Sudah Siapkah Berjilab?

0
712
jilbab

Zaman sekarang sudah mulai banyak wanita yang memahami tentang pentingnya menggunakan jilbab. Meski tak sedikit juga dari wanita-wanita Indonesia juga berpendapat bahwa jilbab bagian dari mode dan gaya hidup. Model dan gaya jilbabnya semakin hari berkompetisi.

Tak sedikit juga wanita beralasan tidak menggunakan jilbab dikarenakan merasa belum siap. Mereka berasalan lebih ingin menjilbabi hatinya dahulu ketimbang menjilbabi auratnya (baca: memakai jilbab). Mereka seakan belum siap dengan konsekuensi berjilbab yang harus tidak sekedar menutup anggota badan, tetapi pandangan dan harkat martabat perempuan.

Perlu dipahami, sebenarnya antara aurat dan hati bukan pilihan, tetapi satu paket. Tidak ada alasan sebenarnya untuk memilih salah satunya. Ketika seorang perempuan ingin berjilbab sejatinya ia akan menutupi pandangan dan hati dari hal yang tidak diinginkan dalam agama.

Jilbab merupakan kewajiban muslimah yang bertujuan menjaga pandangan, kemaluan dn harkat martabat perempuan. Sama seperti ibadah yang memiliki tujuan. Artinya ketika tujuan belum siap dicapai bukan berarti ibadah itu ditinggalkan.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Dalam al-Qur’an Allah SWT Berfirman: “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin, ‘hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal karena mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al- Ahzab: 59).

Dari ayat ini sebenarnya jilbab tidak perlu menunggu hidayah. Sejak muslimah memutuskan kalimat syahadat sebagai ikrar keimanan sejak itu pula hidayah Islam itu telah mengalir. Allah tidak memerintahkan sesuatu jika tidak ada tujuan dan hikmah. Jilbab diperintahkan sebagai kewajiban, identitas dan menjaga harkat perempuan.

Sekali lagi tidak perlu menunggu hidayah untuk berjilbab. Kewajiban memakai jilbab tidak pernah mensyaratkan seorang wanita harus bersih hatinya. Bersih hati dan menjaga pandangan adalah tujuan berjilbab. Ketika seorang berjilbab bukan sekedar menutupi auratnya, tetapi belajar untuk membersihkan diri, hati, pikiran dan pandangan.

Ketika merasa jilbab sebagai kewajiban maka sejatinya muslimah harus memahami bahwa berjilbab adalah sarana untuk menahan dan menjaga diri. Menahan diri dalam arti ada pengingat untuk tidak melakukan tindakan yang dilarang oleh agama.

Dalam Qur’an Allah berfirman : “Katakanlah kepada wanita-wanita beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.’” (Qs. An-Nuur: 31).

Dalam konteks inilah, seorang muslimah harus berhati baik, berakhlaq baik dan berperilaku yang mencerminkan nilai keimanan dirinya. Tapi semua itu bukan syarat yang diberikan Allah untuk hambanya untuk berjilbab. Ini adalah kewajiban seluruh perempuan yang tidak bisa dimaknai kesiapan untuk memakai jilbab.

Ayat pertama tentang jilbab dalam sebagian ahli tafsir mengatakan turun dalam kondisi ketidakamanan sosial di mana perempuan selalu diganggu. Ketidakjelasan identitas antara budak perempuan dan yang merdeka. Jilbab menjadi identitas pembeda untuk menjaga perempuan.

Dalam konteks sekarang apakah identitas pembeda yang bertujuan melindungi itu masih dibutuhkan? Jilbab dalam konteks kekinian menjadi pembeda yang mudah untuk mengenali muslimah dan tidak. Di Indonesia yang mayoritas muslim mungkin tidak terlalu dibutuhkan masalah pembeda, tetapi ketika hidup di tengah mayoritas non muslim ia menjadi penjaga dan pembeda.

Dalam ayat kedua, jilbab ingin mendidik akhlak perempuan untuk mendidik akhlak yang mulia. Berjilbab berarti menjaga diri dari pandangan dan termasuk mengumbar perhiasan. Istilah perhiasan bukan diartikan sebatas perhiasan materi semata, tetapi menjaga perempuan untuk tidak menjadi obyek dari laki-laki.

Jilbab sebenarnya bukan hanya untuk melindungi perempuan dari gangguan pandangan laki-laki, tetapi juga melindungi perempuan sendiri dari pandangannya kepada hal yang dilarang dalam agama. Ada tanggungjawab hati, pikiran dan pandangan ketika berjilbab. Termasuk menjaga hati untuk tidak membenci kepada mereka yang belum memakai jilbab.

Jilbab tidak membatasi, tetapi mengajari dan mendidik perempuan untuk membersihkan pandangan, pikiran dan hati. Tidak ada alasan menunggu hidayah untuk berjilbab. Jika ingin menjadi muslimah yang diperintahkan menjaga pandangan dan melindungi dari pandangan, berjilbab adalah kewajiban dan pilihan. Memaknainya sebagai kewajiban dari Allah dan pilihan untuk melindungi diri dan menjaga harkat sebagai perempuan.

Terakhir, jangan terlalu banyak mikir jilbab model apa yang terbaik untuk dipakai. Tetapi pikirkanlah, akhlak seperti apa yang harus dipakai ketika jilbab dikenakan sebagai kewajiban.