meninggalkan shalat jumat

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 39: Analisis Term Kafir dan Hate Speech

Masih hangat di benak kita semua, bagaimana istilah “kafir” ini menjadi perbincangan heboh baik di jagat media maya maupun di dunia nyata. Pro dan kontra terjadi bukan terhadap definisi kata, akan tetapi seputar cara penyebutannya terhadap saudara yang berseberangan keyakinan dengan kita, baik itu keyakinan lintas agama ataupun sesama Muslim tapi beda pemahaman.

Berkat adanya fenomena ini, disengaja atau tidak pasti banyak di antara umat Islam yang mencari tahu dan mempelajari kembali term yang satu ini, mengenai definisi kata maupun penyebutannya, meskipun pada akhirnya perbedaan tidak bisa dihindari. Sebenarnya “kafir” bukanlah istilah yang sulit untuk dipahami, diskursus mengenai term ini sangat mudah dijumpai, tergantung dari sisi mana kita mengkaji dan memahaminya. Namun, pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini adalah tafsir Alquran.

Lalu bagaimana pendapat para Mufassir mengenai istilah kafir? Apakah penyebutan “kafir” terhadap saudara kita yang berbeda agama dengan kita termasuk hate speech? Berikut ini penjelasannya. Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” [Q.S. al-Baqarah: 39]

Penulis mengklasifikasi istilah kafir menjadi dua bagian, yaitu kafir secara teologi dan kafir nikmat (mengingkari nimat). Menurut Ahmad Warson Munawir dalam Kamus al-Munawir: Arab Indonesia terlengkap; kafir ialah al-satr wa al-taghthiyyah yang bermakna tabir, tirai atau tutup dan pengingkaran.  Artinya mereka terhalang, tertutupi dari kebenaran, mereka mengingkari datangnya suatu kebenaran dan mendustakannya.

Sedangkan menurut Quraish Shihab, kafir adalah tidak mengakui wujud dan keesaan Allah SWT. berikut kebenaran yang datangnya dari Nabi Muhammad SAW.  kata “كَذَّبُوۡا” pada ayat 39 Q.S. al-Baqarah mengindikasikan bahwa sejatinya mereka mengetahui dan mengerti, akan tetapi berpaling dan menolak.

Baca Juga:  Cara Menebus Dosa Ketika Kamu Terlanjur Menuduh Kafir, Bid'ah dan Munafik kepada Sesama Muslim

Orang-orang inilah yang akan kekal di dalam neraka bukan hanya sebab kafir, tapi karena pendustaannya terhadap ayat Allah. Pengertian kafir berikutnya yaitu kafir nikmat (ingkar nikmat) atau enggan bersyukur terhadap berbagai kenikmatan yang telah diperoleh. Lantas bagaimana dengan orang Muslim tapi kafir (ingkar) nikmat apakah kekal di dalam neraka?, Jawabannya tentu saja tidak.

Sesuai dengan sabda baginda Nabi Muhammad SAW: “Adapun, ahli neraka yang telah menjadi penduduk tetapnya, maka mereka tidak pernah mati di dalamnya, tidak pula hidup (karena mereka selamanya diazab). Akan tetapi terdapat beberapa kaum yang dijerumuskan ke dalam neraka disebabkan dosa-dosa mereka, maka mereka benar-benar mengalami kematian, dan apabila mereka telah menjadi orang, lalu mereka diberi izin memperoleh syafa’at.” [HR. Muslim dan Ibnu Majah]

Yā ikhwāniy fillāh, sungguh beruntung orang-orang yang di dalam hatinya masih terdapat iman meskipun kesalahannya bertumpuk dan dosanya segunung mereka akan mendapat tempat di dalam surga walau disiksa terlebih dahulu.

Hate Speech

Dalam Oxford Dictionary, hate speech  berarti perkataan yang mengekspresikan kebencian dan intoleransi terhadap kelompok sosial, umumnya berbasis ras dan seksualitas.

Mengutip pandangan Newton Lee, antonim hate speech adalah free speech (kebebasan berpendapat), efek dari hate speech adalah memicu adanya kekerasan sedangkan free speech menimbulkan perdebatan.

Lantas, apakah mengatakan “kafir” kepada orang yang berbeda keyakinan termasuk hate speech?. Jika dalam konteks ini keyakinan yang dimaksud adalah keyakinan dalam berislam, maka tolak ukurnya adalah Alquran dan Hadits serta ijma’ ulama’ dan qiyas. Selama pemahaman agamanya bersesuaian dengan keempat sumber hukum tersebut, maka tidak sepantasnya mengatakan “kafir” terhadap umat Islam yang memiliki pemahaman berbeda. Apabila penggunaannya kepada sesama orang Islam, hal ini termasuk kategori hate speech. Nah, bagaimana jika kepada yang berbeda keyakinan secara teologis?.

Baca Juga:  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 34: Kepribadian Kafir Warisan Iblis?

Di sinilah terjadi pro dan kontra, yang sejatinya merupakan hal wajar. Namun jika kita mengembalikannya kepada Alquran dan Hadits, tentu kita semua mengetahui bahwa penyebutannya memang begitu adanya dan itulah bahasa Alquran. Penggunaan kata kafir adalah istilah yang digunakan oleh Alquran ketika menyebut orang-orang yang menafikan keesaan Allah SWT dan kenabian Muhammad SAW.

Yā ikhwāniy fillāh, sebagai warga Negara Indonesia, kita harus mencontoh akhlak Nabi SAW. Beliau tidak menyebut kafir kepada sesama Muslim sebagai senjata mendiskreditkan kelompok. Realitas sekarang, Indonesia dihuni oleh berbagai warga Non-Muslim. Dan sebagai umat Islam, kita diajarkan untuk  berakhlak baik kepada sesama umat manusia.

Wallahu a’lam.

Bagikan Artikel

About Mubarok ibn al-Bashari

Avatar
Mahasiswa Pasca Sarjana UNUSIA