tafsir UU cipta kerja

Tafsir Surah al-Qashash 76-77: Komparasi Nasehat Bani Israil dengan UU Cipta Kerja

Beberapa waktu yang lalu, Indonesia sedang ramai soal Undang-Undang Cipta Kerja atau lebih disebut Omnibus Law. Undang-Undang tersebut dirasa oleh berbagai pihak akan menyengsarakan kaum buruh dan rakyat kelas bawah. Terkait hal ini, Allah telah berfirman di dalam Alquran surah al-Qashash ayat 76 sampai 77. Lalu, apa implikasi surah al-Qashash dengan Omnibus Law?.

Pada tanggal 5 Oktober 2020, Dewan Perwakilan Rakyat RI (DPR-RI) mengesahkan Undang-Undang Cipta Kerja. Secara obyektif, Undang-Undang ini di klaim oleh beberapa kalangan disambut baik dan ada yang masih menilai buruk. Salah satu perwakilan ormas Islam yang terdepan menolak adalah Nahdlatul Ulama (NU).

Terkait hal itu, penulis mencoba membuka Alquran dan menemukan korelasi pada surah al-Qashash ayat 76 dan 77. Allah SWT berfirman:

إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ.

“Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”. [Q.S. al-Qashash: 76]

Ibnu Juraij berpendapat bahwa Qarun adalah saudara sepupu Nabi Musa A.S. Pendapat tersebut berdasarkan mayoritas Ahl al-‘Ilmi (Para Ahli Keilmuan Islam). Kemudian Ibnu Katsir meriwayatkan dalam kitab Tafsīr al-Qur’ān al-‘Adzīm, yaitu pendapat Qatadah Ibnu Di’amah.

Qatadah Ibnu Di’amah berpendapat; “Kami mengatakan bahwa dia adalah anak paman Musa A.S. Qarun dijuluki al-Munawwir karena suaranya bagus saat membaca kitab Taurat. Tetapi dia adalah musuh Allah lagi munafik, sebagaimana sikap munafiknya Samiri. Keserakahan dirinyalah yang menjerumuskannya ke dalam kebinasaan karena hartanya yang terlalu banyak.”.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Baca Juga:  Historiografi Islam

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. [Q.S. al-Qashash: 77)

Dua ayat diatas merupakan suatu kesinambungan. Secara garis besar, ini mengkisahkan perbuatan kaum Bani Israil dan Qarun. Qarun adalah seseorang yang dianugerahkan kekayaan oleh Allah SWT, namun pada akhirnya ia memiliki sifat pongah atau sombong.

Nasehat Bani Israil Kepada Qarun dan Kebijakan UU Cipta Kerja: Studi Komparasi

Umat Islam Indonesia — wa bil khusus anggota parlemen DPR RI — baiknya mentadabburi Alquran terlebih dahulu sebelum mengesahkan UU Cipta Kerja. Atau jika tidak mampu, baiknya adalah mendengar nasehat Ulama’. Ulama’ perlu dilibatkan agar kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan bersifat tidak menyengsarakan rakyat (mudharat).

Faktanya, anggota parlemen tidak melibatkan dan tidak mendengarkan nasehat para Ulama’. Ini adalah gambaran sistem negara sekuler.  Dimana negara jelas memisahkan peran atau fungsi agamawan untuk tidak ambil bagian atas Undang-Undang yang terbit.

Indonesia diberkahi oleh Allah dengan segala kekayaan. Baik dari kekayaan sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Hal-hal itu mampu menjadi sumber kesejahteraan rakyat, jika benar pengelolaannya. Tetapi, kekayaan ini hanya dikelola oleh sebagian kelompok kelas atas dan mementingkan individu atau kelompoknya sendiri.

Padahal, Alquran sudah menceritakan Bani Israil yang telah menasehati Qarun agar tidak membanggakan kekayaan. Kalimat “idz qāla lahū qawmuhū lā tafraẖ , innallāha lā yuẖibbu al-fariẖīn”, merupakan nasehat Bani Israil kepada Qarun. Ibnu Abbas memaknai kata al-fariẖīn sebagai orang yang membangga-banggakan diri.

Baca Juga:  Puasa Arafah Tidak Harus Sesuai dengan Hari Wukuf di Padang Arafah

Sedangkan Imam Mujahid memaknainya dengan sikap jahat dan sewenang-wenang. Sebagaimana sikap orang yang tidak bersyukur kepada Allah atas apa yang telah diberikan oleh-Nya. Ini sudah jelas, bahwa orang yang lupa dengan nikmat, rawan tidak bersyukur dan melupakan Allah SWT.

Secara obyektif, UU Cipta Kerja perlu dikaji ulang dan perlu melibatkan para ahli. Baik itu dari ahli ekonomi, lingkungan hidup, sosial, dan agamawan. Agar tidak ada kejadian lagi Qarun versi abad ini yang sewenang-wenang. Dan supaya NKRI menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafūr.

Wallāhu a’lam…

Bagikan Artikel

About Mubarok ibn al-Bashari

Avatar
Mahasiswa Pasca Sarjana UNUSIA