Tafsir Al Mumtanah 1

Jika Salah Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 191

 Sebagai ummat Islam yang kaffah, kita harus selalu dekat dengan Alquran. Alquran memiliki beragam tafsir yang telah disepakati oleh para ulama salaf kredibel dalam bidang penafsiran Alquran. Di sisi lain, penafsiran Alquran juga mengalami “gagal paham” atau “salah tafsir” yang dilakukan oleh kalangan tertentu dan membuat umat Islam bertanya-tanya.

Salah satu yang membuat publik bertanya-tanya adalah tafsir surah al-Baqarah ayat 191. Ayat 191 ini sangat sensitif. Apalagi jika disalahtafsirkan oleh ummat Islam yang tidak belajar secara spesifik tentang ilmu tafsir dan disiplin keilmuan Islam yang lain. Allah SWT berfirman:

وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ ۚ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ۚ وَلَا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّىٰ يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ ۖ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ ۗ كَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ

“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.[Q.S. al-Baqarah: 191]

Ayat diatas merupakan kalāmullāh yang bersifat amr (perintah). Ketika itu Rasulullah SAW dan ummat Islam sedang berperang dengan kaum kafir Quraisy. Namun, ayat diatas merupakan kesinambungan dari ayat sebelumnya yang berbunyi:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” [Q.S. al-Baqarah: 190]

Baca Juga:  Hikayat Para Penyerang Markas Polisi dan Pemaknaan Thagut dan Jihad yang Sesat

Abu Ja’far ar-Razi meriwayatkan dari ar-Rabi’ Ibnu Anas, dari Abu al-Aliyah sehubungan dengan takwil ayat 190 di atas adalah ayat yang menyangkut peperangan pertama di Madinah. Setelah ayat ini turun, maka Rasulullah SAW memerangi orang-orang yang memerangi dirinya dan membiarkan orang-orang yang tidak memeranginya.

Kemudian wajib direnungkan dan dipraktekkan dari ayat 190, dimana Allah berfirman: “Janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

Apa yang dimaksud oleh Allah SWT dengan “melampaui batas”?. Menurut Hasan al-Basri yang dimaksud melampaui batas yakni melakukan hal-hal yang dilarang dalam perang antara lain, mencincang musuh, curang, membunuh wanita dan anak, orang lanjut usia, para rahib dan pendeta-pendeta yang ada di dalam gereja-gereja. Hal ini juga dikatakan oleh Ibnu Abbas, Umar bin Abdul Aziz, Muqatil Ibnu Hayyan, dan lainnya.

Tafsir Al-Baqarah 191 Konteks Sekarang

Penafsiran ayat 191 dari Surah al-Baqarah faktanya dibuat alat oleh kelompok radikal berbaju agama untuk menciptakan ketidakharmonisan antar ummat manusia di dunia. Ditinjau secara historis, ayat 191 merupakan otoritas Allah untuk Nabi Muhammad SAW yang saat itu diperangi oleh kaum kafir. Namun, Allah memperingatkan janganlah melampaui batas!.

Dalam konteks sekarang, ummat Islam merupakan contoh ummat beragama di dunia yang meneladani sifat-sifat Nabi Muhammad SAW. Sifat Nabi Muhammad SAW adalah lembut, rendah hati, tidak tersulut emosi yang berlebihan. Kaitannya dengan ayat diatas, ketika itu dakwah Nabi SAW sudah dalam level keadaan “panas”.

Kita lihat ayat al-Baqarah ayat 192 dan 193:

فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ. وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ۖ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ

Baca Juga:  Rahasia Hidup Sehat Rasulullah

“Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.[Q.S. al-Baqarah: 192-193]

Ayat di atas sangat selaras dengan kondisi ummat Islam sekarang. Agama Islam awal (zaman Rasulullah SAW) merupakan agama minoritas. Sekarang, Islam sebagai agama mayoritas dipeluk oleh ummat manusia di belahan dunia. Agama Islam sudah besar, agama Islam sudah membawa pemeluknya sebagai ummat perdamaian, sebagaimana yang telah dicita-citakan oleh Nabi SAW.

Ada kisah dari Ibnu Umar ketika didatangi oleh dua orang lelaki mempertanyakan keikutsertaaan Ibnu Umar untuk berjihad dan lebih memilih ibadah Haji. Dua lelaki itu bertanya, “Hai Ibnu Umar, apa yang mendorongmu ibadah Haji satu tahun dan mukim satu tahun? sedangkan engkau meninggalkan jihad di jalan Allah? Padahal engkau tahu anjuran Allah mengenai berjihad itu?“.

Ibnu Umar menjawab, “Islam dibangun atas lima pilar, yaitu Iman kepada Allah dan Rasul-Nya, shalat lima waktu, puasa ramadhan, zakat, dan haji ke baitullah”. Kemudian mereka mengatakan, “Bukankah engkau telah mendengar firman Allah (Q.S. al-Hujurat dan Q.S. al-Baqarah 193)?“.

Ibnu Umar menjawab lagi, “Kami melakukannya di zaman Rasulullah SAW. yang pada saat itu Islam masih minoritas. Dan seorang lelaki Muslim diuji dalam agamanya. Adakalanya dibunuh oleh mereka (kaum kafir) atau disiksa. Ketika Islam jadi mayoritas, maka tidak ada fitnah lagi.”

Wallahu a’lam

Bagikan Artikel

About Mubarok ibn al-Bashari

Avatar
Mahasiswa Pasca Sarjana UNUSIA