Tafsir Quran

Jika Salah Tafsir Surah al-Fath Ayat 29: Keraslah Terhadap Sifat Kafir

Surah al-Fath turun saat peristiwa Perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian Hudaibiyah merupakan peristiwa yang begitu fenomenal. Dimana umat Nabi SAW. melakukan ibadah umrah di tengah-tengah kegentingan permusuhan dengan orang-orang kafir. Dalam konteks sekarang, khususnya pada ayat 29, dijadikan dalil untuk menyikapi orang di luar satu keyakinan.

Karena dalil ini terkadang bisa menghapus sikap harmonis yang ditunjukkan Rasulullah kepada penganut agama lain. Bahkan bisa seolah menganulis ayat-ayat lain yang mencegah bersikap keras kepada mereka yang tidak menyerang dan mengusir umat Islam. Intinya, ayat inilah yang menjadi pengabsah segelintir kelompok untuk selalu bersikap keras terhadap Non-Muslim dalam segala konteks.

Lantas, bagaimana penafsiran yang sebenarnya?

Allah berfirman:

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” [Q.S. al-Fath: 29]

Tidak dipungkiri lagi, Muhammad adalah utusan Allah. Setelah Allah melakukan penegasan dengan kalimat muẖammadun rasūlullāh, Allah menggambarkan sahabat-sahabat Nabi yang keras terhadap orang-orang kafir dan saling menyayangi terhadap sesama Mukmin. Nah, pada kalimat asyiddāu ‘ala al-kuffār sering dimaknai dengan anti-kafir (dalam perkembangannya anti terhadap orang Non-Muslim).

Ibnu Katsir menakwilkan kalimat di atas semakna dengan firman Allah Q.S. al-Māidah: 54. Ayat di atas, sebagai gambaran orang-orang Mukmin yakni bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi lemah lembut dan saling berkasih sayang terhadap sesamanya.

Perlu diingat, ketika itu orang-orang Mukmin hendak masuk Kota Mekah untuk berumrah dan dalam keadaan tegang. Lalu bagaimana dalam konteks sekarang yang mana agama Islam sudah tersebar pasca era Nabi SAW dan para sahabat?

Baca Juga:  Maulid Nabi Muhammad Saw Sebagai Spirit Perbaikan Diri

Memang, masih ada yang belum memahami tafsir surah al-Fath ayat 29 ini. Memahami ayat-ayat Alquran haruslah kontekstual dan komprehensif. Mengenai ini, ada dua poin menurut Quraish Shihab dalam memaknai kalimat asyiddāu ‘ala al-kuffār.

Yang pertama, kata (كافر) kāfir oleh Alquran tidak selalu bermakna Non-Muslim. Kāfir itu bermacam-macam, dalam arti “Barangsiapa berbuat atau aktivitasnya bertentangan dengan tujuan agama.” Maka dari itu, bisa saja seorang Muslim dinilai  kāfir apabila ia berbuat kedurhakaan walaupun penilaian tersebut bukan penilaian-penilaian pakar hukum. Jika demikian, sikap keras dan tegas itu tidak hanya tertuju kepada Non-Muslim.

Yang kedua, andaipun ingin dipahami dalam arti sikap keras, maka itu dalam konteks peperangan dan penegakan sanksi hukum yang dibenarkan agama. Serupa dengan kalamullāh: “Janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah jika kamu beriman kepada Allah, dan hari Akhirat” [Q.S. an-Nūr: 2]. Kita harus merujuk ayat kedua dari surah an-Nūr untuk memahami perbedaan antara ra’fah yang dilarang oleh ayat ini dan rahmat yang wajib mengikuti seluruh aktivitas seorang Muslim.

Meneladani Sifat “Keras” Sahabat

Sifat keras dan simbol ibadah para sahabat Nabi digambarkan dalam Q.S. ayat 29 ini. Bahkan dalam kitab Taurat dan Injil sifat Nabi Muhammad SAW dan umatnya diumpamakan sebagai sifat yang mengagumkan. Hal ini termaktub pada Alquran:

تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ

“..Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin)..”

Terkait hal ini, Ibnu ‘Āsyūr merujuk ke Perjanjian Lama yang menyatakan:

Baca Juga:  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 37-38: Taubatnya Adam dan Ultimatum Allah

“Tuhan datang dari Sinai, terbit kepada mereka dari Seir. Ia tampak bersinar dari pegunungan Paran dan datang dari tengah puluhan ribu orang yang kudus, disebelah kanannya tampak kepada mereka api yang menyala. Sungguh ia mengasihi umatnya, semua orangnya kudus. Di dalam tangan-Mu lah mereka, dan pada kaki-Mu mereka duduk.”

Makna mengasihi umatnya serupa dengan kandungan ayat berkasih sayang sesama mereka. Sedangkan kalimat pada kaki-Mu mereka duduk, semakna dengan mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Ada semacam kesamaan antara Alquran dan kitab-kitab suci terdahulu. Memaknai ayat 29 ini seharusnya dengan pemahaman yang kontekstual dan secara komprehensif.

Dalam tafsir Ibnu Abbas, penggambaran khusus tertuju kepada sahabat yang turut menyaksikan Perjanjian Hudaibiyah. Di antaranya Abu Bakar, orang yang pertama kali mengimani kerasulan Muhammad, Umar bin Khattab yang keras terhadap orang kafir, Utsman bin Affan yang selalu mengasihi dan menyayangi sesama mereka. Kemudian pada lanjutan ayat: “Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud” (lebih condong kepada sifat Ali bin Abi Thalib), serta Thalhah dan Zubair yang mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya.

Konteks ayat di atas adalah saat itu orang-orang Mukmin menjadi musuh atas orang-orang kafir. Para ahli tafsir sepakat bahwasanya asbabun nuzul ayat di atas disebabkan peristiwa Hudaibiyah. Kemudian, kita perlu meneladani sifat keras para sahabat. Sifat keras dalam hal ini adalah mampu menghadapi kondisi umat manusia yang sangat kompleks. Setelah berabad-abad, Rasulullah SAW melalui para sahabat, tabi’in, dan para ulama, mampu menghadirkan Islam sebagai agama rahmat dan sudah seharusnya Muslim menjadi agen perdamaian.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Mubarok ibn al-Bashari

Avatar
Mahasiswa Pasca Sarjana UNUSIA