annisa pohan
annisa pohan

Annisa Pohan Salah Kutip Ayat Alquran, Yuk Simak Maksud Ayat “Fitnah Itu Lebih Sadis dari Pembunuhan” Agar Tidak Gagal Paham!

Istri Agus Harimurti Yudhoyoni (AHY), Annisa Pohan tengah menjadi sorotan publik karena salah mengutip ayat Alquran. Sebagaimana diketahui bahwa hal itu berawal dari cuitan di akun pribadinya @AnnisaPohan.

Dan fitnah lebih sadis daripada pembunuhan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 291).” tulis Pendiri Yayasan Tungga Dewi itu dalam akun Twitternya (25/7). Sontak, cuitannya itu menuai perhatian netizen. Seorang warganet melihat cuitan tersebut ada yang tidak tepat. Ia pun mengoreksi dengan mengatakan bahwa jumlah Surah al-Baqarah tidak sampai 291 ayat. “Maaf.. Cuma mau memberitahukan kalau surah Al-Baqarah hanya 286 ayat,” tulis akun @genreceh.

Alih-alih merivisi, Annisa Pohan justru menghapus cuitan tersebut dari laman Twitternya. Namun sebelum dihapus, cuitan tersebut sudah banjir kritik, bahkan ada yang berkomentar tak mengenakkan hati, seperti yang ditulis akun @Ari3Pras, sebagaimana dikutip dari suara.com (26/7). Ia berkomentar: “Ngaji tuh di masjid, di pondok, di majlis ta’lim. BUKAN Di SOSMED.” Dan masih banyak komentar lainnya.

Terlepas dari beragam komentar yang dilayangkan oleh netizen terhadap Annisa Pohan, ada hal yang lebih menarik dan subtansial, yakni penafsiran oleh para mufassir terhadap ayat dikutip tersebut. Namun sebelum itu, perlu diluruskan bahwa yang dimaksud Annisa Pohan itu adalah QS. Al-Baqarah ayat 191.

وَٱقۡتُلُوهُمۡ حَيۡثُ ثَقِفۡتُمُوهُمۡ وَأَخۡرِجُوهُم مِّنۡ حَيۡثُ أَخۡرَجُوكُمۡۚ وَٱلۡفِتۡنَةُ أَشَدُّ مِنَ ٱلۡقَتۡلِۚ وَلَا تُقَٰتِلُوهُمۡ عِندَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ حَتَّىٰ يُقَٰتِلُوكُمۡ فِيهِۖ فَإِن قَٰتَلُوكُمۡ فَٱقۡتُلُوهُمۡۗ كَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلۡكَٰفِرِينَ 

Artinya: “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.”

Fokus tulisan ini adalah pada kata “fitnah itu lebih kejam bahanya dari pembuhuhan”. Apa maksud di atas? Benarkah fitnah itu lebih kejam dari pembuhunan? Lalu, fitnah seperti apa yang dimaksud dalam ayat di atas kok sampai lebih bahaya dari menghilangkan nyawa seseorang?

Baca Juga:  Kembali Mengingatkan, Jihad dengan Perang Bukanlah Wajib Maqashid

Jika dipahami secara awam, ayat di atas seolah mengatakan bahwa dosa atau bahaya orang memfitnah itu lebih besar daripada membunuh seseorang. Dengan bahasa vulgarnya, lebih baik membunuh seseorang daripada fitnah orang karena dosanya lebih besar memfitnah. Makna fitnah ini berkonotasi pada fitnah yang berarti perkataan tanpa dasar yang ditujukan untuk mencela dan menjatuhkan martabat seseorang.

Benarkah logika atau argumentasi di atas? Untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita telisik lebih dalam dari beragam pemahan yang disampaikan oleh para ulama yang kompeten dan kapabel dalam hal ini, yakni ulama tafsir.

Sebelum mengupas lebih jauh, penulis hendak mengetengahkan arti ‘fitnah’ terlebih dahulu. Kata “fitnah” (فتنة) terulang sebanyak 60 kali dalam berbagai ayat dengan aneka ragam arti sesuai dengan konteks ayat (Yunahar Ilyas, 2003: 242). Misalnya, dalam QS. At-Taqabun ayat 15, fitnah disitu berarti ujian, bahwa harta dan anak-anak itu bisa menjadi ujian karena dapat menjadikan hati seseorang terguncang dan bahkan pindah haluan. Ada juga yang berarti bencana sebagaimana terdapat dalam QS. Al-Anfal: 25).

Ragam Penafsiran al-Baqarah Ayat 191

Ibnu al-Mandhur

Pengarang buku induk kamus bahasa Arab (Lisanul Arab) terkemuka, yakni  Ibnu Mandhurmenjelaskan:

وقوله تعالى: {وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ} [البقرة: 191] معنى الفِتْنة ههنا: الكفر، كذلك قال أَهل التفسير. قال ابن سِيدَه: والفِتْنةُ الكُفْر.اهـ

Artinya, “Firman Allah Ta’ala, ‘fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan’, ini bermakna kufur. Hal ini merupakan pendapat ahli tafsir. Ibnu Siyadah berkata: ‘dan makna fitnah (pada ayat ini) adalah kufur'”.

Ulama tafsir klasik seperti Ath-Thabari  memaknai QS. al-Baqarah 191 sebagai berikut:

يَعْنِي تَعَالَى ذِكْره بِقَوْلِهِ : { وَالْفِتْنَة أَشَدّ مِنْ الْقَتْل } وَالشِّرْك بِاَللَّهِ أَشَدّ مِنْ الْقَتْل

Artinya,” Firman Allah Ta’ala ‘Fitnah lebih kejam dari pembunuhan’ memiliki makna kufur, sehingga maknanya menjadi menyekutukan Allah lebih kejam dari pembunuhan”.

Baca Juga:  Hadis Sebaik-Baik Manusia ala Didi Kempot

Lebih lanjut, Ath-Thabari menjelaskan bahwa, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan itu maksudnya orang mukmin berbuat syirik pada Allah setelah sebelumnya berislam, itu lebih besar dosanya daripada memberikan bahaya dengan membunuhnya sedangkan tetap terus berada dalam agamanya.

Sementara Fakhrudin Ar-Razi (1149-1209) dalam tafsirnya, Mafatih al-Ghaib menjelaskan maksud QS. Al-Baqarah di atas sebagai berikut:

عَن ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ الْمُرَادَ مِنَ الْفِتْنَةِ (الْكُفْرُ بِاللهِ تَعَالَى) وَإِنَّـمَا سُـمِّيَ الْكُفْرَ بِالْفِتْنَةِ لِأَنَّهُ فَسَادٌ فِي الْأَرْضِ يُؤَدِّيْ إِلَى الظُّلْمِ وَالْـهَرْجِ وَفِيْهِ الْفِتْنَةُ وِإِنَّـمَا جُعِلَ الْكُفْرَ أَعْظَمٌ مِنَ الْقَتْلِ لِأَنَّ الْكُفْرَ ذَنْبٌ يُسْتَحِقُّ صَاحِبُهُ بِهِ الْعِقَابَ الدَّائِمَ، وَالْقَتْلُ لَيْسَ كَذَلِكَ، وَالْكُفْرُ يُـخْرِجُ بِهِ صَاحِبَهُ عَنِ الْأَئِمَّةِ، وَالْفِتْنَةُ لَيْسَ كَذَلِكَ، فَكَانَ الْكُفْرَ أَعْظَمٌ مِنَ الْقَتْلِ.

Maksudnya: Mengutip riwayat dari Ibnu Abbas, bahwa beliau mengartikan fitnah dalam QS. al-Baqarah 191 sebagai kufur kepada Allah Ta’ala. Mengapa demikian? Karena kekufuran itu akan membawa kerusakan di bumi ini lantaran mereka itu lekat kepada kedzaliman dan kekacauan. Dan didalam kekufuran itu terdapat fitnah. Sedangkan kekufuran itu lebih besar (dosanya) daripada pembunuhan karena kekufuran itu adalah dosa yang pelakunya berhak disiksa selamanya, sedangkan pembunuhan tidak seperti itu. Maka Kufur Kepada Allah adalah lebih besar dosanya daripada dosa membunuh.

Dalam kitab-kitab tafsir yang muktabar seperti karya Ibnu Katsir, Al-Alusi dan As-Suyuti juga mengartikan fitnah dalam Al-Baqarah di atas dengan arti musyrik, bukan fitnah sebagaimana yang dipahami dalam bahasa sehari-hari warga Indonesia. Tegas kata, makna fitnah sebagaimana terdapat dalam  QS. Al-Baqarah ayat 191 bukan fitnah sebagaimana kita pahami dalam bahasa Indonesia, melainkan fitnah dalam arti kekufuran dan kemusyrikan yang dosanya lebih besar dari pembunuhan. Ini sejalan dengan ayat lain seperti QS. An-Nisa ayat 48: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yangdikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”

Baca Juga:  Mimpi (dan) Kurban

Penjelasan yang lebih sederhanya disampaikan oleh Al-Mawardi. Dalam kitab Al-Nukut wa al ‘Uyun, ia mengatakan bahwa syirik yang berkonotasi dengan fitnah itu karena syirik mengakibatkan kerusakan sebagaimana fitnah. Syirik menjadikan seseorang rusak agama dan efeknya jauh sangat berbahaya. Dengan ini, mayoritas ulama tafsir sepakat bahwa maksud fitnah yang dikehendaki dari QS. al-Baqarah 191 adalah bermakna syirik.

Jadi, jika fitnah diartikan sebagai upaya tanpa dasar untuk menjelekkan dan menjatuhkan orang lain sebagaimana pemahaman dalam Bahasa Indonesia, maka dalam bahasa Alquran pengertian ini diistilahkan dengan term ‘ifkun’ (berita bohong). Hal ini, diantaranya, sebagaimana dijelaskan oleh Yanuhar Ilyas dalam bukunya, Tafsir Tematik. Bahwa, istilah yang digunakan oleh Alquran untuk menunjuk perbuatan buruk dengan cara menuduh dan menjelekkan orang lain tanpa dasar atau fakta yang kuat diistilahkan dengan ‘ifkun’, sebagaimana tercermin dalam firman-Nya:

إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلۡإِفۡكِ عُصۡبَةٞ مِّنكُمۡۚ لَا تَحۡسَبُوهُ شَرّٗا لَّكُمۖ بَلۡ هُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡۚ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُم مَّا ٱكۡتَسَبَ مِنَ ٱلۡإِثۡمِۚ وَٱلَّذِي تَوَلَّىٰ كِبۡرَهُۥ مِنۡهُمۡ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٞ 

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. An-Nur [24]: 11).

Dengan demikian, dapat ditariksebuah kesimpulan bahwa tak benar jika al-Baqarah 191 itu dijadikan pembenar (legitimasi) akan makna fitnah dalam arti sebagaimana yang kita pahami dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, fitnah dalam arti ini tidak lebih kejam dari pembunuhan.

Bagikan Artikel ini:

About Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag

Avatar of Muhammad Najib, S.Th.I., M.Ag
Penulis Buku Konsep Khilafah dalam Alquran Perspektif Ahmadiyah dan Hizb Tahrir

Check Also

perusakan masjid ahmadiyah

Perusakan Masjid Ahmadiyah Tak Sesuai dengan Syariat Islam!

Miris memang menyimak berita terkini terkait sejumlah massa yang merusak masjid milik jamaah Ahmadiyah di …

persatuan

Tafsir Kebangsaan [2]: Inilah Cara Islam Membangun Persatuan dalam Keberagaman

Realitas historis dan sosiologis menunjukkan bahwa umat Islam terdiri dari berbagai macam golongan (firqah), madzhab, …