penyakit.

Allah berfirman dalam surah Yunus ayat 57

ياأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin al-Suyuthi menafsirkan bahwa yang dimaksud ‘pelajaran’, penyembuh, petunjuk dan rahmat’  itu adalah al-Qur’an. Tafsir al-Jalalain, 3/420.

Imam Baidhawi dikutip oleh Ibnu ‘Ajibah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan penyembuh itu adalah hikmah nadhariyyah (ketepatan al-Quran memberikan teori) hingga Ia mampu memberikan dosis obat dalam sebuah resep bagi kesembuhan bathin yang dilanda keraguan atas kebenaran ilahi dan kebimbangan akidah. Tafsir Ibnu Ajibah, 2/499

Menurut Abdul Wahab Khalaf, al-qur’an mampu menyuguhkan kisah kisah klasik purbakala yang tidak mampu diceritakan oleh Pancasila, al-Qur’an juga memiliki kefasihan kata kata yaitu asyik dilantunkan dan didengar. Susunan redaksinya mengandung kesusastraan yang tinggi hingga mampu membungkam para Pujangga kesohor sekalipun saat itu. Tidak dengan Pancasila. Artikulasi dan aksentuasi di setiap huruf dan kalimatnya mampu memberikan kedamaian psikologis yang begitu kuat. Tidak juga dengan Pancasila.  Ilmu Ushul al-Fiqh, 30-31

Nah, pertanyaannya sekarang, apakah Pancasila mampu berperan seperti apa yang diperankan oleh al-Qur’an?! Tentu orang normal akan menjawab, tidak ! Keduanya tidak bisa diperbandingkan.


ABDUL WALID, Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo dan Dewan Asatidz di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Meneng Ketapang Banyuwangi