tafsir UU cipta kerja

Jika Salah Tafsir Al-Maidah Ayat 44

Ada beberapa ikhwan bertanya, apakah selama ini kita berdosa karena di tinggal di negara Indonesia yang memakai hukum produk non-Islam?. Kegelisahan ikhwan ini disandarkan pada surah al-Maidah ayat 44 dengan tafsir yang sangat sempit.

Dasar ayat al-maidah 44 ini pula yang menjadi dasar dari kelompok Khawarij untuk menolak takhkim Khalifah Ali dan Muawiyah yang berujung pada tradisi mengkafirkan antar sesama muslim. Kali ini, muncul sebagian kecil kelompok yang menghidupkan tafsir khawarij untuk memecah belah persatuan umat Islam Indonesia dan di berbagai negara lainnya.

Jika salah tafsir atas ayat itu akan selalu muncul kelompok pembangkang layaknya kelompok Khawarij yang menjadikan dasar utama gerakannya melalui ayat itu. Lalu, bagaimana sebenarnya tafsir surah al-Maidah ayat 44 dengan konteks hukum di Indonesia?.

Allah SWT berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ ۚ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا ۚ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan (perkara) menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. [Q.S. al-Maidah: 44]

Baca Juga:  Dakwah dengan Pendekatan Rahmat, Bukan Laknat

Ayat diatas sering dipelintir dan diambil sebagian yakni pada kalimat “wa man lam yaḥkum bimā anzalallāhu faulāika humu al-kāfirūna”. Padahal, ada kesinambungan antar ayat dan kalimat-kalimat sebelumnya. Potongan kalimat dari ayat 44 surah al-Maidah ini, mengalami penyempitan makna oleh kelompok Islam yang ingin mengubah tatanan sosial masyarakat Indonesia yang multikultural.

Turunnya ayat di atas adalah rangkaian terkait orang-orang yang bersegera pada kekufuran. Yakni keluar dari jalur taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian mereka menelan kabar-kabar bohong atau hoax dan memakan barang yang haram.

Lihat pada ayat ke 41 sampai 43 surah al-Maidah. Asbabun an-Nuzul rangkaian ayat tersebut ialah orang-orang Yahudi melaporkan bahwa ada seorang lelaki dari kalangan mereka berbuat zina dengan seorang perempuan.

Kemudian Rasulullah SAW bertanya, “apakah yang kalian jumpai di dalam kitab Taurat mengenai hukum rajam?.”

Mereka menjawab, “Kami permalukan mereka dan mereka dihukum dera.” Namun Abdullah Ibnu Salam langsung menyanggah dan berkata, “Kalian dusta!, sesungguhnya dalam kitab Taurat terdapat hukum rajam.”

Lalu mereka mendatangkan sebuah kitab Taurat dan membukanya, lalu seseorang di antara mereka meletakkan tangannya pada ayat rajam, dan ia hanya membaca hal yang sebelum dan yang sesudahnya.

Maka Abdullah Ibnu Salam berkata, “Angkatlah tanganmu!”. Lalu lelaki itu mengangkat tangannya, dan ternyata yang tertutup itu adalah ayat rajam. Lalu mereka berkata, “Benar, Hai Muhammad!, di dalamnya terdapat ayat rajam.”

Hukum di Indonesia Berdasarkan Hukum Allah?

Kita semua tahu, di Indonesia menganut sistem hukum Eropa Kontinental atau Civil Law. Yakni hakim memiliki peranan yang besar dalam mengarahkan dan memutuskan suatu perkara. Harus diingat, Islam juga mewarnai hukum di Indonesia.

Baca Juga:  Mengenal Tafsir Ahkam : Menggali Hukum dari al-Qur’an

Ditinjau dari segi historis, hukum Islam sudah ada sejak Nusantara mengalami islamisasi oleh para penyebar agama Islam. Bahkan, Belanda saat itu mengakui hukum Islam.

Dalam buku Receptio a Contario: Hubungan Hukum Adat dengan Hukum Islam, Sajuti Thalib menulis bahwasanya para ahli hukum dan kebudayaan Belanda mengakui adanya hukum Islam di Indonesia sejak awal merintis koloni Hindia Belanda.

Kemudian pada perkembangannya, Indonesia yang dihuni oleh ummat Islam dengan berbagai madzhab yang dianut, sudah merepresentasikan hukum Islam. Kalangan Ahlussunnah Wal Jama’ah misalnya, mereka mempunyai empat pokok sumber hukum yaitu Alquran, as-Sunnah, al-Ijma’, dan al-Qiyas.

Namun, ada kelompok formalis syariat yang cenderung kaku dan menyempitkan makna tafsir dari surah al-Maidah ayat 44. Kita sebagai ummat yang mengikuti Nabi SAW. juga relatable dengan pengambilan hukum secara qawli dan manhaji. Jadi, intinya Indonesia sudah melaksanakan hukum Allah.

Hukum Allah selalu mengandung semangat keadilan dan kemashlahatan. Ketika hukum apapun bentuknya mengandung keadilan dan kemashlatan sejatinya itulah hukum yang sesuai dengan ketetapan Allah.

Indonesia adalah negara yang dibentuk dengan konsensus berbagai elemen yang beragam seperti Madinah yang diikat dengan perjanjian piagam Madinah. Menjaga perjanjian baik hukum dan aturan yang ada adalah sebuah kewajiban. Pengkhianatan dalam perjanjian adalah bentuk pengingkaran dan bughat yang sangat dibenci Allah dan Rasul.

Ketika menyandarkan pada Al-Maidah 44 dalam menolak hukum suatu negara, patut untuk mendengar ungkapan lugas Sayyidina Ali menyangkal pemikiran para pembangkang perjanjian dari kalangan Khawarij : itu memang kalimat kebenaran yang dimaksudkan untuk kebatilan. Benar tiada kekuasaan otoritas kecuali milik Allah tetapi mereka khawarij memaksudkan tiada kepemimpinan kecuali milik Allah Padahal kaum muslimin harus memiliki pemimpin baik maupun jahat.

Baca Juga:  Prediksi Puncak Covid-19, Inilah Pendapat Ibnu Hadjar Al-Asqalani tentang Berakhirnya Wabah

Wallāhu a’lām 

Bagikan Artikel

About Mubarok ibn al-Bashari

Avatar
Mahasiswa Pasca Sarjana UNUSIA