sumber gambar: kompas.com

Korupsi; Dosa Luar Biasa yang Dianggap Biasa

Sudah terlalu sering wabah ‘korupsi’ terjadi negeri ini. Seperti tak ada hentinya. Mewabah dan menular. Perbuatan terlaknat, picik, kejam dan sangat busuk ini terjadi hampir merata pada semua lapisan masyarakat.

Pelakunya tidak hanya di kalangan politisi saja, sudah merambah sampai ke lingkungan pendidikan, organisasi keagamaan, bahkan elit agama pun ikut-ikutan tenggelam dalam pusaran tindakan edan ini.

Korupsi menjelma sebagai pilihan utama untuk selalu dikerjakan. Seolah menjadi hal biasa dan lumrah. Paling mengkhawatirkan jika korupsi menjadi hal yang paling menggiurkan dan menjadi kebanggaan. Tanpa rasa malu gerombolan garong  pencuri uang rakyat selalu ada dari waktu ke waktu.

Hal ini dikarenakan korupsi menjadi jalan pintas untuk mendapatkan keuntungan yang banyak. Seseorang tidak perlu capek kerja dan cucuran keringat. Carut-marut fenomena memalukan ini semakin parah karena ‘lemahnya’ kontrol dan hukum Negara untuk membuat efek jera terhadap pelaku.

Korupsi; Budaya Baru dan Hilangnya Budaya Malu

Hadis Nabi “Malu sebagian dari iman” tak lagi digubris. Menjadi slogan kering seolah-olah hanya ungkapan tiada arti. Sulit rasanya negeri yang gemah ripah loh jinawi ini selamat dari kehancuran sebab korupsi telah menjelma menjadi budaya baru. Budaya gelap yang selalu membayangi kehancuran Indonesia. Ya, Indonesia diambang kehancuran.

Korupsi tidak hanya dilakukan oleh para politisi, tetapi sudah melembaga; pungli dan suap menyuap saat ditilang, mengurus KTP, memasukan anak kesekolah, sampai money politic saat pilkades, pilrek, pilkada dan pilpres, serta upeti untuk atasan agar mendapatkan atau untuk mempertahankan jabatannya.

Kondisi seperti ini telah lama terjadi, namun tak seorangpun yang sanggup menghentikannya secara total. Fenomena korupsi tak pernah habis mulai era kolonialisme, era kemerdekaan sejak dari rezim Orde lama, rezim orde baru sampai pada era reformasi yang selalu mengatasnamakan dirinya sebagai yang paling demokratis. Korupsi begitu subur hingga negeri ini mendapatkan predikat sebagai salah satu Negara terkorup di dunia.

Baca Juga:  Pemimpin Harus Bersikap Lemah Lembut

Yang paling mengherankan adalah mereka yang tertuduh dan terbukti berbuat korupsi seakan tidak memiliki beban atau rasa malu sama sekali. Tampil pede di hadapan publik dengan rona muka batu yang tak tahu malu. Padahal telah mengangkangi ajaran agama yang berarti secara tidak langsung menginjak-nginjak al Qur’an sebagai kitab suci.

Peringatan Keras Islam Terhadap Koruptor

Allah mengutuk dan mengancam para koruptor dengan siksa yang dahsyat dan pedih. Koruptor adalah mereka yang memperoleh kekayaan dengan cara batil dan memakan uang yang menjadi hak orang lain dengan cara-cara yang haram. Allah berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

Janganlah kalian mendapatkan harta (yang bersumber dari) sekitar kalian dengan cara yang batil, dan (contoh lainnya) kalian perkarakan harta (yang batil itu) kepada para hakim sehingga kalian dapat menikmati sebagian harta orang lain dengan cara yang kotor, sementara kalian mengetahui (hal itu). (QS. al Baqarah; 188)

Secara tegas ayat ini melarang untuk memperoleh harta dengan cara batil; korupsi, suap, mencuri, menipu dan cara keji lainnya. Dalam konteks Indonesia, andaipun harta haram tersebut diputuskan oleh para hakim sebagai harta milik kita, pada dasarnya tetaplah harta yang haram. Hakim bisa saja dikelabuhi dengan fakta-fakta yang direkayasa. Namun Allah maha mengetahui.

Dalam sebuah riwayat hadis shahih dinyatakan bahwa Nabi Muhammad melaknat pelaku suap, baik yang menyuap ataupun yang menerima suap.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللهِ الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ

Artinya:

Diriwayatkan dari shahabat Abdillah bin Amr, beliau berkata, Rasulullah melaknat orang yang menyuap dan orang yang menerima suap. (HR. Abu Dawud)

Bagikan Artikel

About Khotibul Umam

Avatar
Alumni Pondok Pesantren Sidogiri