buah takwa
ramadan

Awal Ramadan Berbeda, Ternyata Berbeda Urusan Ibadah itu Biasa

Sebagaimana prediksi para para pakar, tentu penulis tidak bisa memaksakan diri menjadi pakar, Ramadan tahun 2022 ini akan berbeda antara versi Pemerintah dengan Muhammadiyah. Pemerintah bersama ormas keislaman telah menetapkan awal Ramadan jatuh pada tanggal 3 April 2022. Sementara, jauh sebelumnya PP Muhammadiyah telah mengumumkan awal Ramadan 2 April 2022.

Perbedaan ijtihad berupa metode dan parameter dalam penentuan awal Ramadan membuahkan hasil yang berbeda. Bayangkan urusan ibadah untuk mengawali ibadah mahdah yang fardhu ain saja bisa berbeda. Hari ini ada yang berpuasa, sementara lainnya masih besok berpuasa. Ini untuk urusan ibadah yang sangat penting dan bisa berbeda. Itulah mahalnya ijtihad dan indahnya perbedaan dalam Islam sejak dulu digariskan para ulama salaf.

Tradisi berbeda awal puasa bagi umat Islam di Indonesia sudah biasa. Perbedaan itu dianggap biasa karena perbedaan ijtihad dan saling menghormati. Begitu pula yang terjadi di zaman para sahabat, tabiin dan para ulama salaf. Berbeda ijtihad meskipun dalam persoalan ibadah merupakan hal wajar. Tidak perlu menghakimi atau menang sendiri.

Perbedaan awal Ramadan yang penting dan menentukan sekali kapan umat harus mengawali ibadah ini mengajarkan kepada kita bahwa perbedaan dalam berijtihad bukanlah hal tabu. Tidak ada yang menegaskan diri paling benar dengan menghakimi yang lain salah. Jika yang ibadah penting itu biasa apalagi urusan ibadah sunnah dan lainnya. Tidak usahlah kita merasa menjadi hakim sendiri dengan menuduh salah, sesat dan bid’ah dan sebagainya.

Ibadah puasa Ramadan memang ibadah mahdah yang merupakan persoalan pokok (ushul) yang tidak bisa diganggu gugat. Tentu tidak boleh ada tafsir untuk mengatakan ibadah ini tidak penting. Namun, perbedaan dalam penentuan awal ibadah puasa merupakan masalah furu’ yang berpotensi berbeda (khilafiyah) dan bukan sesuatu yang menyimpang dan menyesatkan.

Baca Juga:  Para Pemudik yang Ditemani Malaikat

Jangankan persoalan harus tarawih dengan 20 rakaat atau 8 rakaat, persoalan mengawali puasa saja bisa berbeda. Tidak penting untuk ngotot membenarkan ijtihad masing-masing. Yang terpenting adalah melaksanakan ijtihad dengan sandaran masing-masing dan saling menghormati.

Karena itulah, perbedaan ijtihad itulah umat Islam merasakan rahmat.  ’’Ikhtilaf di kalangan umat ku adalah rahmat.’’Hadist dengan sanad yang kurang jelas ini, tetapi secara subtansi shahih banyak dipegang oleh para ulama untuk menghadapi perbedaan. Umat Islam diajarkan bahwa berbeda sejak dini itu adalah hal niscaya meskipun dalam persoalan ibadah.

Rasulullah bersabda :

إذا حكم الحاكم فاجتهد فأصاب فله أجران، وإذا حكم فاجتهد فأخطأ فله أجر واحد

Artinya : “Apabila seorang hakim menghukumi kemudian dia berijtihad dan ijtihadnya benar maka baginya dua pahala. Dan apabila dia menghukumi kemudian dia berijtihad dan ijtihadnya salah maka baginya satu pahala”. (HR.Bukhari dan Muslim).

Berijtihad adalah ibadah yang memiliki nilai pahala baik benar atau salah. Yang salah adalah orang yang belum pada taraf mujtahid tetapi sudah menyampaikan fatwa. Karena itulah, parameter ijtihad dan mujtahid sangat diatur dalam Islam yang tidak serta merta para penceramah, ustadz, atau tokoh agama mengeluarkan fatwa hasil ijtihadnya.

Karena itulah, berbeda menjadi hal niscaya, bahkan sunnatullah. Terpenting umat Islam menjadi dewasa dalam menghadapi perbedaan. Tidak usah selalu merasa paling benar, paling suci, paling masuk surga dan sebagainya sehingga harus mengeluarkan klaim-klaim sesat terhadap sesama muslim. Umat butuh siraman nasihat, bukan ucapan laknat. Mari hormati perbedaan.

Selamat menunaikan Ibadah puasa Ramadan 1443 H. Mari manfaatkan bulan suci untuk membersihkan diri dan berserah diri kepada Yang Maha Suci.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

Standarisasi Dai MUI ke

Dai Harus Siap Hadapi Fenomena Dakwah

Jakarta – Para dai harus siap menghadapi fenomena dalam berdakwah. Salah satu fenomena dalam berdakwah …

Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf

R20 Rekonsiliasikan Hindu-Islam di India

Jakarta – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan menggelar Religion 20 (R20) di Bali, 2-3 …