tidak sukses
tidak sukses

Sudah Berilmu Tidak Sukses, Ini Penyebabnya

Memiliki kehidupan yang sukses dan bahagia merupakan mimpi yang di idam-idamkan oleh semua manusia. Dengan kesuksesan yang diraih, seseorang akan mudah menjalankan sesuatu. Untuk itu dalam mencapai kesuksesan orang akan berlomba-lomba berusaha melakukan yang terbaik yang ia miliki. Salah satunya dengan memilih tempat belajar yang terbaik.

Setelah usaha yang ia lakukan berhasil, seseorang akan tumbuh menjadi seseorang yang memiliki ilmu, kepintaran, dan kepintaran. Namun sayangnya, setelah ia mendapatkan ketiga hal tersebut ia tak kunjung merasakan kesuksesan dalam hidupnya.

Padahal seharusnya, dengan ilmu, kepintaran dan kemampuan yang dia miliki seharusnya ia dekat dengan kesuksesan. Artinya dalam menggapai kesuksesan seseorang tidak hanya dibutuhkan tiga poin diatas.

Menurut Habib Luthfi bin Yahya, Ilmu saja tidak cukup bagi setiap orang untuk mampu mencapai kesuksesan dalam hidupnya. Beliau menuturkan bahwa, “Akeh wong alim, jan alim tenan, tapi kenopo kok kurang mencorong ilmune” artinya, “Banyak orang alim, dan memang benar-benar alim, tetapi kenapa kurang bersinar ilmunya?”

Beberapa penyebab kenapa orang yang memiliki keilmuan yang tinggi dan besar kemampuannya namun tidak bersinar. Beliau menuturkan terdapat tiga hal yang menyebabkan ilmu atau kemampuan yang dimiliki menjadi tidak bersinar.

Pertama, kurangnya shalawat kepada Rasulullah SAW.

Allah menuliskan dalam Alquran surah al-Ahzab ayat 56, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Allah akan memberikan rahmat kepada orang yang bershalawat, dari malaikat berarti memintakan ampunan, dan jika dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat. Bacaan Sholawat yang disampaikan umat  baginda Rasul, maka fadilahnya akan kembali kepada pembacanya.

Baca Juga:  Adab Suami terhadap Istri dalam Membangun Keluarga yang Sakinah

Dari Abdullah bin Umar, dia mendengar Rasulllah SAW bersabda: “Jika kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin, kemudian bershalawatlah kepadaku. Sesungguhnya orang yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Lalu, mintalah kepada Allah wasilah untukku karena wasilah adalah sebuat tempat di surga yang tidak akan dikaruniakan, melainkan kepada salah satu hamba Allah. Dan, aku berharap bahwa akulah hamba tersebut. Barang siapa memohon untukku wasilah, maka ia akan meraih syafaat.” (HR Muslim).

Kedua, kurangnya silaturahim kepada ahlul bait Rasulullah SAW.

Dalam al-Qur’an melalui surah Asy-Syura ayat 23, Allah memerintahkan hambanya untuk mencintai ahlul bait. Dalam ayat tersebut disebutkan, “Katakanlah (wahai Muhammad): Aku tidak meminta upah kepada  kalian kecuali rasa cinta kepada kerabatku,” Dalam tafsir disebutkan bahwa yang dimaksud kerabat di sini adalah ahlul bait. Dengan demikian, jelas perintah memuliakan dan mencintai Ahlul Bait merupakan perintah langsung dari Allah yang wajib dipatuhi. Karena alasan inilah, dengan mencintai ahlul bait akan membuat terangnya ilmu yang kita miliki.

Ketiga, kurangnya berkunjung kepada para Aulia, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.

Salah satu syarat sukses menuntut ilmu adalah mendapatkan keridhaan seorang guru. Kiai Hasyim Asy’ari adalah seorang ulama besar bergelar pahlawan nasional dan merupakan pendiri sekaligus Rais Akbar Nahdlatul Ulama, dan juga merupakan salah satu contoh santri yang berhasil mendapatkan ridha kiai, sehingga ilmu yang dimilikinya bersinar terang dan beliau mampu menjadi orang besar.

Dari seorang kiai, kita diajarkan tentang gramatika bahasa Arab‎, fikih, logika, tasawuf, dan banyak lagi. Ilmu itu bukan sebatas pengetahuan, tapi juga membentuk kepribadian. Santri mengerti, bagaimana etika menghormati orang tua dan muda. Mereka memahami bagaimana harus bersikap terhadap orang lain, termasuk orang asing.

Baca Juga:  Pandangan Islam Mengenai Anggapan Tathayyur Pada Bulan Safar

Karena itulah pentingnya kita mengunjungi para aulia yang memberikan kita ilmu, kepintaran dan kemampuan supaya kita mendapatkan keridhoan dari beliau. Dan untuk kiai kita yang telah wafat, sudah sepatutnya kita berziarah kubur kemakam beliau untuk menghormati dan mengenang jasa beliau kepada kita.

 

Bagikan Artikel ini:

About wahyuningsih

Avatar of wahyuningsih

Check Also

padang mahsyar

10 Rupa Tampilan Manusia Penuh Maksiat di Padang Mahsyar

Padang Mahsyar merupakan tempat yang sangat luas di mana seluruh manusia dikumpulkan setelah mereka dibangkitkan …

ibnu al khwarizmi

Ilmuwan Muslim yang Dikagumi Penemu Facebook : Berjasa Besar terhadap Algoritma Media Sosial

Perkembangan media sosial dewasa ini melesat dengan cepat. Pilihannyapun beragam dengan hadirnya berbagai platform seperti …