Tafsir Al Mumtanah 1

Jika Salah Tafsir Surah Al-Mumtahanah Ayat 1 : Al-Wala’ wal Bara’

Surah al-Mumtahanah adalah surah yang turun ketika Nabi Muhammad SAW berada di kota Madinah. Ada hal yang mengganjal ummat Islam, khususnya di Indonesia terkait surat al-Mumtahanah ayat pertama. Yaitu salah penafsiran oleh ikhwan kita sesama Muslim dan dijadikan dasar menjatuhkan sesama umat manusia.

Salah penafsiran juga berbahaya bagi kelangsungan hidup umat Islam di dunia. Penulis secara khusus akan menjelaskan asbabu an-nuzul ayat tersebut. Dan implikasi surah al-Mumtahanah ayat satu dengan aqidah al-wala’ wa al-bara’ sebagai pondasi penting dalam konteks sekarang.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ ..

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia..” [Q.S. al-Mumtahanah: 1]

Ayat diatas merupakan firman Allah SWT terkait kisah yang dialami Haṭib Ibnu al-Balta’ah. Haṭib adalah seorang lelaki dari kalangan Muhajirin dan juga termasuk ahli Badar (ikut dala Perang Badar). Dalam kitab Shaḥiḥain, Imam Bukhari dan Imam Muslim telah meriwayatkan dari Husain Ibnu ‘Abdu ar-Rahman, dari Sa’ad Ibnu Ubaidah, dari Abu ‘Abdu ar-Rahman as-Sulami, dari Ali bahwasanya Rasulullah SAW mengutusku bersama Abu Martsad dan Zubair Ibn al-Awwam.

Nabi SAW bersabda: “Berangkatlah kalian sampai kebun Khakh, karena di kebun itu ada wanita dari kaum musyrik membawa surat rahasia dari Haṭib Ibnu al-Balta’ah ditujukan kepada orang-orang musyrik.” Maka, saat menjumpai wanita tersebut, para utusan tadi menanyai dan menemukan surat yang dimaksud oleh Rasulullah SAW.

Ketika surat itu dibawa ke hadapan Nabi SAW, Umar Ibn Khattab naik darah hingga berkata: “Wahai Rasulullah, dia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin, maka biarkanlah aku memenggal batang lehernya !.” Kemudian Nabi SAW menginterogasi Haṭib, “Apa yang mendorongmu berbuat demikian?”.

Baca Juga:  Wayang dan Cara Walisongo Mengenalkan Ajaran Islam

Haṭib menjawab, “Demi Allah, tiadalah diriku kecuali orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku bertujuan ingin mempunyai jasa di kalangan kaum itu guna untuk membela keluarga dan harta bendaku. Tiada seorang pun dari sahabatmu, melainkan dia mempunyai kaum kerabat disana yang melalui mereka Allah membela keluarga dan harta yang ditinggalkannya.”

Mendengar jawaban Haṭib, Umar kembali naik darah dan tidak sabar ingin memenggal Haṭib. Lalu Rasulullah SAW bersabda: ” laisa min ahl al-badr ? (bukankah dia termasuk ahli Badar?). Rasulullah SAW melanjutkan, bahwa semoga Allah memperhatikan ahli Badar. Berbuatlah menurut kehendakmu, sesungguhnya aku telah memastikan surga bagimu. Atau aku telah memberikan ampunan bagimu”

Mendengar jawaban Rasulullah SAW, maka berlinanglah air mata Umar, lalu ia berkata, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Dari kisah diatas, ada beberapa yang bisa kita ambil pelajaran.

Pertama, Allah akan menjamin umat Islam atas keselamatan diri, keluarga atau kerabatnya. Kedua, Rasulullah SAW memaafkan Haṭib yang ingin berkhianat dengan kaum musyrik dan kafir di Mekkah. Dan ketiga, tidak bekerjasama dengan kaum kafir dalam hal menjatuhkan agama.

Aqidah Al-Wala Wa Al-Bara’ Sebagai Pondasi Ummat

Pada awal ayat di atas, ummat Islam disarankan tidak menjalin hubungan sangat akrab dengan orang kafir yang menjadi musuh Allah SWT. Prinsip ini juga ada dalam aqidah al-wala’ wa al-bara’. Bagaimana maksud ayat pertama dari surah al-Mumtahanah terkait aqidah al-wala’ wa al-bara’?

Al-Wala’ bermakna mencintai orang-orang beriman karena keimanan mereka, dalam bentuk menolong, memberi nasehat, memberikan loyalitas, membela, dan berbagai hak-hak persaudaraan lainnya yang wajib kita tunaikan. Sedangkan al-Bara’ dimaknai dengan tidak memberikan loyalitas kepada musuh-musuh Allah SWT, baik orang-orang munafik atau orang kafir secara umum, menjauhi mereka, dan memerangi mereka ketika orang-orang kafir tersebut memerangi kaum muslimin.

Baca Juga:  Pembangkang Wajib Diperangi!

Dalam konteks sekarang, aqidah al-wala’ wa al-bara’ perlu diluruskan pemaknaan yang mendekati sebenar-benarnya. Karena, ketika ummat Islam tidak memiliki ilmu, maka akan disesatkan oleh ummat Islam yang ekstrem. Yang bertujuan untuk memusuhi bukan malah menyatukan.

Pelabelan “kafir” ketika Islam masa-masa awal, yakni dakwah Nabi SAW. adalah suatu keniscayaan. Ketika itu, agama Islam belum diterima bahkan mengalami perlawanan oleh masyarakat dunia. Seiring berjalannya waktu, Islam kini hadir sebagai agama yang dipeluk oleh hampir lebih dari separuh penduduk dunia.

Di Indonesia, sebutan “kafir” sering dimaknai oleh berbagai ummat Islam terhadap kalangan Non-Muslim atau agama lain. Padahal, Rasulullah SAW. juga memiliki hubungan baik dengan orang Yahudi dan orang Nasrani.

Aqidah al-wala’ wa al-bara’ bukan berarti kita dilarang berteman dengan Non-Muslim. Al-wala’ wa al-bara’ bisa dimaknai dengan memperkuat Islam secara internal melalui pemahaman moderat atau menjadi ummatan wasaṭan. Kemudian meyakini seluruh agama mempunyai jalan kebaikan masing-masing. Atas dasar itu, ummat Islam harus menjadi contoh kebaikan ummat manusia di dunia.

Wallāhu aʿlam

Bagikan Artikel

About Mubarok ibn al-Bashari

Avatar
Mahasiswa Pasca Sarjana UNUSIA